Pendidikan Itu Membebaskan, Bukan Bertindak Kekerasan!

Ilustrasi | Kompasiana.com

Oleh: M Alfian Arifuddin

Dunia pendidikan kembali tercoreng. Pada senin, 26 September 2016 lalu masyarakat dihebohkan oleh kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum dosen terhadap seorang mahasiswa yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar (UINAM). Hal ini tentu menjadi sebuah kemunduran bagi pendidikan di negeri kita. Apalagi kejadian tersebut dilakukan dalam wilayah perguruan tinggi yang memiliki slogan ‘kampus peradaban’. Bagaimana tidak, pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, yang membebaskan manusia dari belenggu kebodohan justru menjadi sebuah tempat yang mengerikan. Dan kasus ini bukan kali pertama terjadi di dalam dunia pendidikan khususnya yang terjadi di UINAM. Ini adalah kasus yang kesekian kalinya. Yang masih hangat adalah kasus pemukulan yang dilakukan oleh satuan pengamanan kampus terhadap mahasiswa yang melakukan demonstrasi dan dua orang wartawan yang meliput di depan gedung rektorat UINAM yang terjadi pada 1 September 2016. Dan pada tahun 2014 lalu, belasan mahasiswa beserta beberapa orang wartawan juga menjadi korban kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus. Belum lagi tindak kekerasan yang terjadi di berbagai kampus yang ada di Indonesia. Namun, kali ini saya tidak akan membahas seluruh rangkaian tindak kekerasan yang telah menjadi sejarah kelam dunia pendidikan kita.

Pada tanggal 26 September lalu, seorang dosen yang juga menjabat sebagai ketua jurusan di FEBI telah menggunakan kekuasaannya untuk bertindak kasar terhadap mahasiswa. Awalnya oknum dosen tersebut ingin membubarkan kegiatan silaturahmi mahasiswa baru dengan seniornya, yang katanya mengandung unsur perpeloncohan dan paksaan agar mahasiswa baru mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) yang pada saat itu juga dibantah oleh mahasiswa-mahasiswa lama (senior) bahwa saat itu tak ada sedikitpun membahas sesuatu seperti yang dituduhkan oleh sang dosen. Oknum dosen tersebut langsung membubarkan dengan luapan emosi dan suara yang keras sehingga mengundang perhatian para mahasiswa dan beberapa orang lainnya untuk mendekat ke lokasi kejadian. Dan salah satunya adalah mahasiswi yang kemudian menjadi korban kekerasan sang dosen. Mahasiswi tersebut adalah seorang wartawan UKM Lima Washilah. Sebagai seorang wartawan, tentu yang dilakukan adalah mendokumentasikan kejadian tersebut dan ini sudah menjadi hal yang wajar dilakukan oleh seorang pers. Namun, yang terjadi justru sang dosen mencoba untuk merampas alat yang digunakan oleh korban untuk mendokumentasikan kejadian tersebut. Tentunya si korban menolak, dan akhirnya sang dosen menarik dan mendorong bahkan mencekik korban. Hal ini membuat korban menangis histeris dan memicu reaksi dari beberapa mahasiswa yang menyaksikan kejadian tersebut. Tak hanya itu, menurut beberapa saksi, sang dosen juga sempat melontarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh seorang pendidik. Menurut beberapa saksi, sang dosen melontarkan kalimat ‘Allahu Akbar, apakah ini yang diajarkan oleh orang tua kalian’. Tentu ucapan seperti ini tak pantas diucapkan oleh sorang pendidik yang seakan-akan perbuatan para mahasiswa adalah perbuatan jahat sedangkan sang dosen adalah orang yang baik. Bukan hanya itu, hal ini juga dapat menyinggung perasaan orang yang ditujukan kalimat tersebut, karena sang dosen menganggap orang tua mahasiswa yang terkait tidak becus dalam mendidik. Apalagi sang dosen setiap harinya memakai pakaian layaknya seorang muslimah sejati yang taat, namun sikap dan perilakunya tak mencerminkan hal tersebut. Hal ini tentunya bisa ditiru oleh orang lain yang menganggap tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan dihalalkan oleh Islam dan tentunya secara tidak langsung menyetujui tindakan yang selama ini dilakukan oleh teroris dan ormas-ormas islam yang selama ini melakukan tindak kekerasan.

Tak hanya itu, menurut pemberitaan Washilah, sang dosen mengatakan bahwa dia tak tahu bahwa korban adalah wartawan kampus dan menganggap bahwa yang meliput adalah mahasiswa biasa. Namun yang menjadi pertanyaan dari ungkapan sang dosen yaitu apakah ketika yang dijadikan korban tindak kekerasan adalah seorang mahasiswa biasa itu bisa dibenarkan? Apakah ketika yang didorong, dicekik, ditarik, dan sebagainya hanya karena melakukan hal yang sewajarnya itu sah- sah saja? Tentu itu sangat tidak dibenarkan. Apalagi yang melakukan tindakan tersebut adalah seorang pendidik yang juga memegang jabatan strategis dalam fakultas serta menjadi cerminan ‘muslimah yang taat’ (dari segi berpakaian) bagi sebagian orang.

Kejadian ini juga tak bisa dilepas dari serangkaian kejadian-kejadian terdahulu. Tentu kita juga harus membahas apa yang menjadi akar dari masalah tersebut untuk mengetahui mengapa kejadian tersebut bisa terjadi. Pertama, hal ini dikarenakan adanya pengekangan yang dilakukan oleh pihak birokrasi terhadap lembaga-lembaga intra kampus. Lembaga intra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang ada di (hampir) setiap jurusan dalam kampus telah dikekang, dan dituduh subversif oleh pihak fakultas. Seperti yang terjadi pada hari pertama Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2016, dimana birokrasi FEBI merampas atribut mahasiswa baru di depan gerbang masuk kampus hanya karena di atribut tersebut tertulis ‘tolak UKT-BKT’ yang nyatanya banyak merugikan mahasiswa khususnya mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan rendah. Dan salah satunya yang terlibat adalah oknum dosen yang telah dibahas panjang lebar.

Yang kedua, pihak birokrasi ingin merampas hak berdemokrasi dalam kampus. Demokrasi bukan dalam artian pemilihan, tetapi dimana mahasiswa bebas dalam berkumpul, berserikat dan berpendapat. Mahasiswa baru dilarang berkumpul hanya karena seniornya adalah orang-orang yang tak berlebihan jika dianggap sebagai ‘aktivis’. Yaitu orang-orang yang senantiasa menyuarakan kebenaran, orang-orang yang menolak penindasan, dan orang-orang yang tidak membenarkan adanya perampasan hak.

Dan yang ketiga, tentunya adalah akar dari segala masalah yang ada. Kekerasan yang terjadi di dalam dunia pendidikan tak lepas dari sistem kapitalisme yang mengikat seluruh sendi kehidupan manusia. Sistem yang diilhami oleh pendidikan di Indonesia. Louis Althusser mengatakan bahwa kapitalisme membangun ‘aparatus state ideologi’ yang meliputi sekolah serta media dan ‘aparatus state represif’ yang meliputi tentara, polisi dan aparat keamanan lainnya. Dari teori ini kita bisa beranggapan bahwa kurikulum pendidikan kita adalah kurikulum yang memang diciptakan untuk mengekang pelajar untuk taat pada sistem kapitalisme. Mahasiswa yang menjadi bagian dari seorang pelajar dibungkam lewat pendidikan maupun media-media untuk acuh terhadap persoalan kemanusiaan yang ada di luar sekolah-sekolah mereka. Pelajar (mahasiswa) dibuat untuk tidak terlibat dalam gerakan-gerakan sosial dan hanya fokus pada kesibukan mereka.

Pendidikan saat ini juga hanya membuat para pelajar untuk menjadi orang-orang yang disiapkan pada pasar tenaga kerja. Seakan-akan pendidikan bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan seseorang. Seperti yang dikatakan Robin Small, bahwa ‘sebuah sistem kapitalis mengarahkan sekolah-sekolah ke arah sebuah kurikulum dan pedagogi yang bertujuan untuk menghasilkan keluaran-keluaran yang praktus, dan bukan perkembangan pribadi dalam dirinya sendiri’ (Robin Small:2014). Artinya, sekolah-sekolah hanya mengajarkan kita untuk memiliki kebiasaan yang cocok dan siap untuk dipekerjakan pada kantor-kantor dan pabrik-pabrik kerja demi kelangsungan sistem kapitalisme. Hal seperti ini bisa terjadi karena kekuasaan sebuah negara yang mempunyai otoritas untuk menerapkan kurikulum yang tak lepas dari kepentingan-kepentingan kelas sosial masyarakat. Indonesia yang saat ini dikuasai oleh orang-orang borjuasi tentunya menjadikan negara ini menjadi negara yang melayani kepentingan borjuasi pula. Inilah mengapa dalam sekolah maupun kampus tak pernah mengajarkan kita untuk melawan sistem yang zalim, membela masyarakat miskin yang tergusur, membela kepentingan-kepentingan kelas yang tertindas, dan lain sebagainya. Maka dari itu, sebagai seorang pelajar yang senantiasa belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, kita harus berpihak. Karena tak ada ilmu yang bebas nilai, tak ada ilmu yang netral. Dan yang menjadi pertanyaan, apakah kita berpihak dan berdiam diri pada kezaliman? Ataukah kita memilih melawan sistem yang ada dengan segala konsekuensi yang ada demi membela masyarakat tertindas?

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Comments

comments