Opini: (Tradisi) Konflik, Kekerasan dan Wajah Peradaban

Febri Ramadhani

*Oleh: Febri Ramadhani

Rentetan peristiwa yang akhir-akhir ini muncul ke permukaan seolah menggambarkan betapa “gepeng”nya wajah kampus peradaban. Kampus yang mengusung trilogi pendidikan, yaitu pencerahan, pencerdasan dan prestasi ternyata hanya menjadi pemanis untuk menarik minat pelajar menimbah ilmu dikampus hijau ini. Kampus yang menjadi pusat kajian Islam di Indonesia timur. Decak kagum menatap gedung-gedung berarsitektur arab, megah nan indah melambangkan kejayaan dan peradaban modern. Entah apa lagi yang mesti aku tuliskan dan aku katakan dalam tulisan yang sederhana ini.

Pendidikan yang sejatinya diharapkan menjadi oase intelektual, semuanya telah berbanding terbalik (anomalistic) dikampus peradaban.  Kini kita harus menyadari, konflik dan kekerasan tidak hanya terjadi lingkungan sekolah, antara guru dan siswa tapi terjadi juga dilingkungan universitas yakni antara dosen dan mahasiswa. Konflik dan kekerasan layaknya dua sisi mata uang yang sama dan mustahil dipisahkan.

Dalam bahasannya Friere, pendidikan diperuntukkan untuk memanusiakan manusia. Didalam usaha untuk memanusiakan, pendidikan harus bergerak pada visi membebaskan. Membebaskan artinya senangtiasa memberikan ruang kiritik dan “tanda tanya” dalam setiap ilmu yang dipelajari, tidak lantas menutup ruang kritis secara absolut. Doktrin-doktrin kepatuhan tanpa ada ruang kritik hanya akan memunculkan kesadaran-kesadaran magis dan naif. Corak pedidikan demikian tidak menjadikan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya, melainkan seperti robot karena otaknya dilumpukan oleh sistem yang absolut tanpa ada ruang kritik (Agus Hilman: 2013).

Kekerasan Itu Mendidik ?

Kekerasan itu mudah menular, berjangkit bagai wabah penyakit (Sindhunata: 2007). Peristiwa beberapa hari yang lalu, mengingatkan kita bagaimana pentingya moral dan etika diajarkan dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kala itu. Mayoritas diantara kita, hanya mampu cerdas teori bukan praksis. Kekerasan adalah sudut lain karakter manusia yang masih dipertahankan oleh sistem pendidikan kita. Padahal, pendidikan menginginkan rasionalisasi kemanusiaan (homo sapien), bukan mengafirmasi konteks kekerasannya (homo violens). Pemukulan (kekerasan) terhadap salah satu wartawan kampus UKM LIMA WASHILAH di UIN Alauddin Makassar , menunjukkan bagaimana pola interaksi sosial yang kita bangun masih sebatas teoretis. Kita masyarakat kampus peradaban, mengagungkan peradaban tapi realisasi yang tidak beradab. Banyak alibi yang menghiasi proses penyelesain kasus tersebut. Mulai dari dosen yang tidak bersahabat dalam berinteraksi, sampai alibi wartawan kampus yang tidak punya tanda pengenal. Saya berpendapat bahwa, kasus-kasus seperti ini jangan hanya dipandang dalam sudut etika sosial kebudayaan tapi juga sudut hukum. Dan kalau memang ada indikasi pelanggaran maka selesaikan dengan cara mediasi (mediator), dan kalau pada akhirnya tidak bisa, maka ultimum remedium nya adalah penyelesaian secara hukum. Tidak ada plihan lain.

Tradisi Regenerasi

Konflik dan Kekerasan begitu akrab dengan praktik kehidupan kemahasiswaan di Kampus Peradaban. Bahasa “damai” mungkin sudah dilupakan, tapi bahasa “balas dendam” itulah kata yang tepat menggambarkan wajah kampus peradaban saat ini.

Baru-baru ini, kembali kita menyaksikan bentrokan antar fakultas yang saling perang batu. banyak yang jadi pemain, tapi tidak kalah juga banyak yang menjadi penonton dengan teriakan sorak-sorak gembira riau riah menyemangati sang pemain. Kita menyaksikan lapangan sepak bola dan bola basket menjadi “ring tinju” yang sangat strategis diantara keduanya.  inilah wajah peradaban kita saat ini. Hal semacam ini berlangsung dari generasi ke generasi (regeneration) hingga banyak berkata, Film bentrok yang berepisode. Entah sudah berapa episode, akupun tak tahu.

Rezim kekerasan dan tradisi bentrok yang tidak mendidik ini harus ditumbangkan dan diganti dengan fundamen yang mencerdaskan dan mententramkan. Harus dibangun dengan harmonisme sosial dam proses interaksi sosialnya. Peradaban tidak hanya boleh menjadi tag line di UIN Alauddin Makassar. Peradaban harus dipribumisasikan dalam realitas kemahasiswaan yang beradab dan berkemajuan agar wajah peradaban kembali seperti apa yang kita cita-citakan.

*Penulis adalah Ketua Umum Independent Law Student Periode 2015-2016, Anggota Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Periode 2016-2017.

Comments

comments