Cerpen: Jiwa dalam Selasar

Oleh : Muhammad Thamrien Chaier

Salah satu alasan mengapa kau mesti berangkat kerja lebih awal adalah kau dapat melihat siluet cahaya fajar memanjat di kaki-kaki timur langit. Terlebih jika kantormu sama sepertiku, gedung kokoh 40 lantai menjulang tinggi. Kau bisa bayangkan bagaimana dirimu dibuat terpana karena pemandangan 2-3 menit itu bukan?.

“selamat pagi, Pak Andri..”, sapaan ramah Pak Kasim.

“pagi pak, ini ada kubeli tadi dijalan”, seraya menyerahkan bungkusan berisi bubur kacang ijo.

“aduh, repot-repotki lagi, makasih pak”, aku hanya balas mengangguk.

Rutinitas ini sudah lama dikenali oleh Pak Kasim. Dan hanya menghitung beberapa menit, dia akan datang membawakanku kopi dengan racikan 2/3 kopi toraja, 1/3 susu. Kopi buatannya yang menurutku istimewa.

Sudah 5 tahun terakhir sejak bekerja di gedung ini, aku selalu berangkat pagi-pagi buta hanya demi melihat keindahan semesta tersebut. Tidak banyak orang mengetahui ada pemandangan seelok itu bisa terjadi di tengah kota. Mengingat mindset kebanyakan orang yang tinggal diperkotaan isinya hanyalah kerja, kerja dan kerja.

Aku tidak pernah tahu mengapa begitu tertariknya melihat cahaya pagi itu. Kegiatan itu sudah kulakukan sejak aku beranjak 15 tahun. Di rumahku, sebuah kampung di kaki Gunung Bawakaraeng. Saat Ayah pergi dan tidak pernah kembali lagi.

***
“jaga Mama’mu kalau Ayah nda ada nah nak”, ucap ayah tergesa-gesa.

“tapi mauki pergi kemana, Yah..?”,

“nanti ketemu jaki kembali nak, kalau sudah siapko”. Setengah berlari ayah pergi menembus pagi yang masih diselimuti gulita.

***
Dan benar, sehari kemudian mayat Ayah ditemukan Daeng Beta, pamanku saat memanen langsat di kebunnya. Masih banyak yang aku tidak mengerti dengan kepergian Ayah. Ini selalu menjadi misteri yang tidak terpecahkan buatku. Sejak itu aku tidak pernah lagi ke gunung, karena pasti akan teringat akan kematian Ayah. Dan sejak itu pula setiap pagi buta, aku naik ke atas atap surau melihat semburat cahaya fajar itu.

Seperti mengirimiku pesan tersirat kepadaku. Tapi aku belum mendapatkan cara untuk menerjemahkannya dalam bentuk bahasa. Belum, setidaknya belum. Begitu pikirku.

“bro, laporan pertanggungjawaban udah selese nggak?”, Mita tiba-tiba muncul dibelakangku.

“sudahmi cantik, sebentar siap presentasi”. Sahutku lugas.

“siip.. tuh makin keluar gantengnya”, balasnya dengan suara yang agak digenit-genitkan.

Seperti keadaan perkotaan pada umumnya, keadaan subuh tenang akan hijrah seketika hijrah menjadi lautan manusia menjadi penuh sesak. Berlalu lalang manusia yang berbagai kepentingan dan profesi. Kehidupan sosial disini semakin lama semakin keropos. Kebanyakan mereka menjadi apatis. Katanya demi mengejar target ini dan itu. Dan percayalah, tidak lama lagi, manusia-manusia akan bertransformasi menjadi makhluk individual. Manusia yang hanya mementingkan diri sendiri.

***
“sebentar makan disamping kantor yuk, ada rumah makan baru kemaren buka disana”, ajak mita selepas rapat dengan pimpinan kantor selesai.

“oh, yang rumah makan padang itu toh, ayo’mi, enak kayaknya”, sahutku menyetujui.

Ponselku berdering. Pamanku, Daeng Beta meneleponku.

“halo, Andri?”

“iye halo Daeng, ini saya Andri”

“bisako pulang sabtu ini nak? Sakitki Dato’mu kodong”,

“iye, kuusahakan Daeng”.

***
Sabtu pun berlalu, aku tidak pulang ke kampung. Bukan tidak khawatir akan keadaan Dato’, namun hanya tidak habis pikir bagaimana mungkin Dato’ Gassing bisa terkena sakit?. Fisik prima dan tangkas itu walaupun sudah berumur, masih bisa keliling gunung dalam sehari. Jika Dato’ dan anak muda sekarang dipertemukan dalam lomba lari 17-an sekalipun, tentulah Dato’ pasti menang dengan mudah. Aku yakin itu. Lagipula pekerjaanku dikantor masih banyak.

Aku pikir Dato’ pasti akan mengerti dengan pekerjaanku dikota ini. Toh, juga banyak sanak saudara yang akan merawat dengan baik Dato’ disana. Namun satu hal yang membuat aku takjub dan setengah tidak percaya sampai sekarang adalah, sebuah rahasia kecil bahwa Dato’ bisa berbicara banyak bahasa. Pernah aku mendengarnya berbicara sendiri dengan bahasa prancis, india, kadang-kadang bahasa melayu. Tapi aku paling takjub setelah kuketahui dia juga bisa bahasa korea.

Aku tidak tahu berapa persisnya bahasa yang dia kuasai. Bahkan, bahasa inggrisku pun aku kuasai hanya melalui Dato’. Dan hal aneh yang terjadi, Dato’ hanya berbicara bahasa Indonesia baku denganku, tidak seperti orang-orang lain dikampung yang biasanya berbicara dengan bahasa Makassar. Bukan berarti Dato’ tidak mengetahuinya, tapi dia pernah bilang jika aku nantinya harus sekolah yang tinggi agar dapat memahami sesuatu yang tinggi pula.

***
Aku berangkat kerja sebagaimana biasanya. Pagi buta. Melihat cahaya fajar terbias diangkasa, tentunya dengan segelas kopi istimewa Pak Kasim. Rutinitas kantor selalu kulalui demikian. Menjelang siang, ponselku berbunyi. Daeng Beta menelepon.

“Andri, ini mama’mu mau bicara”,

“nak.. pulangko sekarang, Dato’mu nak.. Dato’mu panggil-panggilko”, isak suara mama’ terdengar.

“iye, ma’.. iye, langsungma pulang ini”.

Aku seakan mengerti dengan keadaannya. Bagaimana pula, Dato’ juga adalah tipikal orang yang tidak percaya dengan pengobatan-pengobatan modern. Dia pasti menolak keras jika akan dibawa ke rumah sakit kota. Kondisi Dato’ pasti memburuk. Wajahku langsung seketika hambar dan langsung terdeteksi oleh Mita.

“aduh kenapa ini bro-ku mukanya kusut begitu, ada apa?”

“Mita, kayaknya haruska pulang kekampung. Dato’ku sakit. Sepertinya sudah gawat, sekarang ini mau izin ke bos dulu”,

“ya udah, yowes.. sana berangkat dah. Kamu hati-hati yah, semoga Dato’nya lekas sembuh”.

Mobilku melesat melintasi perkotaan padat berisikan lalu lalang kendaraan yang membuat sesak. Kepadatan kendaraan berangsur-angsur melengang ketika wilayah perkotaan terlewati, bergantikan suasana pedesaan yang masih sejuk nan asri. Rumah sudah dekat.

***
Keluarga-keluarga dikampung rupanya ramai kerumah setelah mendengar kabar sakit Dato’ semakin parah.

“masuk mako langsung dikamarnya Dato’mu nak, sudah dia tungguko itu”, ujar Daeng Beta.

“O Ammak, kenapai Dato’?”,
“kemari nak, Dato’mu mau sampaikan sesuatu”, selepas mengatakan itu, mama’ meninggalkan aku dan Dato’ berdua di kamar.

“Andri.. sudah tiba kau nak..”, suara pelan serak Dato’ keluar dari mulutnya.

“Iye Dato’, maafkan Andri yang baru datang sekarang”,

“tidak apa nak. Ada hal yang harus Dato’ beritahukan padamu nak. Ini juga menyangkut Ayahmu dulu. Kamu tentu belum menemukan jawaban atas apa yang menyebabkan kematian Ayahmu kan?”,

“mendekatlah nak, dengarkan Dato’ baik-baik.”, tanpa menunggu jawaban seakan Dato’ bisa menebak pikiranku. Aku hanya mengangguk mengerti.

“menjelang subuh, berangkatlah kau ke jalan setapak menuju puncak, dipertengahan jalan itu ada sebuah pohon melinjo besar. Kamu akan cepat menemukannya, hanya ada satu pohon melinjo tinggi menjulang di gunung itu.. Posisikan badanmu ditengah jalan setapak itu dengan pohon melinjo tepat disamping kananmu. Perhatikan kemana arah munculnya matahari lalu menujulah kesana. Kau akan dapati setapak kecil lurus seperti tak bertepi.”

“apa yang kulakukan setelah itu, Dato’?”, aku masih bingung dengan apa yang dibicarakan Dato’.

“teguhkan hatimu nak, apapun yang berusaha menghalangimu ketika berjalan, hiraukan saja, diujung setapak itu akan ada seseorang yang memandumu”, suara kakek semakin lemah.

“bagaimana jika aku tidak berhasil?”, tanyaku masih ragu.

“kau akan berhasil, tetaplah jaga perjanjian kita dengannya nak..”, dan benar saja, setelah mengucapkan kalimat itu ternyata sekaligus pula menjadi nafas terakhir Dato’.

***
Setelah prosesi pemakaman selesai, aku orang yang terakhir meninggalkan pusara tempat peristirahatan terakhir Dato’. Perkataannya terakhir itu memintaku untuk menjejaki kembali gunung yang selama ini kuhindari. Selepas tausiyah malam ketiga Dato’, subuh dengan gelap yang masih gulita akupun berangkat ke gunung mengikuti setiap instruksi seperti yang telah dikatakannya.

Ketembus jalan setapak dengan hanya mengandalkan penerangan bulan. Sengatan dingin udara pegunungan menembus pori-poriku, walaupun sudah kukenakan jaket yang lumayan tebal. Lolongan anjing menghiasi perjalananku. Tak terasa sudah setengah jalan menuju puncak gunung. Telah kutemukan apa yang kucari.

“tidak salah lagi, ini pasti pohon melinjo yang dimaksudkan Dato’”, gumamku.

Akupun berdiri di tengah jalan setapak dengan pohon melinjo besar tepat berada disamping kananku. Waktu sekarang sudah menunjukkan 05:10. Lima menit kemudian muncullah larik cahaya di timur.

“baiklah, ini dia!”, bergegas aku meluruskan pandangan sembari menyajarkan posisi kakiku melangkah.

Jalan setapak yang dikatakan Dato’ itu memang ada. Ukurannya hanya sejengkal tangan orang dewasa. Aku sesekali mengibaskan tangan karena lebatnya belukar disekeliling. Semakin masuk kedalam entah mengapa disekelilingku justru tambah gelap. Bertambah gelap. Kau bisa mendengar suara geraman entah hewan apa dan suara desisan yang kuketahui adalah suara ular disisi kiri dan kananku. Aku yakin, siapapun yang ada disituasi seperti ini aku yakin akan langsung lari ketakutan.

“teguhkan hatimu, hiraukan saja apa yang berusaha menghalangimu”, aku teringat seketika perkataan Dato’.

Dalam perjalananku menyusuri setapak kecil itu, tiba-tiba kurasakan nafasku tersengal. Sulit kuhirup udara. Dan anehnya pandanganku berputar-putar. Perasaanku seakan-akan diombang-ambing oleh angin. Aku seketika terhuyung, berlutut. Panik telah merambati pikiranku. Ada apa ini?.

Berusaha kuatur nafas yang bagai orang yang barusan dicekik lehernya. Beberapa saat kemudian nafasku berangsur stabil. Pandanganku kembali dan kakiku sudah bisa kulangkahkan lagi.

Namun ada yang aneh, langkah kakiku terasa agak berat dan rasanya seperti berjalan dikubangan lumpur. Langkahku tetap kujaga, dan percaya tidak percaya tubuhku seperti sedang melewati tabir transparan. Rasanya seperti melewati dinding agar-agar. Aku merasakan sensasi itu sekitar 10 meter berjalan. Dan kau tahu, banyak hal yang sulit dicerna logika kadang terjadi di dunia. Salah satu hal itu telah terjadi persis didepanku.

“Ayah..?”, tidak yakin dengan sosok yang muncul ini.

“kau sudah berhasil nak, raih tangan Ayah..”, ujarnya dengan kehangatan diwajahnya.

Kuraih tangan Ayah dan seketika pandanganku teselimuti oleh cahaya. Begitu menyilaukan. Tidak kurasakan lagi tubuhku. Seperti menyatu dengan cahaya ini. Namun jika tubuhku betul sudah tidak ada, lantas mengapa aku masih bisa berpikir?. Dalam kungkungan cahaya ini, aku merasakan perasaan tentram, damai, dan perasaan aman.

Seolah menjawab pertanyaanku, entah itu Ayah atau siapa, seberkas pengetahuan sempurna masuk dalam benakku. Menjadi sebuah pemahaman. Pengetahuan tentang dunia. Tentang alam, bumi dan langit. Tak pernah kurasakan sensasi semenakjubkan ini. Melebur dalam cahaya. Persepsiku akan ruang dan waktu hilang.

***
“Hidup sebagai manusia di bumi tidak sepantasnya kita merusak segala pondasi kehidupan makhluk lain beralih pada kepentingan kehidupan manusia. Bumi adalah individu tunggal dimana manusia adalah salah satu unsur dalam dirinya.

Nyawa ini, nyawamu bahkan nyawa Bumi bersumber dari satu muara tunggal. Sudah semestinya kita bahu-membahu dalam membangun kehidupan yang berperadaban, saling menghargai antar sesama serta menjaga hal itu agar tetap senantiasa ada dalam hati kita”.