Puisi “Anak Jalanan Bercerita” Oleh Muhammad Junaedi

Ilustrasi | Tribunnews.com

Aku hanyalah anak jalanan.
Bagaikan debu jalanan yang di tiup angin tanpa arah yang jelas.

Aku hanyalah anak jalanan.
Yang ingin membaca supaya kakek dan nenek tidak susah payah bercerita, kalau mereka dulunya pernah merdeka sebelum melegenda, sambil mengupas singkong bertelanjang dada.

Aku hanyalah anak jalanan.
Yang ingin membaca supaya kaya raya kami tak sirna, tak membangun tanah jawa atau Indonesia.

Aku hanyalah anak jalanan.
Yang ingin membaca supaya mengerti dari masih bernama nusantara, hindia belanda, hingga kini Indonesia.
Makna merdeka itu apa?
Neraka itu apa?
Sebab disini sama adanya.

Aku hanyalah anak jalanan
Yang ingin menulis supaya rumah kami tak hanya di lukis di peta, atlas, atau globe mistis saat emas minyak kami ditapis.
Kala nusantara ramai berdebat agamais sementara kami menangis tragis.

Aku hanyalah anak jalanan.
Yang ingin menulis supaya bisa menulis tentang semesta alam kami hampir habis terkikis, kala media sibuk menulis berita romantis dan cara menyulang alis.

Dan…

Aku hanya ingin pintar!

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Ilmu Politik semester IV