Puisi “Telinga dan Tangan” Oleh Habibi Fajar Sidik

Ilustrasi | Int.

Kala kau membuka telinga,
Kau tidak mendengar siksa.
Telinga yang mendengar berita gembira.
Tangan yang menerima upah.

Kala kau tutup telinga dengan tangan,
Tau tetap mendengar jeritan penderitaan.
Telinga yang gelisah mendengar siksa.
Tangan yang enggan mengulurkan pertolongan.

Telinga harus selalu terbuka mendengar penderitaan.
Ketika hati punya rasa peduli terhadap sesama.
Maka tangan berani terpotong demi kebenaran.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik (FUFP) semester III

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*