Prof Lomba: Pelaku Bentrok Akan Dikenakan Sanksi

Washilah– Seperti telah menjadi tradisi, bentrok antar fakultas di UIN Alauddin Makassar terus terjadi tiga tahun belakangan. Aksi lempar batu antara Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dengan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) tidak berlangsung lama. Pasalnya, beberapa Pimpinan Universitas dan pihak Kepolisian dengan sigap mengamankan bentrok antar dua fakultas ini.

Kapolres Gowa, Ivan Setiadi mengatakan hingga saat ini belum terlalu jauh mengetahui pemicu konfliknya.

“Sejauh ini kami mendengar isu ada pemukulan, belum mengetahui secara pasti pemicu konfliknya seperti apa. Tapi kami tetap mengusut tuntas kasus ini,” ungkapnya di ruang rapat pimpinan Universitas.

Tiap pimpinan lembaga mahasiswa di Universitas bertanggung jawab dalam mengontrol mahasiswanya, menjadi jembatan aspirasi ke pimpinan. Dalam hal ini, untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan, tiap lembaga bertanggungjawab mengintruksikan pada anggotanya agar tidak mudah terprovokasi, dan tidak terlibat bentrok antar mahasiswa lagi.

Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan keuangan Prof Lomba Sultan yang menjadi kuasa rektor saat ini mengatakan, bahwa mahasiswa yang piterlibat bentrokan ini akan ditelusuri lebih jauh dan akan dikenakan sanksi.

“Masing-masing delegasi tiap mahasiswa harus menandatangani surat pernyataan, dan akan ditindak lanjuti secara hukum. Artinya kasus ini akan ditindak lanjuti Komisi Disiplin (Komdis) dan dipecat karena telah melanggar aturan-aturan kampus, dan besok sudah ada surat edaran rektor yang isinya tiap mahasiswa yang melanggar akan dikenai sanksi berdasarkan kode etik mahasiswa,” jelasnya saat memimpin rapat. Kamis (29/09/2016).

Lebih lanjut, Prof Lomba mengintruksikan pada delegasi tiap fakultas bahwa sahnya tidak boleh ada sekat antara mahasiswa dan pimpinan. Artinya jika ada isu akan terjadi bentrok, pimpinan harus mencegah terjadinya konflik dengan cara bicarakan dengan sistem kekeluargaan.

Ketua Sema FST, Akbar B Mappagala mengatakan  Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dan Manajemen Dakwah (MD) masing-masing menjadi korban. Meski lembaga adalah jembatan mahasiswa, yang diberi amanah tidak bisa sepenuhnya dijadikan jaminan dalam peristiwa ini.

“80% Mahasiswa FST bisa dikontrol tapi yang ditakutkan ada provokator dari luar. Namun kami tetap berharap oknum tetap di tindak lanjuti,” tandasnya.

Saefullah Ahmad perwakilan mahasiswa FDK mengatakan, pihak kampus seharusnya bisa melihat kejadian, sebab hal ini terjadi tiap tahun, seharusnya ada pertemuan tiap lembaga dalam tiap bulannya.

“Kita harus sadari bahwa sahnya kita punya peranan masing-masing, komunikasi yang baik antar pimpinan dan mahasiswa harus terjalin,” tutup ketua HMJ Jurnalistik ini.

Penulis: Sriyusnidar

Editor: Afrilian C Putri

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*