Menyelisik Akar Perkara Radio Syiar

Washilah – Sudah dua minggu lamanya Radio Syiar 107,1 FM tidak lagi terdengar mengudara. Hal tersebut dikarenakan adanya permasalahan internal di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang menyebabkan Wakil Dekan (WD) III Bidang Kemahasiswaan Dr Nur Syamsiah untuk sementara waktu menghentikan aktivitas Lab Radio Syiar FDK UIN Alauddin Makassar.

 

Mahasiswa Berkegiatan Malam

Ditemui diruangannya, Dr Nur Syamsiah mengungkapkan salah satu alasannya untuk sementara waktu menahan kunci Lab Radio Syiar yaitu adanya mahasiswa yang diduga sering bermalam di Lab Radio sementara aturan yang berlaku bahwa aktivitas mahasiswa di Fakultas cuma sampai pukul 6 sore.

“Aktivitas mahasiswa mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore, lewat dari itu tidak ada lagi,” jelasnya kepada Reporter Washilah. Senin (08/05/2017)

Ia juga menjelaskan, keterangan yang diperoleh dari Cleaning Service, bahwa ada mahasiswa yang bermalam di Lab Radio FDK. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa pakaian dan sarung milik mahasiswa dalam ruangan Lab Radio.

Sementara itu, Direktur Lab Radio Syiar Dr Irwanti Said menyatakan, tidak ada mahasiswa yang bermalam, kecuali di bulan Ramadan. Karena pada bulan Ramadan ada siaran sahur, sehingga mahasiswa yang bertugas untuk menyiar datang setelah sholat tarwih.

“Memang ada yang bermalam, tapi itu bulan Ramadan dan itu pun cowok. Cuma bulan ramadan, siapa yang mau tinggal diatas tidak ada makanan. Ramadan nginap karena ada siaran sahur,” tuturnya saat dihubungi via telpon oleh Reporter Washilah. Selasa (09/05/2017)

Adapun mengenai kegiatan hingga malam, menurut pengakuannya dilakukan jika ada kerja-kerja produksi yang penting. Biasanya, aktivitas mahasiswa di Lab Radio Syiar selesai pukul 6 sore hingga pukul 8 malam.

Menanggapi hal tersebut, Dekan FDK Dr Rasyid Masri menegaskan, mahasiswa memang tidak diperbolehkan bermalam di Fakultas. Waktu bagi mahasiswa berkegiatan di kampus dibatasi sesuai dengan aturan.

“Sebenarnya mahasiswa tidak diperbolehkan bermalam, itu tegas dari Rektor, tidak ada mahasiswa yang boleh bermalam dan sudah diberikan batas waktu,” tegasnya ketika ditemui diruangannya. Senin (15/09/2017).

 

Dugaan Komersialisasi dan Masalah Izin Kelas MC

Kelas Master Of Ceremony (MC) yang diselenggarakan oleh Syiar rupanya juga menjadi salah satu alasan penghentian sementara aktivitas di Lab Radio FDK. Sebagai WD III yang mengawasi kegiatan mahasiswa, Dr Nur Syamsiah mengatakan, bahwa kelas MC yang berlangsung selama empat hari tersebut memungut biaya kepada mahasiswa sebesar Rp. 100 ribu perorang.

Irwanti pun membenarkan adanya pungutan sebesar Rp. 100 ribu perorang. Namun, dengan kontribusi itu, peserta kelas privat sudah mendapatkan snack dengan empat kali pertemuan, dan sudah siap pula jadi MC.

“Itu dimana coba belajar privat dengan harga begitu. Saya satu kali keluar dapat Rp 3 juta dibayar,” ungkapnya.

Irwanti mengatakan, ia jarang mengadakan kegiatan yang memberatkan fakultas. Kegiatan kelas MC yang diadakan ini juga tidak menggunakan ruangan fakultas, selama ini yang ditempati yaitu Komunikafe dan Warkop Daeng Kumis.

Kelas MC yang telah dua kali dilaksanakan oleh Syiar kemudian dianggap menimbulkan permasalahan lantaran diduga tidak memiliki izin dari Pimpinan.

Nur Syamsiah pun mengimbau agar program kelas MC Syiar yang diluar mata kuliah seharusnya melalui izin pimpinan.

Sebagai WD Bidang Kemahasiswaan, Ia berharap agar di FDK bisa tetap saling terbuka mengenai apapun kegiatan mahasiswa supaya dapat diketahui pimpinan.

Rasyid Masri selaku Dekan FDK membenarkan, jika tak ada izin tertulis yang disampaikan oleh pihak Syiar kepada pimpinan Fakultas. Seingatnya, mengenai izin lisan pernah ada namun ia tidak bisa memastikan.

“Izin tertulis tidak ada, izin resmi seperti surat tidak ada, karena pihak syiar tidak pernah masukkan surat. Tetapi kalau lisan sepertinya pernah ada namun saya sudah lupa-lupa,” tuturnya.

Kegiatan kelas MC yang merupakan ajang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) itu pun dinilai bagus oleh Dekan, karena dapat menambah keterampilan mahasiswa.

“Sebenarnya kalau ada surat resmi bisa saja dipertimbangkan, tidak ada masalah apalagi kalau dia membina orang banyak didalam disini saya kira itu bagus karena pengembangan SDM, tambahan keterampilan, kursus, tidak apa-apa sebenarnya,” ujarnya.

Kelas MC sudah dua kali diselenggarakan, sebanyak dua kali pula Irwanti mengaku telah meminta izin kepada Dekan secara lisan. Bahkan sertifikat peserta pun Dekan FDK yang menandatangani.

“Saya sudah izin, secara lisan sudah dua kali saya sampaikan sama Dekan untuk melaksanakan kegiatan, dan di sertifikat kelas MC Dekan yang tanda tangani,” bebernya.

 

Direktur Syiar: Tidak Ada Lagi Kepercayaan Pimpinan

Setelah kejadian pemgambilan kunci Lab Syiar oleh WD III, Irwanti merasa Pimpinan tidak lagi percaya kepadanya.

“Saya menganggap ini ketidakpercayaan lagi dari pimpinan, dalam hal ini oknum ,” tutur Irwanti.

Karena ketidakpercayaan itu, ia pun menyerahkan kembali Lab Radio kepada Dekan FDK. Dari keterangannya, tidak hanya Lab Radio, tiga pengelola Lab lainnya juga melakukan hal yang sama yakni Lab TV, Lab Fotografi dan Lab Multimedia.

Irwanti merasa prihatin dengan apa yang terjadi, karena selama ia menjabat sebagai Direktur Radio, siaran Syiar tidak ada masalah. Sementara menurutnya, pembredelan itu hanya boleh dilakukan oleh lembaga yang resmi, dan juga harus ada alasan. Misalnya, pemberitaan mengandung sara dan sudah gawat.

“Siaran syiar tidak ada masalah, saya bertanggung jawab dan saya tahu. Dan memang bukan karena itu tapi ada unsur-unsur lain,” katanya.

Sebagai Direktur Radio, ia mengaku tidak ada kegiatan anak Syiar diluar pengetahuanya. Meski tidak ada honor, kekeluargaan yang dibangun anak-anak Syiar selama ini sangat erat.

“Kita satu keluarga, mereka juga nyiar tidak dibayar, tidak ada honor. Kan saya juga tidak ada honor. Kadang ada oknum yang terlalu banyak nuntut padahal tidak memberikan haknya orang,” pungkasnya.

 

Dekan FDK: Ini Kesalahpahaman

Perseteruan antara WD III dengan Direktur Syiar menurut Rasyid Masri sebenarnya adalah kesalahpahaman dan bisa diselesaikan jika WD III tidak langsung mengambil kunci Lab Radio Syiar. Penghentian penyiaran terjadi karena WD III mengambil kunci dan tidak melakukan chek dan rechek terlebih dahulu.

Diakui oleh Nur Syamsiah, ia telah memberitahukan kepada Dekan setelah mengambil kunci dengan alasan-alasan yang sudah dijelaskan. Meski demikian Rasyid Masri tetap menyayangkan tindakan WD III yang mengambil kunci Lab Radio Syiar secara spontan.

“WD III tidak meminta izin waktu mengambil kunci, mungkin atas nama WD III-nya,” ucapnya.

Ia juga menganggap bahwa ini sebenarnya hanya konflik personal yang kemudian berimbas pada lembaga. Hingga sekarang, Direktur Radio Syiar memilih untuk mengundurkan diri sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Namun sebagai pimpinan, Rasyid Masri tetap berupaya untuk mencari jalan keluar, entah dengan mendamaikan keduanya atau dengan cara lain.

“Saya maunya baik-baik saja, baku damai dan jangan ada yang saling baku gontok-gontokan,” harapnya.

 

Penulis: Nur Jannah & Nur Isna

Comments

comments