Jadi Peneliti Muda, Mahasiswa FKIK Wakili UIN ke Jepang

Washilah–Tak banyak orang dapat menuai sukses di bidang penelitian. Butuh keuletan, disiplin dan kerja keras untuk melakukan riset.

Hal inilah yang dilakukan Nurafiaty Mursalim, Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar. Ia tak menyangka dapat terpilih sebagai young researcher (peneliti muda) dalam kegiatan tahunan konferensi kesehatan masyarakat tingkat asia pasifik atau biasa disebut Asia pasific academic consortium for public health (Apacph) ke-48 di Tokyo University, Jepang.

“Dalam kegiatan ini, praktisi kesehatan masyarakat tingkat dunia berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu kesehatan masyarakat tingkat asia pasifik,” jelas Nurafiaty yang kerap disapa Pipit ini.

Menjadi yang pertama di UIN Alauddin Makassar memberikan kebanggaan tersendiri bagi Pipit. Mulai dari melakukan penelitian, melewati tahap seleksi abstrak hingga pengumuman kelulusan dilaluinya sendiri.

“Kalau di Indonesia, apalagi kampus-kampus ternama sudah sering ikut dalam kegiatan ini, malahan untuk program pascasarjana di beberapa kampus diwajibkan mengirim penelitiannya. Alhamdulillah, saya yang pertama di UIN dan sangat bangga karena saya lakukan itu sendiri,” kata perempuan kelahiran 26 November 1993 ini.

Apacph yang akan berlangsung pada pertengahan september ini memberikan kesempatan bagi pipit untuk mempersentasekan hasil penelitiannya yang berjudul Efectiveness leaf beluntas extract as biolarvaside against aedes aegypti larvae instar III yang memfokuskan pada pemanfaatan ekstrak daun beluntas sebagai biolarvasida alami pengganti abate untuk menanggulangi nyamuk DBD.

Tak ada kata gagal dalam kamusnya. Pengalamannya dalam mengikuti lomba dibidang penelitian hingga ke tingkat nasional memberinya pelajaran untuk terus berusaha. Hasilnya, sangat berbuah manis.

“Setelah berkali-kali trial error, tahun ini dapat keluar negeri,” serunya mantap.

Kurang Mendapat Dukungan dari Pihak Kampus
Memperoleh dukungan moril dari pihak pimpinan kampus tentu tidak cukup membawa Pipit terbang ke Negeri Matahari Terbit itu. Pihak kampus tentunya berkewajiban memberikan penghargaan dan dukungan materil atas prestasi yang diperolehnya. Bagi Pipit, meski dukungan yang diberikan pihak pimpinan masih sangat jauh seperti yang diharapkan, ia tetap bersyukur.

“Alhamdulillah, dapat dukungan. Tapi, malah pas di keuangan yang sulit,” jawabnya saat ditanya terkait bantuan dana yang diberikan pihak pimpinan kampus.

Kendala lain dalam penelitian Pipit adalah alat penelitian yang harganya tentu tidak murah. Ia mengaku beberapa kali meminjam alat dari Unhas.

“Tapi saya sangat berharap, kegiatan seperti ini jangan cuma diapresiasi tapi juga di support dengan selayaknya. Toh, ini juga untuk kampus,” lanjut anak dari pasangan Mursalim dan Hj St Suarni ini. Melalui kegiatan ini ia berharap penelitiannya dapat dilanjutkan hingga ke tahap berikutnya dan dapat beguna bagi bangsa.

Tak lupa dengan almamater, Pipit juga berharap langkahnya itu bisa menjadi pembuka jalan bagi mahasiswa UIN yang juga ingin berkecimpung di dunia penelitian. Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa UIN pun mampu bersaing di tingkat dunia, apalagi dalam bidang penelitian.

“Saya risih dengan image UIN Alauddin sebagai kampus rusuh. Mari sama-sama buktikan ke dunia, UIN Alauddin mampu bersuara bukan hanya di jalan, tapi di forum-forum global. Semoga dapat memotivasi teman-teman dan adik-adik almamater,” tutupnya.

*Nurfadhilah Bahar

Comments

comments