Dialog Kemanusiaan UKM LDK Datangkan Saksi Pembantaian Warga Rohingya

Abdul Hakim seorang Saksi mata pembantaian warga Rohingya berbagi kisah mengenai kondisi di Myanmar kepada peserta Dialog Kemanusiaan di Gedung Character Building Training (CBT), Kampus II UIN Alauddin Makassar Sabtu (30/09/2017).

Washilah – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Jami’ mendatangkan langsung seorang Saksi mata pembantaian warga Rohingya, dalam Dialog Kemanusiaan yang bertajuk “Mengapa Kita Harus Peduli Rohingya” di Gedung Character Building Training (CBT) Kampus II, UIN Alauddin Makassar. Sabtu (30/09/2017).

Kegiatan yang juga bekerja sama dengan Growth dan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Human Initiative ini, dirangkaikan dengan pemutaran video saat pihak PKPU Human Initiative memberikan bantuan kepada para pengungsi Rohingya.

Selain itu, turut pula diundang pemateri dari Aktivis Kemanusiaan Swardi S Pd I dan warga asli Rohingya, Abdul Hakim.
Abdul Hakim sebagai warga asli Rohingnya yang menyaksikan secara langsung kekejaman yang terjadi di Myanmar. Ia menyatakan bahwa etnis mereka bukanlah pendatang, melainkan masyarakat asli di negara tersebut.

“Rohingya itu bukan pendatang, bukan dari mana-mana, memang ada umat Islam yang ada di situ namanya Rohingya. Budha-budha itu yang pendatang dari gunung-gunung Cina dan gunung-gunung Thailand karna mereka meminta tolong pada kerajaan kami, makanya kita tolong, karena Myanmar luas, tapi kurang penduduk. Biar beda agama kita terima,” ungkapnya.

Sedangkan Swardi menuturkan, kekejaman di Rohingya sebenarnya sudah lama berlangsung, bukan hanya belakangan ini.

“Sebenarnya kekejaman di Rohingya dimulai dari tahun 1982 dan sekarang hanya menyisakan empat juta umat Islam dari enam juta, artinya sudah dua juta umat islam yang tewas,” jelas Swardi.

Ia juga mengatakan bukan hanya faktor agama yang menjadi penyebab kekejaman di Rohingya, tetapi banyak faktor, ada sebuah lokasi tambang minyak, beber Swardi, itu kemudian sebenarnya yang ingin mereka rebut. Secara geopolitiknya Sumber Daya Alam (SDA) itu kemudian ingin di kuasai, sehingga penduduk yang ada di sekitar tempat tersebut dibunuh.

Penulis: Suhairah Amaliyah (Magang)
Editor: Erlangga Rokadi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*