Puisi “Tidak Sama” Oleh Muammar

Ilustrasi | Kompasiana

Aku mencoba membuka sebuah peti.
Aku berharap sesuatu dipeti itu.
Harapanku ada di Peti itu.
Masa depankupun ada di Peti itu.

Tiba-tiba,
Kutemukan secarik kertas berdebu,
Yang melukiskan putihnya rambut hitam,
Yang melukiskan hilangnya sayap kupu-kupu malang.

Hidup juga seperti itu,
Kadang putihmu akan menutupi hitamnya peluh kasih.
Kadang pula hitammu menutupi putihnya kemurnian hati.
Atau keduanya yang melahirkan apa-apa,
Atau keduanya yang memang bukan apa-apa.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Ilmu Politik (FUFIP) semester I

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*