Angkat Isu Hangat, ILS Adakan Diskusi Lintas Organisasi Hukum

Dosen FUFP Rahmat Sandi saat membawakan materi pandangan hukum wanita bercadar dalam perspektif Islam, bersama dosen FSH Fadli Andi Natsif di depan para delegasi organisasi hukum ternama dari berbagai kampus di Makassar. Jumat (16/03/2018)

Washilah – Independent Law Student (ILS) mengadakan diskusi lintas organisasi hukum yang bertajuk “Bercadar Dalam Pandangan Hukum Positif dan Hukum Islam”, yang berlangsung di warkop 52 Jl Tun Abd Razak, Gowa. Jumat (16/03/2018)

Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa Organisasi hukum, yaitu Alauddin Debate Association (AlDeba) dan Serikat Mahasiswa Penggiat Konstitusi dan Hukum (Simposium) UINAM, Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi (LeDHak) dan Asian Law Students Association Local Chapter (ALSA LC) Unhas, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (Himapsih) dan Study Club Bosowa Royal Justice Society (SC Borjuis) Unibos, serta Kesatuan Reaksi Intelektual Study Club (KRISC) UMI.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Fadli Andi Natsif mengungkapkan hukum positif bercadar tidak termasuk melanggar substansi fundamental dalam ajaran agama Islam.

“Negara telah memberikan kebebasan beragama dan perlindungan terhadap agama itu sendiri, juga mengakui aliran kepercayaan berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK)”, jelasnya.

Berbeda dengan dosen Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik (FUFP) Rahmat Sandi menyampaikan bahwa hukum bercadar dalam islam itu variatif.

“Dari empat mazhab yang kita akui sebagian berpendapat bahwa hukum bercadar itu adalah mustahab atau dianjurkan, sebagian berpendapat wajib dan sebagian lagi berpendapat dari mazhab malik yang hukumnya makruh”, ungkapnya.

Lanjut, ia juga menambahkan bahwa berdasarkan jumhur ulama, ada satu poin besar diwajibkannya bercadar bagi seorang muslimah, yaitu takut akan adanya fitnah.

Penulis : Suhairah Amaliyah/Rahimun
Editor : St Nirmalasari

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*