Opini: Literasi Penawar Emosi

Adhe Junaedi Sholat | Dok. Pribadi

Oleh: Adhe Junaedi Sholat

Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis.

Di era yang serba digital ini masih banyak kalangan yang beranggapan jika orang Makassar (masih) berwatak keras dan cepat tersulut emosi. Anggapan tersebut diperkuat oleh banyaknya konflik sosial yang terjadi di kota Makassar. Kita tentu sepakat, jika memang situasi di kota Makassar sedang tidak baik-baik saja. Belakangan terakhir, di kota Makassar dihadapkan pada situasi konflik. Sebut saja, perseteruan antar pelaku transportasi berbasis daring dengan yang berbasis luring, juga para partisipan demonstran yang berujung bentrok dengan warga setempat, atau pemukulan yang terjadi terhadap mahasiswa yang dilakukan oleh oknum satuan pengamanan (satpam) di salah satu kampus islam negeri di kota Makassar.

Konflik tersebut semakin mempertajam rendahnya kesadaran sosial antar masyarakat di kota Makassar. Semakin ke sini, semakin pula hilang rasa persaudaraan. Jadi, tidak salah jika penulis Aan Mansyur pernah mengungkapkan, jika orang kota semakin hari semakin jahat. Ungkapan Aan tersebut bukan hanya gurauan semata, tetapi ia telah melihat dan merenungi keadaan yang sebenarnya terjadi di kota Makassar, selama hampir 20 tahun terakhir beliau menetap di sana.

Setiap konflik yang terjadi lantas menjadi topik utama media pemberitaan di kota Makassar. Bahkan, tidak sedikit pula media di seluruh kota di tanah air memberitakan hal yang sama. Situasi ini merupakan hal yang memalukan bagi masyarakat di daerah Makassar, terlebih tidak sesuai dengan budaya kita sendiri. Budaya Makassar dikenal dengan persaudaraannya yang kuat. Tetapi, banyak media luar yang senang memberitakan konflik sosial yang terjadi di sana, dan seolah-olah menjadikan kota besar lainnya bersih dari tindakan konflik sosial. Atau, kita bisa berasumsi bahwa pemberitaan tentang kota Makassar yang sarat akan konflik menjadi alat untuk menenggelamkan isu-isu KKN di kota besar lainnya di tanah air. Sehingga, setelah media bertahun-tahun bekerja seperti itu, masyarakat kota Makassar semakin tertendensi dalam arus konflik yang akan berdampak pada psikologis kita – berkarakter, berwatak keras dan cepat tersulut emsosi -.

Selain media yang dianggap mampu merubah karakter masyarakat kota Makassar di era milenial ini, juga ada hal yang sebenanrnya paling utama yang jarang diperhatikan, yaitu literasi. Kurangnya kesadaran akan literasi membuat kita akan menjadi tidak peduli dengan keadaan sosial di sekitar kita. Contohnya, jika kita “bodoh” kita lalu menjadi jahat, dan bahayanya jika kita pintar/cerdas kita memilih untuk tidak peduli dengan yang ada di sekitar kita.

Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Namun, banyak dari kita yang tidak memahami makna dan definisinya secara jelas. Sebab, memang literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang.

Menurut kamus online Merriem-Webster, literasi berasal dari istilah latin “literature” dan bahasa inggris “letter”. Secara umum, literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual.

Rendahnya literasi terbukti, dari sulitnya menemukan masyarakat yang membaca buku di tempat umum. Seolah pekerjaan membaca adalah hal yang menakutkan bagi kita. Lihat saja, ketika kita hendak membaca buku di tempat umum, kita seakan berubah menjadi orang asing, seakan-akan membaca buku merupakan hal aneh yang tidak dilakukan oleh orang lain di sekitar kita. Kita hanya bisa membaca buku di tempat-tempat tertentu seperti kamar pribadi atau perpustakaan. Anggapan itu pun yang membuat minat baca kita menjadi berkurang.

Padahal membaca buku merupakan pekerjaan yang mampu mengendalikan emosi pada diri kita. Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidup kita. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia (keadaan).

Karena kita jarang membaca buku sehingga berpengaruh kepada pemikiran kita akan situasi di kota Makassar. Kita akan terjerambak ke lubang apatis. Tidak peduli dengan siapa pun, meski saudara sendiri. Kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi membuat kita mudah terprovokasi, dan yang belakangan ini, kita mudah menelan mentah-mentah informasi yang kebenarannya tidak terbukti (hoax), lalu tersulut emosi. Sebaliknya dengan giat berliterasi kita dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Itu karena sifatnya yang “multiple effect” atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi dapat membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kriminal, dan yang terpenting terwujudnya perdamaian. Berliterasi adalah cara untuk kualitas hidup yang lebih baik.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar semester IX

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*