Opini: Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Asy'ari | Dok. Pribadi

Oleh Asy’ari

Nama Ki Hajar Dewantara terkesan hilang dan dilupakan masyarakat Indonesia. Namanya -mungkin- hanya diingat ketika moment perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang tiap tahun dirayakan pada tanggal 2 Mei. Namun moment perayaan seremonial sama sekali bukan hal yang substansial untuk mengenang dan merefleksikan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Kegiatan upacara bendera, lomba-lomba dan berbagai kegiatan seremoni lain adalah bentuk perayaan yang “tidak” begitu penting, apalagi konteksnya untuk mengenang dan merefleksi jejak langkah Ki Hajar dalam memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Membikin kelompok diskusi untuk mengkaji karya tulisan atau memutar film dokumenter Ki Hajar adalah bentuk perayaaan yang progresif dan bermanfaat. Selain untuk merefleksi pemikirannya, juga bisa mengenal lebih dekat dengan sosok pendiri Taman Siswa.

Pengajaran Menurut Ki Hajar Dewantara

Kegiatan pengajaran haruslah kontekstual dengan kondisi material peserta didik, agar mereka tidak terasingkan dari lingkungannya. Kegiatan yang tidak berbasis kenasionalan membuat peserta didik merasa apatis terhadap kondisi di sekitarnya dan tidak lagi mencintai daerah tempat ia tinggal. Dalam buku ‘’Pendidikan”, Ki Hajar Dewantara menuliskan “Pengajaran nasional itulah pengajaran yang selaras dengan penghidupan bangsa dan kehidupan bangsa. Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, sudah tentu anak-anak kita tak akan mengetahui keperluan kita, lahir maupun batin; lagi pula tak mungkin anak mempunya rasa cinta terhadap bangsa dan makin lama akan terpisah dari bangsanya, sehingga kemudian barangkali akan menjadi musuh kita.” Kekhawatiran Ki Hajar benar-benar terjadi sekarang ini, pemuda Indonesia makin lama justru makin hilang kecintaannya terhadap bangsanya sendiri. Mayoritas pemuda justru lebih memilih untuk menghabiskan waktu luangnya untuk berbelanja, jalan-jalan di pusat perbelanjaan, nongkrong, ugal-ugalan dari pada mengkaji, mendiskusikan dan merefleksi kondisi bangsanya yang semakin hari semakin hancur ini.

Pengajaran nasional negara kita benar-benar telah mengalami kerancuan, penghidupan bangsa ialah segala sesuatu yang menghidupi manusia. Alam (tanah, laut, gunung, sawah, kebun), agama, perhimpunan politik adalah beberapa contoh dari penghidupan manusia. Pengajaran nasional haruslah sesuai dengan konteks penghidupan atau kondisi material peserta didik agar kegiatan pengajaran lebih bermanfaat dan berfaedah bagi masyarakat.
Masih terkait tulisan Ki Hajar Dewantara dalam bukunya mengatakan “untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi kehidupan bersama, haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat.” dari sini kita sudah bisa memahami bahwa sistim pengajaran yang tidak kontekstual dengan konteks penghidupan rakyat (peserta didik) ialah pengajaran yang “keliru” sebab akan membuat mereka terasing dari lingkungannya sendiri.

Menjadi Manusia Merdeka

Bukan hanya Paulo Freire yang menginginkan kemerdekaan sejati dalam praktik pendidikan, pun dengan Ki Hajar Dewantara. Jika menurut Paulo Freire manusia merdeka ialah manusia yang menjadi subjek bagi dirinya sendiri, Ki Hajar Dewantara mendefinisikan manusia merdeka ialah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatannya sendiri. Pramoedya Ananta Toer pun pernah mengatakan hal yang serupa dalam salah satu film dokumenternya, beliau berkata seperti ini “Jadilah tuan atas dirimu sendiri, berbahagialah mereka yang makan dari hasil keringatnya sendiri” oleh karena itu, perihal kemerdekaan bukanlah suatu hal yang mudah untuk didapatkan, ia bukanlah anugrah dari Tuhan, akan tetapi diperoleh dengan susah payah dan kerja keras. Karenanya, pendidikan menuntut kemerdekaan pada setiap manusia, sebab kemerdekaan ialah fitrah ontologis manusia. Jikalau pendidikan sama sekali tidak memerdekakan, maka pendidikan itu ialah “Pendidikan Gaya Bank,” pendidikan yang dehumanistik, perlu diingat bahwa manusia merdeka yang dimaksudkan oleh Ki Hajar bukanlah manusia merdeka yang individualistis yang tidak mementingkan kemerdekaan orang lain. Kemerdekaan sejati ialah kemerdekaan yang mementingkan persatuan bahwa setiap manusia harus bersatu untuk tercapainya kemerdekaan rakyat seutuhnya.

Pendidikan ialah Tuntunan

Ki Hajar menganalogikan seorang guru sebagai seorang paman tani yang bertugas untuk menuntun peserta didiknya berdasarkan kodratnya. Tugas dari seorang paman tani ialah menuntun padinya untuk hidup layaknya kodratnya padi. Paman tani senantiasa merawat padi, memperbaiki tanah, memberi pupuk, mencegah datangnya hama, memberi air dan begitu seterusnya. Paman tani tidak akan bisa merubah kodrat padi menjadi sebuah tomat atau kangkung. Paman tani hanya bertugas menuntun padi untuk hidup dan tumbuh berdasarkan kodrat padi itu tumbuh. Nah, begitupun dengan guru dalam kegiatan pengajarannya, guru haruslah menuntun peserta didik berdasarkan kodrat peserta didik. Setiap peserta didik memiliki kodrat dan kecenderungannya tersendiri, guru tidaklah boleh memaksakan kehendaknya kepada peserta didik, sebab memaksa mereka untuk tumbuh tidak berdasarkan kodratnya ibarat memaksa padi untuk berubah menjadi tomat. Ki Hajar menuliskan, kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya.

Saya yakin, sangat jarang calon pendidik apalagi pendidik yang paham betul pemikiran Ki Hajar Dewantara, untuk memahami saja sangat jarang, apalagi mengaplikasikan pemikirannya dalam kegiatan pengajaran. Bahkan, mahasiswa Fakultas “Tarbiyah” pun tak banyak yang tahu tanggal lahir siapa 2 Mei yang dirayakan itu, begitu ‘mirisnya” pendidikan Indonesia sampai-sampai Bapak Pendidikan yang selama ini ikut andil dalam melawan kompeni belanda itu dilupakan.

LAPENMI, salah satu lembaga semi otonom di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Alauddin Makassar yang saat ini ikut andil dalam membumikan pemikiran Ki Hajar, semoga dengan hadirnya LAPENMI kawan-kawan mahasiswa khususnya FTK UIN Alauddin Makassar bisa kembali mengingat dan mengetahui pemikiran Ki hajar Dewantara.

Terakhir, mari kita sama-sama berdoa, semoga mahasiswa semester delapan keatas bisa cepat wisuda dan dimudahkan pengurusan skripsinya untuk mengabdi di sekolah-sekolah dan membumikan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Amin.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Semester IX