Opini: Itu Penjual Obat, Ini Farmasi!

Sumber: Int

Oleh: Annisa Ika Muhri Jannah

Masyarakat saat ini, mereka lebih mengenal profesi tenaga kesehatan yang berupaya memberikan pelayanan secara langsung, karena dianggap mampu menenangkan dengan dalih hanya kontak dengan pasien terkait. Mereka menganggap seperti dokter, perawat, dan bidan adalah pemeran utama dari selamatnya nyawa mereka, sehingga tidak menyadari bahwa banyak pemeran lainnya yang memiliki tugas penting dibalik keselamatan pasien. Pemeran lainnya justru bekerja dengan sangat keras untuk memilah keputusan terbaik, sesuai kompetensi di bidangnya masing masing. Sayang, karena tidak terlalu nampak kerja kerasnya, sehingga masyarakat memandang sebelah mata. Akibatnya dalam pembicaraan masyarakat, jurusan atau profesi tersebut terkucilkan dan jarang yang tahu.

Permasalahan ini tidak serta merta mencuat dipermukaan tetapi ada hal yang menjadi sebab eksistensi farmasi ataupun apoteker masih dipertanyakan. Masyarakat berpikir bahwa eksistensi apoteker sama dengan penjual obat yang sering ditemui pada pedagang kaki lima, pasar mingguan, ataupun toko-toko ilegal yang menjual murah obatnya.

Untuk menguji apakah betul jurusan farmasi sering disalah artikan tugasnya, kita bisa bisa melakukan reportase dengan mempertanyakannya kepada masyarakat ataupun mahasiswa yang ada dikampus kita, dari jurusan yang berbeda-beda. Pastinya kita akan menemukan beberapa ungkapan bahwa farmasi itu jurusan penjual obat, sama dengan yang ada dipasar atau di toko. Realita yang terjadi di apotik rumah sakit atau puskesmas juga nampak demikian, apoteker dicampakkan karena kurang melalukan advokasi dan sosialisasi terkait obat yang diberikannya, sehingga eksistensi dokter lebih unggul dihadapan masyarakat karena masyarakat lebih cenderung untuk berkonsultasi kepada dokter dibandingkan kompetensi yang lebih paham dibidangnya. Tentu menjadi masalah serius ketika ilmu yang didapatkan terkait penggunaan obat tidak mampu di implementasikan padahal susah payah untuk mempelajarinya.

Banyak masalah yang masih membayangi prospek dari farmasi. Sekelumit permasalahan kecil namun besar dampak yang dirasakan mahasiswa jurusan Farmasi sehingga terkadang membuatnya dimentahkan perannya di masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah jurusan farmasi atau orang berkepentingan didalamnya sudah berupaya mencarikan jalan keluar untuk masalah tersebut. Bukankah problematika ini menurunkan kepercayaan masyarakat perihal peran apoteker apalagi studi farmasi yang ada dikampus? Kabar yang beredar apakah harus didiamkan begitu saja tanpa tindak yang jelas? Pertanyaan itu yang mestinya harus dijawab dengan aksi nyata dari organisasi profesi dan lembaga kemahasiswaan yang ada di lingkup kampus. Namun dilapangan menunjukkan bahwa sistem Satuan Kredit Partisipasi (SKP) yang diterapkan oleh organisasi profesi masih saja belum terlalu maksimal untuk menumbuhkan kepercayaan diri profesi apoteker dan mahasiswa farmasi. Seminar atau workhshop yang diadakan lebih cenderung melihat tantangan era modernisasi tapi melupakan efektifitas profesi untuk berdiskusi secara baik dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya untuk mendapatkan informasi obat yang dibutuhkan. Sistem pengawasan yang diterapkan untuk mengatasi peredaran obat ilegal atau produk kosmetika juga masih sulit untuk dikontrol. Misalnya saja terkadang kita menemukan produk ilegal seperti bedak racikan yang jelas tidak teregistrasi dan terverifikasi oleh lembaga berkewajiban yang dipasarkan oleh pemilik apotik. Lebih parahnya lagi produk seperti itu tersebar di toko atau pedagang kaki lima yang ada dipasar. Tentunya menjadi pertanyaan bahwa upaya advokasi IAI baik cabang dan pusat belum maksimal, dan masalah itu menjadi salah satu sebab pemikiran masyarakat masih buram tentang profesi apoteker.

Wajar saja jika masyarakat memiliki paradigma teruntuk jurusan farmasi disamakan dengan penjual obat. Mereka melihat apa yang terjadi dan mereka rasakan. Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan tetapi untuk memberikan gambaran dari sekelumit masalah yang wajib ditindaki. Solusi terkait SKP mestinya bukan seperti seminar tetapi pelatihan yang berkelanjutan agar mahasiswa atau profesinya mampu menjawab tantangan zaman dengan melihat kebutuhan masyarakat. Karena yang terpenting dari formulasi yang kita buat adalah sebisa mungkin masyarakat bisa paham penggunaanya, atau informasi terkait lainnya. Dengan begitu masyarakat juga bisa membedakan yang mana sih penjual obat dan yang mana sih apoteker. Dengan begitu jurusan farmasi bisa memiliki eksistensi yang baik dimasyarakat dan tidak dimentahkan kedudukannya sebagai penjual obat.

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar semester V.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*