Penanganan Kasus Pembacokan Mahasiswa UIN Dikecam

Suasana aksi mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Takalar mengecam Polres Takalar atas penanganan kasus pembacokan seorang mahasiswa UIN Alauddin Makassar di Polres Takalar (Jumat/22/09/2017) lalu.

Washilah – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam aksi Solidaritas Mahasiswa Takalar mengecam Polres Takalar atas penanganan kasus pembacokan seorang mahasiswa UIN Alauddin Makassar di Polres Takalar. Jumat (22/09/2017) lalu.

Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa gabungan ini dibenarkan oleh Kepala Urusan Pembinaan Operasional Reskrim Polres Takalar, Iptu Bahtiar, pihaknya pun telah menerima dan memahami apa yang disampaikan para pengunjuk rasa.

“Terkait dengan kejadian pembacokan, kemarin sempat ada sejumlah mahasiswa HIPERMATA datang ke kantor menyampaikan pendapatnya. Saya telah menjelaskan kepada mereka prosedur perkembangan terakhir penanganan perkara tersebut,” ungkap Iptu Bahtiar.

Diketahui, aksi kecaman tersebut dilakukan pasca penangguhan beberapa orang yang diduga terlibat dalam kasus pembacokan salah seorang mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Adrian yang terjadi usai Musyawarah Komisariat Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar (HIPERMATA) pada Minggu dini hari (17/09/2017) lalu, di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kab. Takalar.

Hal ini diungkapakan Jenderal Lapangan Rivai Jayandi, ia mengatakan, dari 13 orang beberapa diaantaranya kemudian ditangguhkan dengan dalih kurang cukup bukti .

“Sementara hasil pengembangan kasus terakhir, bahwa mereka memiliki perang masing- masing dan mereka mengakui keterlibatannya, maka dari itu kami anggap kriminalisasi hukum yang tidak beracu pada azas keadilan,” ujarnya.

Massa yang tergabung dalam aksi tersebut menuntut hukuman seadil-adilnya kepada pelaku pembacokan. Kedua, menganulir penangguhan sepuluh pelaku yang telah terbukti ikut serta melakukan tindak pembacokan. Massa juga menuntut agar kasus tersebut diusut tuntas. Terakhir, mereka meminta menghentikan negosiasi pengangguhan.

Tak sampai disitu, Salah seorang Orator Ismail Tompo berharap agar penangguhan terhadap sepuluh pelaku dengan dalih hukum belum cukup umur, diberikan efek jera dan hukuman yang semestinya.

“Jika kemudian para pelaku ini tidak diberikan hukum maka yakin dan percaya bahwa ada “perselingkuhan” atau “konsipirasi” antara oknum kepolisian dan korban,” tegas Ismail.

Terakhir, Ismail berharap agar pihak kepolisian tidak menyalagunakan wewenang yang telah diberikan dan bersifat netral dalam penanganan kasus yang menimpa mahasiswa jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Ilmu Politik (FUFIP) itu.

Sementara Formatur Ketua Umum HIPERMATA Takhifal Mursalim, meminta Kapolres Takalar untuk mengadili para pembacok Adrian. Kendati pihak Polres tidak mengusut tuntas kasus tersebut, Takhifal pun menganjam akan mangalihkan penangan kasus ini ke Polda Sul-Sel.

Terkait penangguhan kesepuluh orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut, Iptu Bahtiar mengatakan, secara peristiwa ia tidak dapat menetapkannya sebagai tersangka, apalagi melakukan penahanan. namun dirinya menegaskan bahwa proses kasus ini masih berjalan.

Penulis: Muhammad Aswan Syahrin (Magang)
Editor: Erlangga Rokadi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*