IKOM Gelar Talkshow, Peserta AIYEP Jadi Pembicara

Foto bersama Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Ramsiah Tajuddin dengan peserta AIYEP sekaligus sebagai pembicara pada talkshow dengan tema Youth Modern In Globalera di LT FDK. Jumat (27/01/2017).

WashilahTalkshow yang digelar oleh jurusan Ilmu Komunikasi (IKOM) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin menghadirkan dua peserta Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) sebagai pembicara. Kegiatan dengan tema Youth Modern In Globaleral bertempat di Lecture Theatre (LT) FDK. Jumat (27/01/2017).

Fadilla Muchsen Alkatiri MPd dari Indonesia dan Alexander James Horton dari Australia adalah peserta AIYEP yang sedang mengikuti workpalcement di UIN Alauddin menjelaskan tentang program AIYEP pada peserta talkshow.

“Saya dan Alex adalah angkatan ke-35. Jadi, AIYEP adalah pertukaran pemuda yang terselenggara atas kerjasama di bawah tanggung jawab Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Indonesia dengan Department of Foreign Affair and Trade (DFAT), Australia,” ujar Fadilla saat sharing tentang AIYEP.

Fadilla juga menambahkan ada tiga kegiatan penting yang dilakukan yaitu hostfamily, workplacement dan cultural performance.

“AIYEP mengusung tema Cross-Cultural Understanding through People to People Contact Sesuai dengan temanya, seluruh peserta AIYEP mendapatkan kesempatan untuk mempromosikan dan mempelajari budaya negara masing-masing melalui aktifitas penampilan budaya, hostfamily (orangtua asuh), workplacement (kerja magang), dan community development (pemberdayaan masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Alexander James Horton mengatakan, ini merupakan yang pertama ia berkunjung ke Indonesia dan mengaku kesulitan berkomunikasi.

“Ini kali pertama saya ke Indonesia dan sempat kesulitan berkomunikasi, tapi saya bisa mengatasi itu. Counterpart saya juga wakil Sulawesi Selatan dan kami memiliki kesamaan hobi, seperti nonton film,” ujarnya.

Alexander  juga mengungkap, budaya Indonesia dan Australia tidak jauh berbeda.

“Budaya Indonesia dan Australia juga tidak jauh berbeda. Di negara saya juga banyak imigran. Saya salut dengan keragaman yang ada disini, mulai dari agama, suku hingga budaya,” ungkapnya.

Penulis: Desy Monoarfa

Editor Nur Isna