Opini: 2017 ke 2018; Islam dan Kesejahteraan Rakyat (?)

Askar Nur | Dok. Pribadi

Oleh: Askar Nur

Tahun 1439 Hijriyah/2017 M yang penuh dengan pasang surut dan pasang naik dalam berkehidupan, tidak lama lagi akan menjadikan semua itu sebagai kenangan yang disampul menjadi sejarah kehidupan. Sekadar merefleksi kilas-kilas kejadian yang pernah terjadi baik dalam kehidupan bernegara dan beragama, rentetan sejarah kepedihan yang mendominasi yang dialami rakyat negeri ini sudah seharusnya menjadi perhatian bersama.

Sumber kepedihan berasal dari polemik perekonomian yang telah menjadi bidang signifikan hari ini. Mulai dari tingkat kemiskinan yang semakin meningkat, diikuti meluapnya kasus kriminalisasi, perampasan mata pencaharian ataupun hidup rakyat dan kasus-kasus lainnya yang mengundang perih dalam lubuk hati. Kedok developmentalisme yang dicanangkan sebagai poros penggerak negeri ke arah yang lebih baik tanpa memperhatikan sisi kesejahteraan rakyat, merupakan kemunduran yang mengintai negeri hari ini. Dari ekonomi liberal hingga ekonomi kapitalis (global) menjadi penyebab utama ketimpangan sosil terjadi, harga hasil panen yang dihasilkan dengan keringat rakyat menurun, sementara kebutuhan atau harga pokok meningkat tanpa pertimbangan.

Ideologi kompetisi sebagai produk asli dari pada kapitalisme yang dipertontonkan dari berbagai bidang yang ada utamanya bidang ekonomi, menciptakan pemenang dan pecundang. Pemenang akan selalu didominasi oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan berasal dari ekonomi atas dan yang akan menjadi pecundang adalah mereka yang berasal dari ekonomi bawah dan pendidikan seadanya. Maka jelas bahwa pecundang akan banyak tercipta karena melirik dari kemapanan para kaum pemenang yang menjadikan pendidikan tinggi sebagai salah satu indikator utama dan jelas, bahwa untuk menjangkau pendidikan dibutuhkan biaya yang tinggi, sementara rakyat yang dirundung kemiskinan apakah mampu membiayai pendidikan anak-anaknya yang membutuhkan biaya yang mahal? Tentu tidak.

Pendidikan merata dan mudah dijangkau oleh semua golongan menjadi buah bibir para pemangku kebijakan tapi entah, itu semua masih sekedar mantra mereka dalam menarik simpati rakyat. Kalaupun ada yang bisa dijangkau untuk sekedar masuk tapi yang menjadi persoalan selipan-selipan yang mengagetkan akan selalu ada seperti biaya kuliah yang naik setiap tahunnya tanpa indikator yang jelas sehingga banyak yang tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya.

Sementara zaman terus menikmati perkembangannya dengan nama-nama yang keren dan tidak dimengerti oleh kebanyakan, seperti saat ini namanya Globalisasi, yang menuntut perkembangan dan bagi yang tidak bisa maka akan tergilas. Globalisasi layaknya arena balap, kuda, sepeda, motor dan lain-lain bisa dikendarai, tapi yang menggunakan kendaraan yang canggih dan cepat sampai, maka itu yang menjadi pemenang balapan.

Sedikit menyinggung buku Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak yang mengutarakan bahwa bagi kaum muda yang berpikir bahwa mereka telah dibungkam oleh media dan diasingkan dari dunia: masa depan adalah milikmu. Kau adalah makhluk berakal. Capailah. Capailah. Capailah dengan cinta. Dari apa yang diutarakan mengundang sedikit respon, bagi kaum muda yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta didukung pendidikan yang mumpuni sudah menjadi keharusan untuk melakukan hal demikian dan juga didukung oleh pernyataan Freire bahwa ada dua ciri orang yang tertindas; orang yang mengimitasi perilaku orang yang dikagumi dari segi intelektualitas dan orang yang merasa bodoh dan tidak tau apa-apa dan merasa teralenasi dari dunia.

Setiap manusia memiliki potensi untuk berkembang dan fase perkembangan harus melalui poros perkembangan IPTEK. Namun bagi kaum muda yang tidak memiliki kapasitas dari segi pengetahuan dan pendidikan, apakah mampu mengikuti perkembangan zaman yang serba modern ini yang di tandai dengan kemajuan IPTEK?, banyak yang mengatakan bahwa mereka seperti itu karena berkembangnya budaya malas dalam lingkungan mereka. Orang yang mengatakan hal demikian adalah orang yang terlalu asyik dengan kehidupannya sendiri dan tidak pernah mengintip kehidupan kaum muda di daerah yang terpencil.

Mereka seperti itu bukan karena malas, tapi karena konstruk zaman yang tidak memberi kesempatan pada mereka. Mereka miskin dan tidak bisa mengakses pendidikan karena rata-rata pekerjaan orang tua mereka adalah buruh tani yang ketika tiba masa panen, hasil panen mereka harus bagi dengan pemilik tanah dan untuk menjual hasil panen mereka diperhadapkan dengan harga pasar yang murah yang tidak seimbang dengan kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga mereka hidup melarat sampai hari ini.

Selanjutnya, beralih ke konsep keagamaan hari ini, peristiwa yang kerapkali menjadi momen yang dibangga-banggakan ataupun untuk mencibir suatu kaum adalah Natal dan Tahun Baru. Beberapa argumen sering terekam di media persoalan larangan bagi suatu kaum untuk merayakan kedua momen itu dengan dalih yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan penyerupaan terhadap suatu kaum, ada yang mengatakan mereka yang merayakan adalah kafir dan lain sebagainya, lantas siapa yang seharusnya merayakan kedua momen itu?

Melirik dari sejarah yang dijelaskan oleh Ali Noer Zaman dalam bukunya Agama Untuk Manusia Hal.13-15 dengan landasan pertanyaan, apakah Al-Quran dan Islam membatalkan agama Yahudi dan Kristen? Maka agak keliru kalau kita mengatakan benar. Al-Quran tidak melihat dirinya sebagai penghapus agama Kristen dan Yahudi. Namun beberapa mufassir klasik, yang terlibat dalam taraf memberikan suatu identitas umat Islam yang independen dan eksklusif serta mereka yang tetap mempertahankan Islam sebagai versi yang tak berubah dari wahyu-wahyu sebelumnya, telah mengembangkan tafsir yang agak keliru untuk mengeluarkan pandangan teologi seperti itu. Maka terhadap Surah Ali Imran: 85, mereka memahami kata Islam sebagai nama yang tepat untuk agama historis yang dibawa oleh Muhammad, dari pada sekadar suatu nama umum untuk menunjuk pada sikap ‘ketundukan’ pada kehendak Allah. Demikian pula ayat-ayat yang menganjurkan toleransi terhadap ahli kitab dianggap telah dihapus oleh ayat-ayat yang menghendaki jihad melawan mereka.

Tentu, beberapa mufassir mencoba membatasi wacana universal Al-Quran, sekaligus tidak mendesak untuk menerima misi kenabian Muhammad. Karena persyaratan yang demikian merupakan bagian dari wacana picik. Wacana picik inilah yang membuat agama-agama lain telah digantikan dan fungsi kesalamatan agama-agama tersebut tidak berlaku lagi. Namun di dalam konsensus teologis ini pun, ada suatu penolakan yang terang untuk membatasi janji keselamatan Al-Quran pada penganut agama yang lain, yang sama-sama mendapat wahyu yang otentik. Sebenarnya, pluralisme agama yang dilihat oleh Al-Quran merupakan pemenuhan beberapa tujuan Allah untuk umat manusia. Bagaimanapun pada akhirnya adalah kepercayaan pada Tuhan yang telah ‘menanamkan dalam hati manusia’ nilai-nilai obyektif yang universal (Q.S. 9:18), dan mencakup semua manusia meskipun mereka mengikuti jalan-jalan tertentu yang diberikan pada mereka. Al-Quran memuji orang-orang yang terus berbuat kebajikan:

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lah kembalimu semuanya lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Q.S. 5:48)

Tibalah pada wilayah konsensus bagaimana seharusnya umat manusia mengambil sikap yang bijak dalam menelaah kedua momen itu. Setiap kicauan-kicauan yang timbul seharusnya dikonsumsi dengan alas pengkajian yang universal. Islam bukanlah sebuah komunitas yang pantas disandingkan dengan yang lain, Islam adalah agama Tuhan yang bersifat universal bukan lokal. Nabi Nuh, Ibrahim, Hud, Saleh, Musa, dan Isa semuanya merupakan nabi-nabi universal dan Nabi Muhammad sendiri di dalam Al-Quran diperintah untuk menyatakan pada orang-orang Mekkah, setelah menyampaikan perbedaan penting di antara kaum ahli kitab, “katakanlah (Muhammad): aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah” (Q.S. 42:15). Universalitas dalam Islam harus dijunjung tinggi.

Kedua, problematika yang tengah dihadapi umat manusia dalam bernegara dan beragama merupakan sesuatu yang harus segera dituntaskan. Problematika seperti itu justru akan membutakan kita terhadap realitas sosial yang tengah dihadapi rakyat negeri ini. Rakyat tengah dihimpit kelaparan dan kemiskinan dan kesenjangan sosial kian mewabahi tiap pelosok negeri ini. Tugas kita sebagai umat manusia yang sekaligus makhluk sosial adalah bagaimana kemudian memberi penyembuh luka yang tengah mengerogoti tubuh rakyat.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) semester IX

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*