Puisi “Kau Yang Ingkar” oleh Megawati Latif

Ilustrasi | Int.

Halimun tebal menutup serta asmara.
Hujan yang turun mengaliri kekecewaan ke muara kebencian.
Setelah sebelumnya setan mengencingi kepercayaan.
Meninggalkan pesing yang tak mampu di bawa angin.

Lalu masihkah kau tanya mengapa nurani membabi?
Setelah pergimu sisakan serpihan.
Kau kembali datang membawa kesucian yang ternodai.
Berharap iba dapat menghijabi aib.

Aku bukan taman apalagi pantai.
Setelah mampu mengukir indah.
Pada mata dan juga hatiku
Kemudian kau tinggalkan berserahkan sampah.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester II

Comments

comments