Opini: Berani Sekolah, Berani Bertani

Ilustrasi | Wacana.co

Oleh: Sri Wahyuningsih JS

Penulis saat ini merupakan mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), Angkatan 56 UIN Alauddin Makassar di Dusun Balang Buki, Desa Tonasa, Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. Sebuah desa yang terletak kurang lebih 100 KM dari Kota Makassar yang dalam sektor pertanian dikenal sebagai penghasil berbagai macam sayur-mayur, seperti tomat, kentang, wortel, daun bawang, jagung, cabai, hingga kol.

Setelah pemberangkatan pada awal November 2017 yang lalu, penulis banyak mendapatkan kesan. Salah satunya ketika berkesempatan berbagi dengan pelajar di salah satu lembaga pendidikan setingkat sekolah menengah pertama (SMP). Melihat tidak adanya lembaga pendidikan setingkat sekolah menengah atas atau sederajat, penulis dan rekan mahasiswa yang lain lalu bertanya akan ke mana setelah menamatkan studi di Mts? Harapan akan jawaban lanjut di SMA atau sederajat dengan akses terdekat ataupun di lembaga pendidikan unggulan di daerah lain melesat jauh. Sebagian pelajar menjawab tidak lanjut dengan alasan ingin bertani saja. Hal yang menyuratkan persepsi tentang lebih baik bertani daripada sekolah. Atau dengan kata lain, menjadi petani tak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Berangkat dari hal tersebut, sepatutnya kita khawatir. Sebab jika generasi pelanjut bangsa telah memandang pendidikan bukan lagi sebagai kebutuhan, maka nasib bangsa adalah taruhannya. Bagaimanapun, pendidikan merupakan salah satu indikator yang berperan penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Ia merupakan wadah dibentuknya generasi dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

Adanya persepsi menjadi petani tak perlu sekolah tinggi tentulah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya, sebagian besar dari kita, utamanya generasi tua masih menjunjung tinggi bahwa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi hanya menghambur-hamburkan uang jika ujung-ujungnya jadi petani. Jika bisa bertani di usia dini lalu dapat menghasilkan uang, untuk apa bersekolah, toh ujung-ujungnya lulus studi hanya untuk mencari pekerjaan yang orientasinya adalah materi atau uang. Bukankah hal seperti ini yang kemudian membuat profesi petani akhirnya dipandang sebelah mata. Juga, membuat generasi muda termasuk lulusan-lulusan pertanian menjadi enggan dan lebih memilih menarget serta menggantungkan harapan mereka di instansi-instansi atau perusahaan.

Dalam hal ini, menjadi tugas bersama, utamanya bagi para orang tua dan tenaga pendidik. Petani adalah cita-cita yang mulia, yang memiliki misi besar dalam hal ketersediaan pangan yang merupakan kebutuhan primer ummat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sepatutnya kita senantiasa bertanya dan membayangkan, apa jadinya kita tanpa petani. Dari segala nikmat makanan yang kita santap untuk bertahan hidup, ada jerih payah para petani yang melawan panas dan hujan di dalamnya.

Sehingga menjadi kabar yang menggembirakan jika masih ada generasi pelanjut bangsa yang bercita-cita menjadi petani. Hanya saja, bekal pendidikan sembilan tahun tentu belumlah cukup untuk menjadi seorang petani sebagai sang penyelamat masa depan pangan yang akan mengelolah secara cerdas hasil pertanian. Pendidikan tetaplah yang utama. Bukankah, khususnya bagi kita yang Muslim telah jelas kewajiban menuntut ilmu di dalam Al-Quran dan hadits, salah satunya QS al Mujadalah : 11, manfaatnya bukan hanya di dunia, tetapi juga untuk akhirat.

Sekali lagi, tidak ada yang salah jika seorang yang telah menempuh pendidikan tinggi menjadi seorang petani. Justru sebaliknya, jika sektor pertanian diisi oleh petani-petani muda yang berpendidikan, bukan tidak mungkin akan lahir banyak penemuan-penemuan hebat. Seperti dalam hal mengelolah ladang, sawah, hingga produksi hasil tani secara lebih baik dari sebelumnya. Termasuk di dalamnya management pemasaran yang masih kurang diperhatikan.

Bagi orangtua, memberi kesempatan melanjutkan pendidikan merupakan sebuah kontribusi besar tanpa harus khawatir jika kembali ke ladang atau sawah selepas studi. Sebab, bukan tidak mungkin, peran mereka kelaklah yang akan memajukan sektor pertanian di daerah atau bahkan di Indonesia. Mari merenungi kata-kata ‘Dengan Ilmu Kita Menuju Kemuliaan’ dari Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional. Negara kita tercinta, Indonesia, membutuhan generasi yang mampu menyelamatkannya. Siapa lagi jika bukan mereka yang berkepribadian melalui pendidikan.

Mari generasi muda, sekolah lagi kemudian bertani kembali. Berani sekolah, berani bertani.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester IX

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*