Penggunaan Kertas Merusak Lingkungan, UIN Alauddin Belum Beri Perhatian

Wahyuddin Halim

Washilah – Dalam proses produksi, satu rim kertas membutuhkan satu pohon kayu. Kalau dihitunghitung, UIN Alauddin yang mimiliki mahasiswa tak kurang dari 23.000, jika setiap mahasiswa menghabiskan tiga rim kertas setiap semester maka jumlah kertas yang dibutuhkan dalam enam bulan sebanyak 69.000 rim kertas.

Dalam skala yang lebih besar, khususnya perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia yang jumlahnya 175. Jika jumlah mahasiswa dan konsumsi kertasnya dirataratakan sama dengan UIN Alauddin, maka setiap semester menghabiskan 12.075.000 rim untuk konsumsi kertas perguruan tinggi negeri, hasil penjumlahan dari 69.000 x 175 sama dengan jumlah pohon yang harus ditebang setiap enam bulan.

Asrullah, Reportor Washilah menemui Wahyuddin Halim Kepala Pusat Kajian Islam Sains dan Tekhnologi UIN Alauddin, untuk bincang-bincang mengenai penggunaan kertas dan dampaknya terhadap lingkungan. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana pendapat Anda mengenai penggunaan kertas?
Pertama-tama, harus ada kesadaran bahwa kertas itu dibuat dari bahan baku kayu. Sumber daya hutan kita itu semakin lama semakin berkurang. Bahkan di beberapa tempat sudah punah. Kalau tidak ada rekayasa teknologi untuk menciptakan bahan baku lain untuk menggantikan kertas, saya kira kita terus-menerus turut menyumbang terjadinya deporestrasi penggundulan hutan di Indonesia.

Saya juga khawatir jika tidak ada secara sistematis dari pemerintah, kalangan masyarakat untuk menghentikan laju deporestrasi, saya kira beberapa dekade mendatang hutan kita akan habis. salah satu yang menyebabkan deporestrasi adalah penggunaan kayu untuk produksi kertas. Olehnya itu, sebagai orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan terutama pelestarian hutan tropis Indonesia.

Saya mendukung sekali setiap universitas, setiap Institusi Pemerintah itu beralih ke penggunaan media-media yang lebih pro lingkungan salah satunya adalah digital. Yang pertamakali kita lakukan adalah digitalisasi sistem akademik dimana misalnya absensi, kemudian penyimpanan database mahasiswa itu semua sudah dilakukan secara sistem digital.

Saya sudah mengalami semua itu, saat kuliah di Canda Dalhousie University Canada terutama sekali di The Australia National University dimana kita jarang sekali menggunakan kertas dalam proses belajar mengajar.

Pertama kita mendaftar kita itu dengan pendaftaran online, membayar online, bahan-bahan perkuliahan dikirimkan lewat email oleh dosen, kemudian respon dikirim via email, menulis paper dikirim secara digital kepada dosen dimanapun kita berada dan kita tidak perlu mencetaknya. Yang kemudian dicetak nanti yang terakhir yaitu disertasi. Makalah-makalah tidak lagi ditemui dalam bentuk kertas.

Apakah anda melihat dosen di UIN Alauddin belum mampu menggunakan perangkat elektronik dalam proses perkuliahan maupun dalam proses bimbingan skripsi?
Hampir semua dosen sudah mampu menggunakan alat pengolah kata berbasis tekhnologi, tetapi untuk memanfaatkan tekhnologi informasi dengan tujuan pengajaran saya kira itu masih perlu pelatihan untuk dosen-dosen. Karena bagaimana pun juga banyak dosen-dosen kita yang memulai karir secara akademik itu dimasa belum berkembang tekhnologi informasi seperti sekarang ini.

Berharap memiliki keterampilan menggunakan alat elektronik saya kira masih agak sulit. Paling tidak yang paling pertama yang harus terlatih adalah mahasiswanya, jikalau mahasiswanya ternyata juga sudah mudah diajak memanfaatkan tekhnologi informasi dengan tujuan pembimbingan saya kira itubisa.Saya sendiri di masa depan saya mau mahasiswa yang saya bimbing itu saya perbaiki skripsinya secara digital saja.

Terkait pemaksimalan penggunaan kertas, yang biasanya hanya digunakan di satu sisi saja, sedangkan disisi sebelahnya kosong. Bagaimana Anda melihat itu?
Saya sewaktu di The Australia National kita dianjurkan untuk mencetak timbal balik. Skripsi, saya lebih setuju menggunakan kertas timbal balik, dan ini seharusnya menjadi aturan bahwa semua skripsi diprint out timbal balik dan seharusnya yang dicetak yang draf terakhir saja.

Kemudian satu cara menghemat kertas di lingkungan akademik adalah dengan mengurangi surat-surat dalam bentuk hardcopy melainkan via surat elektronik, lewat WhatsApp lebih mudah. Saat saya kuliah di luar negeri jarang sekali kita dapatkan surat dalam bentuk cetak. Baik untuk mahasiswa, dosen maupun pegawai. Melainkan semuanya dalam via email dalam bentuk PDF.

Bahkan undangan untuk pertemuanpertemuan akademik itu tidak perlu lagi dicetak cukup via email saja itu mengurangi penggunaan kertas secara signifikan. Oleh karena itu saya menganjurkan itu dibicarakan secara akademik di tingkat universitas bahwa halhal yang akademik bisa dilakukan tanpa kertas bisa digunakan saat ini.

Apakah pihak LP2M atau Pusat Kajian Agama Sains dan Tekhnologi sudah pernah mengusulkan efisiensi penggunaan kertas?
Belum sampai saat ini, tapi saya mulai berpikir seperti itu. Saya akan mencoba melakukan sebuah kegiatan akademik semacam workshop atau seminar dan mengundang ahli Information and Technologi (IT) dan akademisi, hasilnya nanti sebuah rekomendasi kepada pimpinan universitas yang tujuannya meminimalisir penggunaan kertas, serta beralih menggunakan media online untuk kegiatan akademik.

Bagaima anda melihat perhatian UIN Alauddin terhadap lingkungan?

Isu lingkungan belum menjadi isu akademik terutama kampus kita sendiri. Memang tidak bisa merepresentasikan sebuah kepedulian terhadap lingkungan yang bersih. Selanjutnya isu lingkungan belum menjadi isu akademik misalnya setiap jurusan memiliki program studi lingkungan, tujuannya memberi kesadaran kepada mahasiswa betapa penting memelihara lingkungan. Sebagai keseluruhan usaha membangun dunia ini. Bahkan isu lingkungan menjadi isu penting dalam agama seperti jika merusak lingkungan sama dengan merusak agama.

Menurut saya ke depan juga perlu ada studi pusat lingkungan hidup dibawah LP2M. Fungsinya adalah untuk mengkaji isu-isu lingkungan yang sedang berkembang. Kalau di kampus saya dulu jelas sangan bersahabat dengan lingkungan. Bersih, asri, sampah susah ditemukan, karna civitas akademiknya sadar akan kebersihan dan bebas rokok meski ditaman-taman kampus.

Selanjutnnya isu lingkungan menjadi isu yang penting dan menjadi kajian yang banyak diminati oleh mahasiswa.

BIODATA
Nama : Wahyuddin Halim
Jabatan: Kepala Pusat Agama Sains dan Tekhnologi LP2M
Tempat Tanggal Lahir : Wajo, 21 November 1969
Pendidikan:
– S1. Fak. Ushuluddun IAIN Alauddin Makassar, Jurusan Aqidah dan Filsafat (1993)
-S2. (1) Dalhousie University Canada. (2001) (2) Tample University Philadelphia, USA (2005)
– S3. The Australian National University, Canberra, Australia. (2015)

Penulis: Asrullah