Opini: Kampus dan Radikalisme Agama

Sumber: Int

Oleh: Anugrah Ramadhan

 

Di era dewasa ini radikalisme dan terorisme bak hal yang sangat lumrah terjadi, maraknya penyanderaan-penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis, meningkatnya intensitas pengeboman di jalan-jalan kota di : Irak, Pakistan, Turki, Prancis dll, perang saudara di Suriah serta konflik tak berkesudahan di Palestina, hingga kekerasan dihampir seluruh dataran Mediterania wilayah timur tengah. Seakan dunia mendemonstrasikan kepada ummat manusia bahwa ada yang salah dalam memahami agama (Islam) ini.

 

Masih teringat jelas. Pada saat itu saya masih semester l, dan dalam suatu acara seminar yang diadakan di Auditorium kampus pagi itu, sesaat sebelum acara dimulai, setiap orang yang hadir di dalam ruangan diminta berdiri untuk menghormati lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, ketika lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Soepratman itu mulai berkumandang, saya tercengang, saat melihat seorang pemuda berpakaian Gamis putih dan celana kain hitam dengan setelan Isbal (Menggantung), hanya duduk santai tepat didepan saya dengan gestur tubuh yang sinis terhadap penghormatan lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut. Hal ini kemudian membuat saya begitu kebingungan, bagaimana mungkin seorang yang terlihat agamis (berada dalam ajaran damai) bisa menjadi arogan dan congkak terhadap pluralisme yang dianut oleh Pancasila dan sudah diakui secara hukum berbangsa di tanah air Indonesia ini.

 

Sebenarnya peristiwa seperti yang saya alami ini, adalah hal yang biasa terjadi di dunia modern saat ini, dimana orang yang menganggap apa yang ia ikuti itu adalah jalan yang benar, kemudian ia mendiskriminasi apa-apa yang tidak se-linear dengannya, atau bisa kita sebut dengan “Radikalisme Agama”, dimana kondisi seseorang yang menafikan segala sesuatu yang bertentangan dengannya.

 

Jika kita ingin melihat kepada sejarah, sesungguhnya wajah fundamentalis yang terjadi di agama islam dalam beberapa dekade terakhir ini adalah tidak lain banyak diwarnai dari buntut masa kelam runtuhnya khilafah terakhir islam, yakni Khilafah Utsmaniyah (Ottoman/Turki), pada akhir perang dunia pertama.

 

Dimana khilafah islam yang terbentang dari benua Afrika sampai Asia besar itu terpecah dan terbagi menjadi Negara-negara kecil yang secara De Jure dan De Facto membuat ummat islam saat itu sudah dipastikan pecah kekuatan dan tidak terintegrasi lagi. Parahnya, ditahun-tahun berikutnya beberapa negara-negara yang didominasi kaum muslimin itu terus-menerus disudutkan. Sampai akhirnya kaum Kolonialis mulai melakukan pembataian terhadap ummat islam yang berada dalam kondisi lemah, seperti yang terjadi di Aljazair oleh Prancis. Hingga Genosida atau eksekusi-eksekusi brutal yang dilancarkan rezim yugoslavia terhadap penduduk muslim eropa di wilayah Balkan, serta pembantaian tidak berakhir di Palestina yang hanya dianggap sebagai konflik saja oleh dunia Internasional.

 

Sejarah kelam inilah yang kemudian menjadi luka besar yang masih terasa hingga disanubari setiap sebagian hati ummat Islam hari ini, dan pada akhirnya inilah sebab yang melahirkan semangat kebencian terhadap Barat (Amerika, Israel dan Sekutunya). dan memaksa ummat islam dihampir seluruh belahan dunia yang masih dibawah pengaruh barat untuk melakukan aksi Gerilya terhadap antek-antek Kolonialisme dan Neo-Kolonialisme barat.

 

Di awal tahun 2000-an perang dingin Amerika dan Russia yang banyak melibatkan negara -negara mayoritas muslim seperti Afghanistan, Irak dll. adalah hal yang wajar-wajar saja bagi ummat muslim melakukan aksi geryilia (perang) untuk mengusir penjajah, namun yang menjadi masalah ketika para Mujahidin dari bekas perang dingin tersebut, mulai membawa semangat jihad itu ke tempat “damai” yang praktis membentuk bibit-bibit radikal kepada masyarakat global. Inilah yang dikemudian hari menjadi kontroversi, bersamaan dengan munculnya istilah muslim “garis keras” yang menolak perbedaan dan “muslim moderat” yang menerima perbedaan.

 

Dalam kondisi yang begitu kompleks, Institut – institut Pendidikan seperti Kampus diharapakan mampu menghambat arus Radikalisasi yang terus terjadi ditengah-tengah masyarakat Islam, bahwa agama sebenarnya bukan suatu alat untuk mengesahkan perang, seperti yang dikatakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2014 lalu saat masih menjabat Presiden Republik Indonesia (RI) kala itu, ia mengatakan bahwa Huru-hara yang terjadi di Timur Tengah, tidaklah murni karena persoalan Agama saja.

 

Kampus sebagai institut pendidikan yang paling tinggi, dalam pelaksanaannya selalu menjadi poros paling kuat dalam memilah-milah arus globalisasi, termasuk terorisme global yang belakangan menjadi tren dikalangan agamawan, banyak paham ataupun aliran yang hidup bebas disetiap kampus. namun untuk setuju terhadap kekerasan, saya yakin tidak ada seorangpun yang mengamini itu.

 

Upaya deradikalisasi serta Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang diterapkan oleh pemerintah kepada pelaku-pelaku teroris juga selalalu dianggap gagal oleh beberapa kalangan, dan masih jadi perdebatan sampai detik ini. hal ini praktis terjadi, karena pemerintah kurang jeli melihat penanganan terorisme, bahwa munculnya gerakan yang bersifat radikal dalam agama itu merupakan “paham”, dan paham tidak mungkin bisa dikontrol dengan menindaki pelakunya saja tetapi juga harus mematikan gerakaannya, pahamnya. dalam arti menangani isu-isu terorisme itu harus langsung ke akarnya.

 

Penanganan melalui komunikasi massa yang efektif pernah dilakukan secara tidak langsung beberapa tahun lalu, dimana para Dai atau pendakwah muslim seantero nusantara menyalurkan argumentasinya kepada masyarakat luas tentang menolak bahaya paham gerakan radikal ISIS saat menyampaikan khotbahnya atau dalam kajian-kajian pencerahan di masjid-masjid yang ada di indonesia, saat isu gerakan ekstrim ISIS mulai muncul di Indonesia.

 

Dalam arti yang sebenarnya peran para tokoh agama dan civitas akademika kampus bisa menjadi panggung utama deradikalisasi, atau menangkal arus terorisme global di masyarakat, karena membasmi radikalisme tidak hanya sekedar mendata dan menghitung tetapi bagaimana terjun langsung dan mengsosialisasikan kepada khalayak luas tentang pemahaman agama yang baik dan sebagaimana mestinya.
Sentralnya peran para tokoh agama dalam menanamkan nilai-nilai moral yang baik menjadi perhatian yang sangat strategis. Mentri Agama Lukman Hakim Saifuddin menekankan bahwa seorang yang akan menjalankan aktivitas dakwah keagamaan di rumah-rumah Ibadah harusnya memiliki kompetensi untuk menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai positif serta esensi tentang agama yang sebenarnya kepada publik. bukan sebaliknya, dengan merendahkan atau menjelekkan suatu kepercayaan tertentu yang sewaktu-waktu bisa memecah kehidupan beragama ditanah air.

 

Kampus sebagai simbol pendidikan tentu memegang peran penting dimana para alumninya sebisa mungkin bisa membawa kemurnian esensi agama yang sebenarnya ditengah-tengah masyarakat yang selalu labil dan skeptis dalam memandang keberlangsungan kehidupan beragama yang begitu dinamis. Kampus juga diharapkan bukan menjadi bagian dari masalah tapi bagian dari solusi. Karenanya kampus sebagai aktor harusnya mampu berada pada garis utama dan menjadi garda terdepan dalam melawan arus kejahatan terorisme nasional maupun global.

 

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Jurnalistik semester IV

Comments

comments