Oase Romantisme Sumpah Pemuda

Oleh: Febri Hukum

Peringatan hari Sumpah pemuda menjadi refleksi tahunan di negara Indonesia yang sudah 71 tahun merdeka. Berbicara tentang Pemuda, aku teringat tatkala Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno berkata, berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia. Dinamika kepemudaan seakan tak pernah berhenti menghiasi ruang-ruang sejarah kebangsaan kita. Sejak kongres pemuda Indonesia diselenggarakan, paling tidak memberikan suntikan efek semangat (spirit)dengan dosis yang sangat besar. Pada saat itulah dihasilkan tiga hal penting: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada Kongres Pemuda ini pula lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan oleh Wage Rudolf Soepratman melalui gesekan biolanya.

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari sumpah pemuda. Tahun-tahun setelahnya kita namakan peringatan hari sumpah pemuda. Itulah peristiwa bersejarah sekaligus awal perubahan besar yang dilakukan pemuda bangsa Indonesia. Bukti Tinta historis kebangsaan Indonesia, selalu saja pemuda hadir sebagai katalisator perubahan dan kebangkitan bangsa.

Memori Soeharto

Pada tahun 1998, Pemuda lagi-lagi menunjukkan eksistensinya. Mahasiswa menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Peristiwa 1998 ini juga dibarengi dengan berbagai tindakan represif pemerintah yang mengakibatkan tragedi-tragedi seperti Tragedi Cimanggis, Tragedi Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, serta Tragedi Lampung. Tindakan represif ini mengakibatkan tewasnya aktivis mahasiswa, sipil dan ratusan korban luka. Pemerintah yang seharusnya memberikan oase kesejahtraan malah anomalistik. Sehingga konflik vertikal menjadi sebuah keharusan.

Paling bergemuruh pula adalah ketika mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR / MPR. Pada akhirnya Presiden Soeharto saat itu melepaskan jabatannya sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru menuju Orde Reformasi. Perubahan inilah yang diimpikan oleh pemuda untuk mencapai secercah harapan masyrakat Indonesia. Meskipun pada realitasnya mimpi itupun belum terwujud sampai sekarang.

Katalisator Perlu Berbenah

Katalisator adalah bahasa yang saya gunakan untuk menamai gerakan pemuda. Demikian berarti penggerak dan perubah. Dari dulu hingga sekarang, pemuda terus menunjukkan eksistensinya dilapangan sosial. Hanya saja bentuknya yang berbeda dulu dan sekarang. Bukan peristiwa Sumpah pemuda yang mesti kita hadirkan, tapi esensi semangat yang perlu digelorakan di era modernisme ini

Perjuangan pemuda dulu berbeda dengan sekarang ini. kalau dulunya pemuda berperang dengan senjata dan berdarah-darah bahkan ada yang mati, kini tidak lagi. Perang dan kematian itu mari kita ganti dengan semangat belajar dan berbuat untuk bangsa. Apa yang kita bisa mari kita lakukan. Kalaulah anda pemuda yang gemar bepolitik, maka berpolitiklah untuk bangsa dan negara ini. Kalau anda gemar membaca dan menulis, maka menulislah untuk bangsa dan negara ini. Kalau anda pemuda organisatoris, maka organisisrlah pemuda untuk memajukan bangsa dan negara ini. Mari kita manfaatkan segala potensi, kreatifitas dan aktivisme sosial-kemahasiswaan kita. Berawal dari hal-hal yang sederhana yakinlah akan membawa perubahan besar di kemudian hari.

Seperti yang saya katakan, pemuda sang katalisator. Pemuda sebagai penggerak perubahan, entah maju atau mundurnya bangsa ini.  Pemuda adalah tulang punggung, dari awal telah mewarisi sekelumit masalah kebangsaan untuk diperbaiki. Benar bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Kalau bukan kita, siapa lagi ? kalau bukan sekarang, kapan lagi ? maka dari itu marilah kita berbenah diri untuk menjadi generasi penerus bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum, Ketua Umum ILS (Independent Law Student) periode 2015-2016.