Milad 51 UIN Alauddin, Begini Curhat Rektor Soal Kampus

Prof Musafir Pababbari

Washilah–51 tahun bukan lagi usia yang muda bagi UIN Alauddin. Perguruan Tinggi (PT) yang awalnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kemudian bertransisi menjadi UIN dan kembali mengulang hari kelahiran pada 14 November.

Baru saja memperingati satu tahun kepemimpinannya beberapa waktu yang lalu, Rektor UIN Alauddin Prof Musafir Pababbari pun menilai, jika UIN telah menuai banyak kemajuan di eranya.

Prodi Kedokteran Jadi Kebanggaan

Mengulas persoalan akademik setahun terakhir, pembentukan sejumlah Program Studi (Prodi) seperti , Perbankan Syariah, Hukum Ekonomi Syariah, Ilmu Falak dan yang terbesar yakni Kedokteran.

“Meski Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) sudah lama dirintis, tapi baru satu tahun ini terimplimentasi,” ungkapnya.

Hal ini tentu menjadi gebrakan baru di bawah kepemimpinannya. Mewujudkan cita-cita rektor terdahulu dengan peresmian empat prodi.

Infrastruktur Masih Jadi Persoalan

Persoalan infrastruktur menjadi hal lain yang disampaikan Musafir Pababbari kepada Reporter Washilah. Hal ini diakuinya akan meretas masalah-masalah fakultas terkait kurangnya ruang kuliah.

Dengan rancangan pembangunan tiga gedung, empat lantai dengan total 87 ruang kelas, maka penambahan gedung diklaim menjadi solusi perbaikan.

“Jadi satu setahun terakhir ini kita akan memanfaatkan gedung itu yang saya istilahkan gedung terpadu”, tambahnya.

Upaya inilah yang diharap menyelesaikan masalah ruang, agar tak ada lagi mahasiswa yang kuliah di kampus satu selain mahasiswa FKIK.

Menyinggung perihal anggaran, menurut mantan Ketua Jurusan Sosiologi Agama ini masih menjadi kendala. Dimana anggara dari Kementrian Agama (Kemenag) sudah dua kali pemotongan dari pusat, sehingga sejumlah program yang sudah dirancang terpaksa tidak dapat terlaksana.

Tak Ingin Ada Tawuran

Tawuran yang kerap terjadi rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Prof Musafir, baginya, tindakan saling lempar batu antar sejumlah fakultas sangat tidak masuk akal.

“Yang biasa kita dengar tukang becak berkelahi, tapi sekarang saat tukang becak berkelahi mereka bilang jangan berkelahi kayak mahasiswa,” tuturnya.

Pendapat itu menurutnya sudah jelas merupakan kritik sosial, dimana mahasiswa semestinya berfikir rasional tanpa harus bertindak anarki.

Di akhir pembicaraan, target terbesar bagi Musafir ialah akreditas, baik institusi maupun Prodi. Dimana dominan akreditas yang diinginkan menjadi A. Untuk itu, perlu keterlibatan seluruh civitas akademika untuk memahami dalam perwujudannya.

Penulis: Ridha Amaliah
Editor: Fadhilah Azis

Comments

comments