Mahasiswa KKN Sukses Gelar Proker Pengukuran Arah Kiblat

Foto bersama Mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar Angkatan 57 dengan Tim Fasilitator Ilmu Falaq Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), usai melakukan pengukuran arah kiblat di Masjid Takwa, Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba. Sabtu (03/02/2018)

Washilah – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan 57 UIN Alauddin Makassar, sukses menggelar Program Kerja (Proker) Pengukuran Arah Kiblat, yang bertempat di Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Sabtu (03/02/2018)

Kegiatan tersebut juga turut dirangkaikan dengan workshop pengukuran arah kiblat, yang difasilitatori langsung oleh pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), UIN Alauddin Makassar, dan dihadiri oleh Imam Masjid dan Imam Desa se-Kecamatan Rilau Ale, Kepala Desa, juga perwakilan tokoh masyarakat.

Koordinator Desa (Kordes) Mahasiswa KKN Desa Swatani, Rafi Zulfadhli mengatakan, Proker tersebut merupakan salah satu Proker unggulan, yang dicetuskan oleh mahasiswa FSH sebagai wujud implementasi keilmuan, yang didapatkan di bangku perkuliahan.

Rafi, Mahasiswa Jurusan PMI/Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) ini mengaku sangat antusias karena mengukur arah kiblat adalah suatu pengalaman baru baginya dan berharap agar Proker tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya yang dari jurusan berbeda jadi memiliki pengalaman baru untuk mengukur arah kiblat,” ujarnya.

Sementara itu, Pakar Ilmu Falaq Drs H Abbas Fadhil mengatakan, Mahasiswa KKN Desa Swatani merupakan satu-satunya posko, yang memprogramkan pengukuran arah kiblat di tempat pengabdiannya kepada masyarakat, setelah beberapa tahun silam.

“Dulu pernah ada program wajib mahasiswa KKN untuk mengukur arah kiblat, tetapi sempat stagnan karena permasalahan anggaran dan pergantian pimpinan,” ungkapnya.

Lanjut, ia berharap agar program-program seperti ini dapat terus dilanjutkan oleh mahasiswa-mahasiswa KKN di desa lain. Melihat antusias masyarakat, juga pentingnya menentukan arah kiblat yang benar di setiap masjid, karena merupakan salah satu syarat sahnya shalat.

Penulis: Eka Reski R.
Editor: Erlangga Rokadi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*