Opini: Jangan Menutup Pintu Pengetahuan Bagi Kami

Muh. Kurniadi Asmi | Dok. Pribadi

Oleh: Muh. Kurniadi Asmi

“Jangankan Syiah, Komunis pun saya terima di UIN Alauddin. Dan sudah berapa yang datang di UIN, yang humanis, yang Komunis, yang tidak ada masalah sama saya. Saya terima semua,” Prof. Musafir (Rektor UIN Alauddin Makassar)

Pernyataan tersebut menjadi viral di media setelah pernyataan mengejutkan itu disampaikan Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Musafir Pababari, saat berdialog dengan Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Indonesia Timur, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Sulawesi Selatan, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muslim Makassar, Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI), dan Forum Arimatea Sulsel, di ruang kerjanya di Kampus II UIN Alauddin Samata, Kabupaten Gowa, pada Rabu (27/12/2017) dikarenakan kedatangan Ghasem Muhammadi dan Ebrahim Zargar, dua pengajar dari Al Mustafa International University of Iran, yang menjadi pembicara di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin.

Pertama, saya ingin berterima kasih terhadap respon para netizen tentang pernyataan Rektor UIN Alauddin itu. Dan juga saya berterima kasih kepada lembaga yang telah memperingatkan Rektor kami (UIN Alauddin). izinkan saya mengawali tulisan ini dengan pernyataan dari Imam al-Ghazali “Bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong)”.

Universitas adalah laboratorium pengetahuan. Melarang Syiah masuk dalam kampus berarti itu sama dengan menghalangi satu pintu pengetahuan bagi mahasiswa. Dan menghalangi satu pintu pengetahuan adalah kesalahan dalam bidang akademik.

Saya ingin mengajak pembaca rekreasi pengetahuan sejenak tanpa tendensi ego. Bagaimana kalau Universitas mempelajari ilmu anatomi yang notabenenya tentang tubuh? Menyaksikan organ dan kelamin. Apakah salah?

Bagaimana jika mahasiswa mempelajari ilmu tentang seksualitas ataupun ilmu Kedokteran, tata cara memasukkan kelamin lelaki ke dalam kelamin perempuan agar dapat memiliki anak. Apakah salah?

Bagaimana dengan karya ilmiah M. Syarif. Nur. S.Ag. M.Ag Studi kritis terhadap pandangan Ijtihad Sunni dan Syiah dalam Fiqh Islam, Tesis Pemikiran Islam IAIN/UIN Alauddin Makassar, 13 Desember 2001. Dan karya ilmiah lain yang lebih kontroversi. Apakah itu salah?

Jika itu salah, maka apalah gunanya Universitas atau sekolah tinggi itu diadakan? jika ia dilarang dan dianggap salah melakukan pengkajian terhadap problematika masyarakat. Apa gunanya mengadakan jurusan perbandingan mazhab, studi agama-agama, kedokteran, sains dan tekhnologi? jika kita dilarang mengais-ngais kebenaran dan bukti-bukti sesuatu itu dipersalahkan.

Di dalam kegelapan kau tak dapat membedakan kursi ini dibuat dari kayu jati atau kayu lain. Di dalam kegelapan kau tak akan mengetahui warna dan hal lain dengan jelas. Maka kau butuh cahaya, dan ilmu adalah cahaya. Yang menampakkan, pembeda, penjelas, pengurai dan fungsi lainnya. Maka siapa yang menyalahkan sesuatu tanpa ilmu di dalamnya itu adalah sebuah kekeliruan. Apakah kami disuruh untuk mengatakan sesuatu dengan apa yang kami pun keliru di dalamnya? Perbuatan tanpa ilmu adalah kesombongan. Apakah kami disuruh menyalahkan kiri kanan tanpa kualitas ilmu yang kami miliki dan tikar kesombongan kami hamparkan secara luas?

Para mahasiswa di kampus-kampus itu adalah sang peniti cahaya, ia mesti objektif dalam memandang sesuatu yang belum ia pelajari. “TERMASUK SYIAH”.

“Katakanlah, Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

Lalu kenapa kami seolah dilarang untuk mengetahui (mempelajarinya)?. Tentang salah dan benar (seorang pelajar mesti mengesampingkannya untuk mendapat objektifitas pengetahuan).

Para mahasiswa itu adalah perbendaharaan pengetahuan bangsa, maka sebelum ia mengatakan salah atau benar ia mesti mempelajarinya untuk menghindari fanatik buta.

Di hadapan ilmu pengetahuan, manusia mesti menghilangkan ego untuk mempelajarinya. Dan mahasiswa serta universitas adalah laboratorium pengetahuan. Jangan halangi kami mempelajari apapun dengan tingkatan epistimologi. Seolah kau paling benar dan kami salah saat mengais kebenaran di dalamnya.

Jangan halangi kami menjadi Rahmah bagi seluruh manusia, tak usah mentendensi kami soal sikap toleran yang menerima perbendaan pendapat dan pendekatan. Ini Universitas Islam; Perbendaharaan qalam semesta alam.

Kami mendukung Rektor kami!

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester IX

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*