Opini: Sistem Bank Syariah di UIN Alauddin “Masih Tidur”

Ramalia | Dok. Pribadi

Oleh: Ramalia

Ekonomi islam saat ini menjadi sebuah ilmu yang yang sedang marak di pelajari atau sedang banyak diminati. Di indonesia, dikenal dua macam sistem perbankan, yaitu perbankan konvensional dan perbankan syariah. Keduanya memiliki kedudukan yang sama di mata hukum.

Perbankan syariah ini dapat dikatakan wujud realisasi dari ekonomi islam, sebuah kegiatan ekonomi yang melibatkan prinsip-prinsip islam di dalamnya. Meskipun pertumbuhan perbankan syariah sendiri tidak sebesar pertumbuhan perbankan konvensional, padahal penduduknya mayoritas beragama islam, namun bank syariah selalu mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.

Mahasiswa yang utamanya mengambil jurusan yang bersentuhan dengan ekonomi, terkhusus ada kata “islam” mengikuti, tentu tidak akan asing dengan istilah perbankan syariah, perbankan konvensional, hingga sebuah perdebatan tentang sistem bunga yang ada di perbankan konvensional, adakah ia sama prinsipnya dengan riba? yang pada dasarnya riba di dalam islam adalah sesuatu yang dilarang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), telah mengeluarkan fatwa bahwa bunga yang terdapat di perbankan konvensional sama prinsipnya dengan riba. Namun tidak serta merta semua ulama sepakat mengenai hal tersebut. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan di kalangan para ulama sendiri mengenai bunga bank.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dinyatakan bahwa perkara halal itu jelas dan perkara haram itu juga jelas. Diantara keduannya ada perkara syubhat (perkara yang masih samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka barang siapa menghindarkan diri dari perkara syubhat maka sesungguhnya ia telah menjaga agama dan kehormatannya.

Maka, bukankah sebaiknya kita menghindari bunga konvensional? karena ia termasuk perkara yang syubhat ?. selain itu juga telah dibuat solusi dari perkara tersebut yaitu munculnya bank syariah.

Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, salah satu kampus negeri yang menggandeng kata islam, dan melabelkan diri sebagai kampus peradaban, tapi dimanakah perannya ? Mengapa ia tidak mengambil peran untuk meningkatkan laju pertumbuhan perbankan syariah dengan menyediakan fasilitas tersebut di kampus ini?. Lihatlah kenyataan, Tidak ada Bank syariah, yang ada hanya BNI dan BRI konvensional yang tersedia di kampus ini.

Kehebatan dari sistem perbankan syariah yang mampu bertahan dan tetap stabil saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998. Sedangkan perbankan konvensional yang paling merasakan dampak dari krisis tersebut. Sebagai sebuah kampus yang menyatakan dirinya sebagai “kampus peradaban”, dimana aplikasi Perbankan Syarih yang selalu kami dengar di dalam ruangan ?

Bagai hanya sebuah teori tanpa praktik, gema tentang ekonomi islam selalu terdengar di setiap kelas ekonomi islam. Bahkan di kalangan mahasiswa sendiri, khususnya mahasiswa jurusan ekonomi yang mengikutkan islam bersamanya, yang memiliki tabungan di Bank Syariah masih sangat minim, dalam ibarat perbandingan 2 : 10.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) semester V

1 Komentar

  1. Keren tawwa… Sejak dlu punya pikiran seperti ini. Namun, belum cukup kuat utk teori yg mendukung. Ternyata wanita ini yg dapatkan dukungan teorinya dari berbagai ulama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*