Opini: Ke(tidak)patuhan adalah Kreativitas

Askar Nur | Dok. Pribadi

Oleh: Azkar Nur

Rangkulan harapan dan masa depan menjadi pembuka hentakan kaki dalam membuka gerbang ideal yang bernama Perguruan Tinggi (kampus). Di tempat inilah banyak harapan yang digantungkan oleh para aset-aset bangsa di masa depan, dan para aset-aset itu biasa dikenal dengan sebutan Mahasiswa. Sosok terpelajar yang menyandang gelar Maha yang mengemban tanggung jawab besar di pundaknya untuk kemajuan negeri ini. Mahasiswa merupakan kumpulan-kumpulan orang terpelajar yang telah melewati beberapa fase kehidupan dalam dunia pendidikan yang diidentikkan dengan wadah pengembangan intelektualitas dan pengolahan diri untuk menjadi sosok pembaharu bagi bangsa dan negara. Itu merupakan sebuah tujuan dasar dari pada mahasiswa atau pendidikan itu sendiri. Negara ini bisa berdiri dengan gagah perkasa tidak terlepas dari pada peran para mahasiswa di masa lalu, Sebut saja Bung Karno, Hatta, Syahrir dan lain-lain. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa gemilang di Zamannya.

Bung Karno merupakan seorang mahasiswa Teknik, yang terkenal dengan jiwa oratornya. Sedangkan Bung Hatta adalah mahasiswa Ekonomi yang identik dengan Administratornya yang mampu membuat gagasan ideal dalam dunia pendidikan. Mereka kemudian-dengan gagasan-gagasan yang sangat luar biasa-mampu menggagas kemerdekaan Indonesia, bersatu dan berpadu demi kemerdekaan Indonesia. Indonesia bisa dikatakan lahir dari buah perjuangan mahasiswa di masa lalu. Segala hal yang menghalangi kehendak mereka untuk membangun negeri ini. Mereka selesaikan dengan daya intelektualitasnya.

Nampaknya, kondisi mahasiswa di masa lalu di jamannya Bung Karno dan Hatta agak berbeda atau bahkan sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Mahasiswa hari ini, layaknya jiwa-jiwa yang dilanda ketakutan, takut akan sebuah risiko menjadi mahasiswa seperti yang dilakukan oleh para Founding Fathers negeri ini yang dulunya seorang mahasiswa. Mahasiswa hari ini lebih mengarahkan identitasnya yang Maha ke arah kepatuhan dan ketundukan, karena mereka berpikir bahwa mahasiswa yang sebenarnya adalah mereka yang mengaktualisasikan intelektualitasnya dalam bentuk mematuhi aturan yang ditetapkan oleh kampus. Aturan pada dasarnya bukan sesuatu yang paten yang harus diikuti, melainkan harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana mekanisme penetapan aturan tersebut. Aturan yang berlaku di kampus hari ini, justru merupakan aturan yang menciutkan harapan dan mimpi-mimpi mahasiswa untuk perubahan atas negerinya, aturan yang menciderai esensi atau hakikat dari gelar Maha itu sendiri. Mahasiswa lebih dihadapkan dengan aturan yang mendukungnya untuk menjadi calon tenaga kerja di masa depan, bukan sebagai aktor perubahan dan penggerak kehidupan bangsa dan negara ini, demi memperoleh kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sebagai calon tenaga kerja di masa depan, mahasiswa diasah kemampuannya untuk menjadi buruh, taat pada jadwal, patuh terhadap aturan dan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar, sehingga kerapkali korban Drop Out (DO) berjatuhan dengan berbagai alasan, ada yang karena menentang aturan kampus yang tidak masuk akal dan menyalahi falsafah pendidikan, ada yang karena nilai yang buruk sehingga jalan satu-satunya adalah dikeluarkan, dan adapula yang terlalu lama tinggal di kampus. Hari ini iklim kampus tidak terlalu bersahabat dengan mahasiswa yang terlalu lama tinggal di kampus. Satu hal yang menyebabkan semua itu terjadi adalah sistem yang dinamai Akreditasi. Akreditasi merupakan senjata ampuh untuk menjaring mahasiswa sebagai bahan promosi dan juga akreditasi sebagai syarat pemenuhan pundi-pundi bantuan dari pemerintah yang sampai hari ini jumlah bantuan dari pemerintah yang masuk ke kampus setiap tahunnya tidak terdeteksi oleh siapapun kecuali yang berada digaris mereka.

Kondisi mahasiswa hari ini mirip dengan kawanan domba yang digiring sesuai keinginan aparat kampus. Kerapkali mereka terdiri dari kawanan massa yang digiring untuk memeriahkan acara yang dibuat oleh pihak kampus, seperti seminar di jurusan yang menjadikan mahasiswa sebagai peserta bayaran dengan metode pengabsenan di tempat seminar sebagai bayarannya, yang tidak hadir berarti absen di mata kuliah yang dialihkan ke seminar, meskipun mahasiswa pada umumnya tidak mengetahui jenis seminar apa yang mereka hadiri, tapi mereka lebih memilih diam demi satu absen, karena katanya, itu akan mempengaruhi nilai mereka, yang jelasnya, seminar yang dilakukan baik oleh pihak jurusan, fakultas maupun kampus adalah merupakan seremoni pelepasan program kerja mereka demi tuntutan LPJ sesuai dana yang cair entah berapa!.

Melirik lagi apa yang pernah dialami oleh para mahasiswa di masa lalu, seperti Bung Karno, Hatta dan Eko yang sudah menganggap ruangan kampus seperti kamar pribadi mereka, kelas jadi tempat uji gagasan. Tiap dosen ceramah. mereka sela dengan pertanyaan. Parkiran fakultas menjadi tempat romantis, “bercumbu mesra” dengan ketidak-adilan yang menjadi landasan protes, perkara kemanusiaan dihidangkan dan gugatan atas ketimpangan disuarakan. Namun berbeda dengan aroma kampus hari ini, ruang kelas sebagai tempat memproduksi robot-robot industri, menceritakan dongeng yang meninabobokan mahasiswa, menyajikan mata kuliah yang pasti dan tidak bisa lagi dipertanyakan oleh mahasiswa dan secara tidak langsung menganggap bahwa bumi ini diciptakan dalam kondisi jadi, tak ada lagi manusia yang menghuninya, siapa yang bertanya ataupun mengkritik dicap pembangkang, semuanya terlewati hingga sampai pada tahap pemberian tugas sebagai bekal yang harus dibawa pulang oleh robot-robotnya dan dikumpulkan keesokan harinya. Anehnya, si robot-robot itu memanfaatkan robot pula untuk menjawab setiap pertanyaan yang berupa tugas, tanpa harus mempergunakan akalnya untuk berpikir, hampir lupa, merekakan robot, jadi otomatis tidak punya akal. Selanjutnya, parkiran fakultas hari ini hanya dipenuhi kendaraan-kendaraan mewah karyawan, dosen dan mahasiswa. Tak ada ruang kosong membuat lingkaran untuk saling mengadu argument, hingga berakhir pemberontakan terhadap kezaliman kampus, itupun kalau ada, tapi melihat kondisi mahasiswa yang tak lagi mengedepankan budaya diskusi seputaran kampus dan problematika yang tengah dihadapi rakyat, melainkan lebih asyik berkumpul dengan teman-temannya sambil memperbincangkan persoalan fashion ataupun bisnis online yang tengah mewabahi kampus hari ini dan ada juga mahasiswa yang tak mau lagi berinteraksi ataupun ngobrol dengan temannya dengan alasan bukan muhrim dan kebanyakan mahasiswa yang seperti itu memilih-milih teman, mereka hanya ingin bergaul dengan mahasiswa yang memakai busana yang sama dan tempat diskusi mereka hanya di sekitar pelataran masjid. Tak ada lagi ruang kelas yang padat dengan debat, kuliah dilalui dengan cara sederhana: datang, dengarkan lalu pulang.

Melalui bisnis online, mahasiswa sudah pintar cari uang sendiri yang didukung dengan training wirausaha yang membuat banyak mahasiswa menjadi pebisnis dan pengusaha. Muda lalu kaya terus berkeluarga, sungguh potret hidup normal dan wajar padahal kondisi sekelilingmu sedang berjalan tidak normal, jika diperhatikan secara mendalam banyak kejadian-kejadian yang membuat rakyat harus bermandikan air mata seperti perampasan tanah, sawah yang hendak disulap menjadi bandara ataupun bangunan-bangunan lainnya, PHK di mana-mana, harga bahan pokok melambung tinggi, tarif listrik naik dll. Wajarkah hal itu terjadi? Siapakah yang harus membela rakyat yang menderita? Jawabannya adalah mahasiswa, perlu diketahui bahwa dari 100% biaya kuliah mahasiswa, 90% dibiayai oleh pemerintah yang notabenenya berasal dari uang rakyat dan 10% dari orang tua, apakah orang tua mahasiswa rakyat atau bukan? Yah rakyat, jadi mahasiswa 100% biaya kuliahnya dijamin oleh rakyat. Mahasiswa adalah orang yang dimandatir oleh rakyat untuk mengubah nasib mereka, lantas ketika rakyat menderita, apakah mahasiswa harus diam melihat orang yang membiayai kuliah mereka menderita? Rakyat adalah orang tua mahasiswa.

Kampus hari ini telah menjelma menjadi pusat pelatihan calon tenaga kerja di masa depan. Mendapatkan IPK tinggi, sarjana dan bekerja telah menjadi tujuan utama hadirnya kampus hari ini. Pada dasarnya, hal demikian boleh saja namun harus juga ditunaikan ‘Tujuan Regang’ dalam diri setiap manusia, dalam hal ini Mahasiswa seperti yang dibahasakan Bung Eko dalam bukunya Bergeraklah Mahasiswa. ‘Tujuan Regang’ merupakan suatu peristiwa yang menyentak dan mengganggu rasa puas diri dan mendorong cara-cara berpikir baru. Rasa puas diri dengan capaian IPK tinggi dan menjadi sarjana adalah pemikiran yang statis, jikalau pun demikian, apa yang akan dilakukan ketika telah sarjana dengan nilai yang memuaskan? Apakah keseharianmu nantinya akan diwarnai dengan pemujaan dan kepuasan terhadap gelar yang telah diperoleh? Tentu tidak pasti kamu mau bekerja, lantas mau kerja di mana dengan hanya membawa selembar kertas capaianmu selama kuliah?, Pastinya pihak perusahaan yang kamu tempati melamar pekerjaan membutuhkan pertanggung jawaban atas capaianmu dalam selembar kertas itu. Sementara dunia kampus yang pernah kamu huni selama beberapa tahun dalam memperoleh IPK tinggi kamu hanya cukup rajin masuk kuliah, mendengarkan cerita dosen, jangan membuat keributan dengan mempertanyakan mata kuliah, cukup diam saja, jangan membuat dosen tersinggung dengan kritikanmu, rajin kumpul tugas, ikut Mid dan Final Test dan pada akhirnya kamu akan mendapatkan nilai yang tinggi. Kesimpulannya, patuh dan tunduk terhadap dosen adalah kunci memperoleh nilai tinggi. Patuh dan tunduk terhadap dosen merupakan hal yang seharusnya dilakukan seperti yang selalu orang tua dulu katakan bahwa mengejek atap rumah gurumu saja, kamu tidak akan memperoleh keberhasilan. Namun hal demikian perlu direnungkan, tunduk dan patuh terhadap dosen boleh saja, asal bukan karena takut, melainkan karena memang mereka mengajarkan sesuatu yang berguna bagi dirimu dan orang lain. Tapi yang terjadi hari ini hanya mendorong mahasiswa menjadi pemuda-pemudi industry, yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa mengajarkan wujud kepedulian terhadap sesama dan anehnya lagi banyak mahasiswa, yang pergi kuliah hanya karena tuntutan kewajiban bukan karena keinginan dalam diri untuk menerima pengetahuan yang diberikan oleh dosen. Menyoal persoalan tentang ketundukan dan kepatuhan dalam kacamata Islam, secara generik Islam adalah sikap tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Ketundukan dan kepatuhan hanya kepada Sang Pencipta bukan kepada selain dari-Nya.

Sebenarnya, asumsi dasar dalam filsafat pendidikan atau dengan kata lain, asumsi diadakannya pendidikan dalam diri manusia dalam hal ini Mahasiswa dalam buku Bung Agus Nuryatno yang berjudul Mazhab Pendidikan Kritis, antara lain: (a) manusia diyakini punya kapasitas untuk berkembang dan berubah karna punya potensi dalam belajar, dan dibekali dengan kapasitas berpikir dan self-reflection; (b) manusia, sebagai makhluk yang tidak sempurna, punya panggilan ontologis dan historis untuk menjadi manusia yang lebih sempurna; (c) manusia, dalam Bahasa Colin Lankshear (1993) adalah “makhluk praksis yang hidup secara otentik hanya ketika terlibat dalam transformasi dunia”. Rasa puas diri terhadap nilai tinggi merupakan langkah yang telah keluar dari pada falsafah pendidikan. Manusia selalu memiliki potensi untuk berkembang begitupula Mahasiswa, hal demikian yang seharusnya diindahkan oleh para tenaga pendidik. Menjadikan atau menganggap mahasiswa sebagai makhluk yang statis berarti secara tidak langsung menyamakan mereka dengan pola hidup hewan yang setiap harinya mencari makan, tidur dll. Mahasiswa setiap harinya harus rajin masuk kuliah, mendapatkan nilai tinggi, sarjana dan bekerja tanpa memahami potensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa. Mendidik mahasiswa dengan metode seperti itu sama halnya menggiring kumpulan domba-domba ke arah sesuai kehendak si penggiring, tanpa menyadari bahwa mahasiswa adalah manusia yang tidak sempurna yang memiliki potensi untuk menuju ke arah kesempurnaan melalui panggilan ontologisnya. Panggilan ontologis yang dimaksud adalah panggilan alamiah dari dalam diri manusia untuk merealisasikan potensinya sebagai manusia secara penuh. Dalam proses “menjadi”, manusia diajak untuk secara terus-menerus memanusiakan diri mereka lewat menamakan dunia dalam aksi-refleksi dengan manusia yang lain.

Hal-hal tersebutlah yang harus dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswanya, bukan hanya memenjarakan pikiran mereka. Mahasiswa juga harus menumbuhkan kesadaran kritis dalam dirinya yakni bentuk pemikiran yang mencoba menyingkap fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya dan mengubahnya, bukan hanya menyaksikan semuanya terjadi seolah-olah semuanya berjalan normal. Mahasiswa harus senantiasa berpihak kepada rakyat, harus memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasikan ketidak-adilan sosial yang terjadi di masyarakat. Kuliah memiliki tugas yang mulai, bukan hanya sekedar rajin kuliah untuk nilai tinggi dan bekerja, melainkan membudayakan tradisi berpikir kritis dan melatih diri untuk berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan seperti yang tertera di Tri Darma Perguruan Tinggi.

Selanjutnya, Mahasiswa hari ini seharusnya menganggap setiap aturan dalam bentuk larangan yang dikeluarkan oleh pihak kampus menjadi ajakan bagi mereka untuk bergerak dan ketidakpatuhan terhadap aturan, merupakan kreativitas bagi Mahasiswa. Alangkah indahnya jika hal demikian terjadi di dunia kampus hari ini, setiap harinya akan ada pameran gagasan penolakan yang dilakukan oleh Mahasiswa, setiap sudut dipenuhi mahasiswa yang tengah mendiskusikan kondisi rakyat di berbagai penjuru dan setiap ruangan menjadi panggung argumen bagi mahasiswa terkait mata kuliah. Jika hal-hal tersebut diterapkan dalam dunia kampus, maka yakin dan percaya, kampus akan berubah menjadi tempat lahirnya ide-ide segar dan mahasiswa akan tampil sebagai Pemuda-pemudi Pembaharu, bukan Penguasa yang terus-terusan mengebiri kehidupan rakyat kecil.

“Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantra cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”. Pramoedya Ananta Toer (Minke, Tetralogi Buruh)

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) semester IX

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*