Kunjungi Lapas, PIK-M Sebar Virus GenRe

Foto bersama Duta GenRe Indonesia Nani Rahayu Usman dan Auzan Haq bersama remaja yang tinggal di Lembaga pemasyarakatan kelas 1 usai penandatanganan deklarasi generasi berencana. Senin (15/05/2017).

Washilah – Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK-M) Sipakainga’ UIN Alauddin dibawah naungan Badan Koordinasi dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan kunjungan ke Lembaga pemasyarakatan (Lapas) kelas 1 Makassar.

Kegiatan yang tergabung dalam Aksi Simpatik Generasi beRencana (GenRe) ini meliputi materi life skill, stand up comedy, pentas seni, dan penandatanganan deklarasi generasi berencana berlangsung di Gedung Aula Lapas kelas 1. Senin (15/05/2017).

Duta GenRe Indonesia Nani Rahayu Usman mengatakan, kegiatan sosialisasi di Lapas kelas 1 Makassar merupakan yang kedua setelah ke Sekolah Luar Biasa (SLB) beberapa waktu lalu.

“Bagi saya ini adalah hal baru dan tidak biasa, meski sudah mengunjungi SLB sebelumnya. Karena mereka adalah orang-orang yang menyalahi triad Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR),” ujarnya.

Nani menambahkan, kedepannya kegiatan seperti ini harus lebih banyak dan produktif. Bukan hanya sekadar materi dan pengenalan, sebagai ambassador juga ingin berbagi dengan orang disekitar kalau dipenjara itu tidak enak.

“Saya berharap setelah bebas, mereka bisa sadar, dalam segala hal terutama kalau hidup dipenjara itu tidak enak. Mereka belajar menuliskan rencana hidup masa depan. Satu kata untuk mereka, berubah,” tutur gadis berkaca mata itu.

Anggota PIK-M Sipakainga’ yang tergabung dalam Forum GenRe Sulawesi Selatan Andi Fathur Radhy mengatakan, kegiatan life skill seperti aksi simpatik selalu berbeda, tergantung dimana dan siapa komunikannya.

“Sosialisasi dalam rangka menyebar virus GenRe selalu tampil beda, kegiatan lapas kali ini dengan yang di SLB juga beda. Mulai dari pendekatan, games, hingga materi,” tuturnya.

Menurutnya, mendekati orang-orang baru dalam konteks komunikasi yang tidak biasa perlu penyesuaian dan persiapan.

“Dan tentunya persiapan ilmu paling penting,” pungkas mahasiswa komunikasi semester IV.

 

Penulis: Desy Monoarfa

Editor: Nur Isna