Opini : Politik Si Sektarian Fanatis

Ilustrasi | fokusislami

Oleh: Asy’ari

“Proses pembebasan adalah perihal kelahiran, kelahiran adalah proses yang menyakitkan. Orang yang ingin bebas tanpa mau merasakan rasa sakit adalah omong kosong yang paling brengsek,” menurut seseorang yang kuanggap guru.

Akhir-akhir ini semangat belajarku meredup . Sudah kupaksakan untuk kembali membuka lembaran-lembaran buku, tapi percuma. Tak ada satupun darinya yang masuk dikepalaku. Sekarang aku lebih sering berbicara sendiri, berbicara dalam hati sambil mengeluarkan uneg-unegku tentang kehidupan manusia yang rumit ini. Sesekali aku meluapkan kebingunganku lewat menulis. Apakah aku termasuk orang yang brengsek itu ? semoga tidak.

Sekarang fikiranku lebih terfokus pada proses penyadaran kepada mahasiswa baru. Tapi aku bingung cara memulainya bagaimana. Aku ingin supaya mereka bisa kritis melihat dinamika kampus kita yang sangat kapitalistik. Sayangnya mentalku tidak cukup berani untuk melakukan itu.
Kampus ini sudah seperti ladang bisnis. coba bayangkan, mereka ingin memunguti biaya parkir untuk mahasiswanya . Lalu apa bedanya kampus kita dengan pusat perbelanjaan ? menurutku, mereka ingin mengambil keuntungan dengan dalih keamanan kampus.

Satu lagi masalah yang urgen menurutku, tentang sifat fanatik kaku mahasiswa dalam berlembaga yang dewasa ini merupakan penyakit yang menjangkit kader-kader organisasi. Banyak kader-kader yang sangat fanatik terhadap lembaganya sampai-sampai melihat sinis dan menganggap rival lembaga yang lain. Mahasiswa justru terpecah-belah akibat gagal paham dan sifat fanatisme yang kaku. Lembaga adalah tempat mahasiswa untuk berproses dan menimba ilmu pengetahuan.

Lembaga bukan tempat memupuk kebencian dan arogansi. Ini salah satu akibat dari proses indoktrinasi seniornya yang membikin mereka menginternalisasi sifat-sifatnya yang juga kaku. Bukankah mahasiswa harus bersatu melawan proses dehumanisasi yang terjadi di lingkungannya ? persatuan itu tidak akan nyata kalau sifat fanatik itu masih menjangkit dalam diri.

Dialog adalah solusi yang menurutku jitu untuk menghilangkan sifat fanatik yang kaku itu. Dialog menurut Freire membutuhkan rasa cinta, rendah hati, percaya dan harapan. Mencintai kemanusiaan adalah sifat yang musti ada pada mahasiswa sebagai agent perubahan. Sikap rendah hati adalah obat dari kesombongan yang membikin kita terpecah belah. Saling percaya tidak akan membikin mahasiswa saling curiga. Dan harapan akan terwujudnya masyarakat adil makmur yang menyatukan mahasiswa. Dialog yang dimaksud bukanlah dialog seremonial yang akhir-akhir ini sering dijadikan kegiatan mahasiswa untuk menaikkan nama lembaganya. Dialog yang dimaksud adalah pertemuan antar lembaga, guna mendiskusikan kerja-kerja pembebasan dan menyamakan tujuan sehingga bisa mengawal dan menciptakan lembaga yang progresif dan revolusioner. mahasiswa harus bersatu dan tidak terpecah belah, lembaga tidak boleh menjadi dinding pemisah antar mahasiswa.

Musim Pemilma(pemilihan mahasiswa) sudah dekat. Ini juga yang membuat mahasiswa terpecah-bela. Mahasiswa dan lembaganya mulai sibuk menyiapkan strategi jitu untuk memenangkan calon pemimpin yang dianggapnya memiliki peluang untuk menang. Politik mahasiswa dewasa ini sejauh pandanganku, hanya sebatas ingin melanggengkan ‘’status quo’’ dan pencarian afirmasi (pengakuan) diri. Menduduki jabatan di kampus adalah cara ampuh agar organisasi mereka bisa tetap eksis dan mempermudah jalan untuk menarik kader-kader baru. Mahasiswa tidak boleh seperti para birokratnya yang juga berusaha mati-matian supaya status quonya tetap terjaga.

Mahasiswa dalam berpolitik harus bersatu untuk proses penyadaran atau dalam bahasa freire disebut proses konsientisasi. Penyadarkan akan ketertindasan yang dialami oleh masyarakat atau mahasiswa itu sendiri. Penindasan di zaman modern ini tidak dilakukan dengan cara kekerasan seperti tempo dulu masa kolonial. Penindasan zaman ini adalah penindasan kesadaran atau dalam bahasanya herbert marcuse’’ desublimasi represif’’ .

Tugas Mahasiswa harus men-counter hegemoni birokrat yang membuat fikiran mahasiswa sempit dan tidak progresif-revolusioner. Tugas mahasiswa bukan hanya mengerjakan tugas dan melakukan penelitian.Tugas mahasiswa adalah kerja-kerja humanisasi yang sangat di ridhai Tuhan. Sebab, humanisasi adalah fitrah ontologis yang diberikan kepada manusia. Kerja-kerja politik mahasiswa harus bersifat agitatif dan revolusioner. Politik mahasiswa berpihak kepada kemanusiaan bukan untuk melanggengkan status quo.

Terakhir, mahasiswa harus menjadi subjek yang meng –ada- dalam kehidupannya dikampus. Sebab, hanya dengan menjadi subjek, mahasiswa bisa sadar akan pola-pola penindasan yang dilakukan oleh manusia-manusia yang menurutku ‘setangah’ jadi itu. Manusia setengah jadi ini hebat, makanya harus dilawan dengan kerja-kerja yang ilmiah dan tentunya membutuhkan persatuan mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa harus banyak membaca,diskusi dan menulis. Sebab, dengan membaca dan banyak berdiskusi mahasiswa bisa melawan dengan tidak membabi buta.

Mahasiswa harus cerdas dan intelek dalam melawan sebab perlawanan tanpa di awali proses refleksi hanya akan menjadikan perlawanan yang anarkis. mahasiswa harus bisa menulis, karena menulis adalah salah satu cara untuk melawan yang ilmiah dan tenang. “menulis juga salah satu cara yang positif dalam menuangkan ide dan fikiran”, kata salah satu mahasiswa jurusan MPI UIN Alauddin makassar.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbyah dan Keguruan angkatan 2013