Puisi “Penghianatan Suluh” Oleh Hajraningsih Thahir

Ilustrasi | Suluh.co.id

Berkisah tentang sejahterah di tanah waris.
Bermimpi tentang megah disinggasana sumbangan.
Mereka menggadaikan malu dan berteriak “Merdeka”.
Namun haus dan meminum danur para penyumbang masa depan kini.

Adakah suluh berarti tanpa maknanya?.
Ataukah kini ia telah ikut-ikutan berubah gender?.
Tampil seolah pelita jalan terang.
Namun remang saat dihalau lembaran modal.

Harapan matahari pekat membakar pundaknya.
Namun Sapuan kecil dan senyuman tipis menepis tak tergubris.
Pedih, pelik dan tak berujung.
Yang tersisa hanya kata seandainya bukan semestinya!.

Al kisah nasib tanah yang dihuni spesies bermuka dua.
Tampak riuh mewah dari kejauhan.
Tapi jauh ia sedang muntah dan berontak.
Meminta keadilan untuk para suluh yang berkhianat.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Ilmu Politik (FUFIP) semester III