Opini: Mahasiswa Pengejar “Cum Laude”

Alfiandis | Dok. Pribadi

Oleh: Alfiandis

Lulus dengan predikat cum laude merupakan cita-cita setiap mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, negeri maupun swasta. Tak sedikit mahasiswa yang mengagung-agungkan kelululusan dengan nilai tertinggi. Namun, apakah predikat cum laude akan menjamin kesuksesan di masa depan?. Sebagian orang bisa saja menjawab “Iya”, selebihnya akan mengatakan nilai saja tidak cukup, dibutuhkan komponen penunjang lainnya, pengalaman, kepercayaan diri dan keterampilan yang harus dimiliki.

Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa yang jauh dari kampung halaman, terutama bagi mahasiswa rantau yang meninggalkan kampung halaman dengan satu tujuan, yakni lulus dengan nilai Cum Laude. Ini juga belum tentu meraih kesuksesan karena hanya terfokus pada satu titik dan tidak memperhatikan betapa banyak di luar sana yang harus mereka lalui. Tidak hanya perjuangan hidup, tetapi juga persaingan serta kemampuan dalam mengarungi sebuah perjalanan hidup yang harus mereka tempuh sebagai cobaan hidup untuk melangkahkan kaki di dunia yang sementara ini.

Mereka yang hanya mementingkan nilai yang diberikan oleh dosen, yang “mungkin” bisa dikatakan penilaian yang tidak memiliki kapasitas dalam pembentukan karakter. Serta penunjang kesuksesan. Lalu kemudian, nilai yang dapat dimanipulasi yang tidak sesuai dengan realitas kemampuan mahasiswa, yang bisa dikatakan sebagai pembodohan. Meraka pulang hanya dengan nilai yang tinggi, namun tidak dapat teraplikasikan setelah berkecimpung di masyarakat luar.

Mahasiswa yang dulu kritis dan berbobot, kini telah dimakan zaman karena tidak adanya kemauan untuk merubah diri dan hanya mementingkan nilai, nilai, dan nilai. Setelah itu, mereka hanya memikirkan, bagaimana esok aku mengisi perut. Setelah perut kenyang tidak ada lagi yang dikhawatirkan. Entah perkembangan suatu bangsanya, ataupun kehidupannya di masa yang akan datang?.

Oleh karena itu, mengapa ketiga komponen pendukung ini diwajibkan ada? Pertama, komponen ini merupakan hal yang tidak akan jauh dari dunia kerja. Hari ini instansi, pun perusahaan, lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman serta pengetahuan luas, ketimbang mahasiswa yang memiliki nilai tinggi. Kedua, pengetahuan menjadi hal penting berikutnya, mungkin kita berpendapat, bahwa pngetahuan telah didapatkan di bangku perkuliahan atau pendidikan. Benar, namun pengetahuan yang di dapat di bangku perkuliahan terbatas. Karena mahasiswa hanya terfokus pada satu titik, yakni jurusan mereka. Jadi apa yang di dapat di perkuliahan?, maka hanya itu saja yang diketahui, dan akibatnya mahasiswa tidak dapat bersaing serta terbatas dalam pengetahuan. Pengetahuan yang lebih akan diperoleh dari luar kampus, baik membaca buku, diskusi, serta berorganisasi.

Ketiga, berbicara mengenai kepecayaan diri, banyak perspektif yang muncul dalam benak kita, namun kita akan mengkerucutkan ke penampilan. Mahasiswa yang mungkin tak memiliki kepercayaan diri lebih dalam hal tampil di depan umum, maka mereka tidak akan bersaing dalam dunia kerja. Mengapa demikian? Karena kebanyakan manusia sukses berbekal kepercayaan diri.

Hal yang paling penting selain tiga komponen di atas, yaitu kerja keras. Semua orang yang berhasil, tidak akan mendapatkan kesusesan semudah membalikkan telapak tangan, namun keberhasilan itu diraih dengan kerja keras dan ikhtiar ke sang khalik, sebagai bentuk rujukan manusia untuk selalu bertawakkal ke sang maha pencipta.

Tetapi, tidak dapat pula dipungkiri bahwa dengan nilai Cum Laude juga, bukan berarti tidak dapat menunjang sebuah kesuksesan. Namun ini merupakan satu langkah awal, untuk menuju sebuah kesuksesan. Memiliki nilai Cum Laude adalah pilihan dan pilihan untuk menjadi orang sukses adalah kerja keras.

Oleh karena itu, mahasiswa yang berada di rantau orang, jangan sesekali berhenti berkreatifitas. Jangan hilangkan julukan mahasiswa kritis yang berbobot!. Kita adalah generasi perubah bangsa, yang kelak akan merubah keadaan bangsanya, suatu pembelajaran hidup jauh dari keluarga yang harus berpikir, bagaimana cara bertahan hidup, karena dirataulah mahasiswa belajar banyak hal, mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang selalu memiliki akal dan jalan keluar, bukan akal yang memiliki mahasiswa.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester III

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*