Cerpen: Bunga Mawar, Gondrong dan Idealisme

Ilustrasi | Pema USM

Oleh: Junaedi

Halaman rumah yang dipenuhi bunga mawar yang mulai menggugurkan kelopaknya demi satu persatu, nampak sepi dan tidak ada lagi yang mau peduli dengan bunga mawar itu, tidak ada yang siram saat pagi menyapa, saat sore pamit. Mungkin bunga mawar itu tidak mengindahkan mata lagi, sehingga matapun tak enggan meliriknya dan kakipun tidak mau melangkah mendekati bunga mawar yang melayukan dirinya.

Anginpun bertiup menerpa bunga mawar yang melayukan dirinya, kelopak dan daunnyapun beterbangan mengikuti arah kemana angin bertiup, bunga mawarpun hanya meninggalkan beberapa daun dan kelopak di tangkainya yang mulai kehilangan kekuatan untuk menahan perginya sang kelopak dan sang daun dari dirinya.

Sayapun mulai merasakan, ternyata bukan cuma saya yang mulai dihindari oleh mata untuk dipandang, ternyata masih ada bunga yang senasib dengan saya, pemandangan yang tak diinginkan mata untuk dipandang apalagi tempat kaki mendekat untuk mendekatkan hati si pemilik kaki itu. Tapi sudahlah, saya tidak mau membahas tentang bunga yang melayukan dirinya. Saya hanya akan terus memanjangkan rambut.

Hari ini, adalah hari terakhir saya masuk kuliah sebab dosen pengampuh di kelas sudah mulai bosan memberikan peringatan untuk memendekkan rambut dan enggan melihat rambut saya yang sudah mulai gondrong.

***

Hari itu terik matahari sangat panas, seakan-akan kulit mau menangis karena perihnya di bakar sang fajar, sayapun mulai berlari-lari menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah yang dibawakan oleh dosen Pendamping Akademik (PA) saya, dengan memakai baju kaos dan berambut gondrong.

“Kau lagi…kau lagi…sudah berapa kali saya peringati kamu nak?”
Itulah kalimat sambutan saya saat masuk di kelas dosen PA saya.

“Begini bunda, saya hanya ingin menuntut keadilan di kampus ini, karena didalam buku saku yang dibagikan saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) sudah dijelaskan mana pelanggaran ringan, sedang, dan berat pada halaman 93 – 94,” ujarku dengan kepala menunduk.

Sambil menundukkan kepala, sebab dosen PA saya mendekat dan memandang mata saya dengan tajam seolah-olah saya adalah pelaku kejahatan yang sedang berdiri dihadapannya.

“Apa yang jelaskan dalam buku saku itu nak?” Tanya dosen PA saya dengan suara sedikit keras dan mata melotot, itu menunjukkan bahwa dosen PA saya marah kepada saya.

“Di dalam buku saku itu sudah menjelaskan kalau berambut gondrong, berpakaian ketat, tembus pandang, baju pendek bagi mahasiswa putri, memakai sandal, sepatu sandal, baju kaos oblong, celana jeans yang ketat dan kumal selama mengikuti kegiatan perkuliahan, pelayanan administrasi dan akademik adalah pelanggaran ringan, tapi kenapa hanya berambut gondrong yang ditonjolkan pelanggarannya bunda?”

Dosen PA sayapun menjawab, “saya tidak peduli dengan itu nak, yang jelasnya kamu patuhi aturan kampus ini,” dengan suara yang sama saat memperingatiku untuk memendekkan rambut.

“Kenapa ada diskriminasi di kampus tercintaku ini bunda? Kenapa cuma orang gondrong yang dilarang masuk kuliah padahal masih banyak perempuan dikelas ini yang memakai pakaian ketat dan tembus pandang?” dan teman kelas sayapun tersipu malu karena memakai pakaian yang ketat dan tembus pandang saat perkuliahan.

Dengan suara agak rendah, dosen PA saya berkata, “Saya tetap tidak ingin tahu itu nak, yang jelasnya kamu ikuti aturan kampus yang berlaku,”

Saya menjawab dengan perasaan yang kecewa, “Sungguh tidak manusiawi bunda, kalau kampus ini membiarkan saudara-saudara saya mempertontonkan auratnya dihadapan lawan jenisnya bunda,”

Dosen sayapun terdiam seribu bahasa mendengar perkataan saya, mungkin dia mulai sadar kalau kampus ini tidak memanusiakan manusia.

Sayapun melanjutkan perkataan saya, “Katanya, seorang guru itu memanusiakan manusia, tapi kenyataannya hari ini saya tidak melihatnya bunda, saya sangat kecewa bunda”

“Intinya nak, kamu harus ikuti aturan kampus dan kamu tinggalkan kelas ini, karena ini sudah aturan kampus nak” itulah kalimat yang keluar dari mulut dosen saya dengan suara yang agak pelan.

Sayapun meninggalkan kelas dosen PA saya, “Saya tetap akan memanjangkan rambut saya, selama masih ada yang berpakaian yang tembus pandang dan ketat,” Itu ungkapan terakhir saya sebelum keluar dari kelas dosen PA saya.

***

Sayapun mulai melangkahkan kaki meninggalkan ruangan kelas, karena saya adalah pemandangan yang tidak ingin dipandang oleh dosen sama seperti bunga mawar yang di taman yang melayukan dirinya yang tidak layak dipandang oleh mata.

Saat sudah keluar dari ruangan kelas dosen PA, di depan mata saya ada sosok yang melangkahkan kakinya dan mendekat, sosok ini tidak asing saya lihat di fakultas, ternyata dia adalah Wakil Dekan (WD) III saya yang siap mengingatkan saya untuk memendekkan rambut.

Diapun semakin mendekat, dan jantungku tersipu malu karena saya tidak patuh pada aturan kampus ini, WD III pun di depan mataku dan memukul pundak lalu berkata,

“Kamu sudah berapa kali saya ajak selfie nak?,” Tanyanya.

“Tidak tahu ustadz, mungkin karena terlalu sering diajak ustadz sehingga saya lupa,” jawab saya dengan perasaan malu.
WD III pun memanggil saya ke ruangannya.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Ilmu Politik (FUFIP) semester V

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*