Puisi “Doaku untuk Ibuku” Oleh Gufran

Ilustrasi | Tribunnews.com

Pernah sekali ku marah padanya.
Pernah sekali ku meninggikan nada suaraku di hadapannya.
Pernah sekali ku lawan perintahnya.
Pernah sekali ku tuli akan nasihatnya.

Tapi…Itu dulu, dulu sekali.
Ketika aku buta akan nafsu.
Ketika aku lupa akan ribuan tetesan air susu.
Ketika aku lupa basuhan air pertama dulu.

Saat datang ke dunia, kami sama,
Sama-sama meneteskan air mata.
Air mata kebahagiaan, lalu berhenti.
Ketika aku dalam dekapan hangat Ibundaku.

Bukan sekedar ibu bagiku, tapi juga sekaligus ayah dulu sekali.
Bukan cuma menasihati, tapi juga solusi.
Tak ada kata benci melainkan kasih.
Lelahmu tak terganti.
Banting tulang demi kami yang kadang tak tahu berterima kasih.

Pernah sekali, terucap doa kepada sang Ilahi.
Meminta kesehatan, kepintaran, ketegaran dan kesholehan.
Dan nama kamilah yang terdengar.
Tak satu doapun doanya untuk kebaikannya terdengar ikhlas bercampur serak suara itu.

Terimakasih atas nasihatnya mama,
Bahwa nafsu harus dilawan.
Bahwa air susumu adalah air terbaik.
Bahwa air matamu adalah bentuk cinta kasih yang hangat saat menyambutku pertama kali.

Doaku.
Tak sebaik doamu padaku.
Tapi yakinlah ikhlasku padamu adalah ikhlas terbaik yang bisa kupersembahkan.

Sehat selalu, bahagia selalu.
Pajang umur selalu, tak bersayap pun kau adalah malaikat bagiku serta keluargaku.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester III

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*