Opini: Hilangnya Kemahasiswaan Mahasiswa

Muhammad Junaedi | Dok. Pribadi

Oleh: Muhammad Junaedi

“Maksud baik saudara untuk siapa? Saudara berdiri di pihak yang mana? Kita juga bertanya: kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan! ataukah akan menjadi alat penindasan? Kita menuntut jawaban”

-WS Rendra/Sajak Pertemuan Mahasiswa

Runtuhnya spirit aktivisme mahasiswa pasca reformasi hampir mencapai titik nadir. “Boxing culture” gerakan mahasiswa bermuara pada pergeseran persepsi publik terhadapnya, dari simbol perjuangan aktivis menjadi simbol gerakan anarkis. Kultur hedonisme yang menjalar hampir di seluruh lapisan kaum muda semakin mematikan harapan intelektual di perguruan tinggi.

Organisasi-organisasi mahasiswa, baik intra, maupun ekstra kampus menjadi simbol dan tempat penitipan nama. Tengara kekalutan ini makin menjadi-jadi ketika harapan kepada perguruan tinggi untuk memompa semangat aktivisme mahasiswa seolah pupus. Alih-alih menghidupkan dinamika intelektual, sprit profesionalisme yang ditanamkan oleh perguruan tinggi malah membuat individualisasi dan kapitalisasi di kalangan mahasiswa menjadi lekat.

Mahasiswa Dulu VS Mahasiswa Kini

Dulu, mahasiswa adalah simbol dari kaum intelektual. Kini, semuanya menjadi paradoks tatkala sentimen publik menyeruak melihat mahasiswa berdemontrasi secara anarkis. Hampir tidak ada yang menyangkal, jika dinamika intelektualisme kampus mengalami kemunduran yang luar biasa sejak satu dekade pasca reformasi.

Dulu, mahasiswa memilih dari tempat diskusi ke tempat diskusi yang lainnya. Kini, mahasiswa memilih dari tempat makan ke tempat makan yang lainnya. Bisa dikata, mahasiswa kini lebih takut kelaparan perut dan tidak khawatir dengan kelaparan intelektul. Ini sebuah kondisi yang tidak ada waktu dulu.

Kampus yang menghidupkan aturan sembari mengorbankan mahasiswanya sendiri. Mahasiswa mirip dengan kawanan domba yang digiring sesuai dengan keinginan aparat kampus. Kadang dipakai untuk pasukan laga yang punya tujuan memenangkan lomba. Kerapkali jadi kawanan massa yang digiring untuk mendukung sebuah acara. Bisa pidato politisi, bisa pula untuk meramaikan acara dan lebih sering jadi panitia perhelatan apa saja.

Tak ada di masa dulu keadaan di mana kampus dikurung oleh banyak aturan dan dijaga dengan satpam. Seolah ini tempat dimana semua orang harus berada dalam keadaan aman dan terkendali.

Padatnya jadwal kuliah dan tugas yang diberikan, disinyalir juga menjadikan mahasiswa semakin individualis (Kompas, Juni 2012). Mereka lebih memilih mengisi sisa waktu untuk bersenang-senang. Diskusi, literasi, dan aksi-aksi intelektual lain di luar kelas menjadi tak menarik. Mayoritas mahasiswa lebih yakin, jika aktivitas akademis lebih penting dari pada organisasi. Situasi ini berkebalikan dengan kondisi kemahasiswaan pasca reformasi, di mana dulu mahasiswa dapat melakukan harmonisasi antara keduanya.

Tentu salah besar, jika intelektual dimaknai sebagai akademisi semata. Buktinya, beberapa tokoh bangsa kita seperti WS Rendra dan Soe Hok Gie pernah bersaling senada, bahwa kaum intelektual bukan akademisi hanya unggul dalam spesifikasi keilmuannya, tetapi juga aktif terhadap perjuangan-perjuangan kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.

Mahasiswa yang Hilang

Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu!. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu?

-Victor Serge, Bolshevik

Mahasiswa kini lebih percaya Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tinggi itu segalanya, dan wisuda adalah tujuan utamanya. Padahal tak ada yang istimewa dari acara wisuda, berjejer rapi lalu digeser toga, kemudian foto bersama keluarga. Sungguh itu adegan yang menjemukkan dan tak layak untuk dirindukan. Sungguh salah jika IPK itu segalanya, banyak tokoh, para penemu hingga aktor yang kuliahnya pernah gagal tapi karirnya gemilang. IPK itu hanya perkakas kuliah yang diperebutkan. Jangan terlampau berburu, sama halnya juga jangan terlalu meremehkan. Ringkasnya, kuliah tak hanya berpusat pada apa yang ada di bangku dan apa yang dikatakan dosen.

Mahasiswa kini lebih individualis dan lebih ke akademisi, supaya dapat menjalani kuliah tiga tahun atau sampai empat tahun. Bahkan ada yang tiga tahun lebih, mirip lomba kuliah. Membuat mahasiswa kini memandang teman seperti lawan. Mula-mula pada soal penampilan dan lama-kelamaan dalam hal prestasi.

Mahasiswa kini, enggan merasakan atau menikmati kenangan manis di sebuah organisasi. Mahasiswa kini lebih memilih bersikap individualis agar fokus kuliah dan cepat selesai. Padahal organisasi adalah sekolah yang sesungguhnya, di sana kita tidak diajarkan untuk meraih prestasi, tapi kita dibimbing untuk memahami bahwa dasar hidup itu adalah solidaritas dan kepedulian. Membimbing kita untuk percaya, jika kebenaran itu bukan khayalan kosong, dan hanya di organisasi yang menyadarkan kita kalau hidup itu tak bisa dilalui seperti binatang; kawin, beranak, cari makan, dan mati.

Mahasiswa kini, lebih apatis terhadap gejalah sosial dan mendiamkan diri dalam tugas-tugas kuliah yang diberikan dosen tertentu, padahal kuliah kita di subsidi oleh pemerintah, hasil dari pajak masyarakat. Seharusnya kita berbalas budi kepada yang mensubsidi kuliah kita.

“Setiap kesusastraan adalah propaganda, tapi tidak setiap propaganda itu kesusastraan”

-Lu Hsun

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik (FUFP) semester V

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*