Opini: Pemanusia yang “Tidak” Memanusiakan

Muhammad Junaedi | Dok. Pribadi

Oleh: Muhammad Junaedi

Artikel yang berjudul “The Concept Of Equality in Education” yang ditulis oleh B. Paul Komisar dan Jerrold R. Coombs mengemukan perbedaan kandungan linguistic dari kata ‘Equality‘. Pertama equal as same, yang berarti persamaan yang benar-benar sama persis, dan equal as fitting yang berarti persamaan yang sesuai.

Equal as same mengandung makna, perlakuan yang diterima setiap anak selama proses pendidikan berlangsung sama persis dan tidak dibedakan. Adapun equal as fitting, merupakan persamaan perlakuan yang lebih ditekankan pada kebutuhan masing-masing individu. Selanjutnya, pada akhir artikel, kedua tokoh telah bersepakat untuk menggunakan makna equal as fitting pada equality.

Humanisasi dalam Pendidikan

Humanisme merupakan salah satu paham, yang banyak diamini dan diterapkan di dunia pendidikan dalam beberapa abad terakhir ini. Paham ini menganggap bahwa setiap anak memiliki latar belakang historis-antropologis-filosofisnya sendiri-sendiri. Selain itu, paham ini juga menganggap penting keunikan setiap individu, dan menghargainya lebih tinggi dari sederetan kontruksi positif guru dalam membentuk prestasi pelajar siswa.

Paulo Freira menyatakan pendapat yang kurang lebih sama, “Jika pendidikan merupakan praktek humanisasi, maka selayaknya pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat objektif atau subjektif saja, namun haruslah kedua-duanya, karena kesadaran subjektif dan kemampuan yang objektif adalah suatu fungsi dialektis yang ajeng (constant) dalam diri manusianya sendiri dengan kenyataan realitas yang sering bertentangan”.

Penghargaan kemampuan dasar setiap anak, menjadi modal penting dalam praktek humanisasi pendidikan. Kurikulum yang disusun dan praktek pelaksanaan pembelajaran, harus mengatakan kebutuhan anak, bukan kebutuhan pemerintah ataupun para pemangku jabatan di lembaga pendidikan. Setiap anak merupakan penentu dan subjek aktif proses belajar, bukan kotak kosong yang mudah terisi penuh dengan kutipan teks yang tertulis dalam buku pelajaran.

Coba saja kita urai sedikit, apa yang dilakukan Sosoku Kobayashi pada satu muridnya; Yasuaki Chan yang menderita polio. Pada suatu hari di pelajaran renang musim panas, ia meminta semua murid untuk berenang telanjang, baik yang bertubuh normal maupun yang cacat. Beberapa murid sempat protes karena risih, namun Sosoku Kobayasi ingin mengajarkan tidak pentingnya perbedaan ras di kolam renang. Yasuaki Chan yang badannya mengecil karena cacat pun akhirnya berhenti merasa rendah diri, dan berani menampakkan dirinya di depan orang lain. pentingnya ‘Kesetaraan’ dalam pendidikan karena setiap anak bukan masalah yang tidak dapat dicarikan solusi.

Gondrong VS Baju Ketat

Karl Marx pernah mengemukakan teori tentang kesetaraan sosial, dimana kelas-kelas sosial setara, tidak ada yang lebih menonjol, begitupun juga sebaliknya. Namun pada akhir abad ini, ummat telah melupakan teori kesetaraan sosial yang telah di kemukakan Karl Marx. Seperti dalam pendidikan di Indonesia yang jauh dari harapan Karl Marx dan hanya mengenal kekuataan pemangku jabatan.

Pendidikan tidak lagi menyamaratakan kemanusiawian laki-laki dan perempuan, laki-laki lebih diperhatikan kemanusiawiannya di kampus dibandingkan kemanusiawian perempuan, yaitu laki-laki yang berambut gondrong dan perempuan yang berpakaian ketat di kampus, cuma laki-laki yang berambut gondrong yang dilarang masuk kelas mengikuti mata kuliah dosen pengampuh tertentu, sedangkan perempuan berpakaian ketat bebas masuk mengikuti mata kuliah dosen pengampuh.

Padahal, lebih tidak manusiawi memperbolehkan seorang perempuan mempertontonkan lekuk tubuhnya kepada lawan jenisnya, dibandingkan laki laki yang berambut gondrong yang masuk kelas mengikuti mata kuliah dosen pengampuh tertentu. Tapi dosen pengampuh tertentu lebih memperbolehkan masuk kelas seorang perempuan yang berpakaian ketat dan tidak memperbolehkan seorang laki-laki yang berambut gondrong masuk kelas mengikuti mata kuliah tertentu.

Sementara di kampus UIN Alauddin Makassar, sudah mengatur perempuan yang berpakaian ketat, berpakaian tembus pandang, dan laki-laki yang berambut gondrong sama-sama melanggar -pelanggaran ringan- seperti yang tertulis di buku saku yang dibagikan saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (BPAK) pada halaman 93-94.

Namun dosen pengampuh tertentu di UIN Alauddin Makassar, memperbolehkan masuk kuliah seorang perempuan yang berpakaian ketat dalam mata kuliahnya dan tidak memperbolehkan seorang laki-laki yang berambut gondrong masuk kelas mengikuti mata kuliahnya.

Di UIN Alauddin Makassar cuma memperhatikan seorang laki-laki, untuk mengikuti aturan yang tertulis di dalam buku saku yang dibagikan saat PBAK dan tidak terlalu memperhatikan seorang perempuan yang berpakaian ketat dan tembus pandang, padahal perempuan yang berpakaian ketat dan tembus pandang sama derajatnya seorang laki-laki yang berambut gondrong.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik (FUFP) semester V

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*