Jingga Dunia Media

Ilustrasi | wordpress.com

Oleh: Adam Syahroni

Dia seperti kaca yang diselimuti embun. Membuatku terjebak dalam dilematis tak berujung. Tak tau harus bagaimana, seperti apa, dan makhluk macam apa dia sebenarnya. Aku bingung seperti gelembung-gelembung sabun yang tak tahu arahnya kemana. Hanya tunduk pada perintah angin. Aku hanya menganalisa, menduga, dan berhipotesa sejauh yang kubisa. Dia abstrak dan sulit untuk diterka. Jalan pikirannya sulit untuk kutebak dan kutangkap, seolah olah sedang berburu nyamuk psikopat bertaring kapak.

Seperti biasa rutinitas sore menatap senja menjadi santapan favorit di loteng rumahku. Tapi sayang sang surya tak pernah mau diajak untuk berbicara. Seribu isyarat telah kulemparkan., tapi tetap saja dia membuang muka. Sudahlah, dia gagu dan buta. Hanya kretek yang bisa mengerti perasaanku saat ini. Kutekan tombol fire untuk membumi hanguskan ujung rokok. Hisapan pertama memberikan rasa pahit pada tenggorok. Pahit mungkin adalah sebuah proses. Tapi akan terasa manis ketika tepi lidah menyentuh dan membasahi sang filter. Menstimulus otak untuk berpikir liar, menjelajah ribuan inspirasi yang tersembunyi dalam ruang tak berdimensi. Disaat sebatang rokok dipercikkan dengan api, disaat itu pula kejernihan dan keindahan berpikir akan bergejolak. Bahkan mampu mengalahkan kenikmatan memandang senja di sore hari.

Terbayang wajah tirus, kurus dan berkulit putih mulus berperawakan Cina kw dua, mulai membuncah pikiranku. Menurut kaca mata fisik saya dia adalah makhluk pelupa, egois, dan apatis. Telah genap satu bulan aku mengenalnya. Tak pernah kulewatkan satu haripun untuk menyapa, mengabari, bahkan mengusik ketenangan dan waktu istirahatnya. Sebuah ambisi lelaki yang dinilai kurang efektif untuk menggoda wanita. Dia adalah tipe wanita yang susah untuk dienkripsi (ditebak). Ribuan kode yang tampak secara verbal dan non-verbal terbukti tak mampu kubaca. Dia istimewa bagiku, feminis dan fashionable. Senyum, tawa, dan candanya mampu mengubah musim panas yang gersang menjadi musim semi yang damai.

Saya teringat ketika pertama kali bertemu dengan dia. Di sebuah kedai kopi baru bernama D.C Caffe. Tepat pada malam minggu kujemput dia di depan kampusnya, kemudian menuju caffe tersebut. Di perjalanan kami tak banyak bercakap-cakap, mungkin karna efek kaku karna baru pertama kali bertemu. Di perjalanan kami di sambut dengan ratusan tiang lampu jalan di samping trotoar. Lampunya terlihat redup sehingga bersinar remang-remang seperti kunang-kunang. Baru kali ini motor andalan bernama Jojo abad 20 ditumpangi oleh stranger abad 21. Setelah sampai di caffe tersebut aku agak bingung untuk membuka sebungkus percakapan untuk berbasa basi. Caffe ini lumayan keren untuk bersantai dengan segelas kopi Frappucino. Beberapa poster typography bertajuk makna dan esensi segelas kopi telah terpasang dengan rapi. Dinding itu telah tampak seperti pohon kopi yang di dalamnya bersemayam nilai-nilai kehidupan. Pemilik kedai ini adalah keturunan etnis tionghoa yang terlihat sedang sibuk melayani konsumennya. Begitu pula dengan barista kopi yang sedang asyik meracik kopi sambil melontarkan senyuman kepada setiap pengunjung. Setelah memesan dua gelas kopi aku kemudian melontarkan sebuah pertanyaan.

“Apa kamu merasa nyaman berada di tempat ini?” mataku terpaku ke arah matanya.

Dia menjawab dengan santai.

“Ya lumayan sih!”. Dengan nada yang agak flat.

“Lumayan apanya?”

“Ya lumayan!”

Setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut mungilnya, aku mendadak jadi gagu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah pertanyaanku tadi salah? Bingung hingga lupa caranya tersenyum. Goooaaalll!! Aku dikagetkan oleh sekelompok fanatisme si pemuja bola bundar, berteriak seperti pemandu sorak seolah dunia ini hanya milik mereka. Sementara wanita dihadapanku terlihat biasa-biasa saja. Terlihat sibuk memainkan kotak selulernya. Dan hal seperti inilah yang tidak kusenangi saat berjalan dengan seorang wanita yang masih tergolong terestrial atau alien (asing) bagiku. Karna ini adalah pertemuan pertamaku dengannya. Kalian mungkin mengira kedekatan seorang manusia melalui sebuah media sosial akan mampu memberikan efek keakraban yang instan dalam menjalin suatu hubungan. Pada mulanya akupun berpikiran seperti itu. Ternyata hal itu tidak terlalu ampuh bagiku.

Aku heran dengan dia. Dia yang kukenal melalui kotak, terbukti tak berkutik saat kami duduk berdua secara langsung. Terlalu menghemat suara dan kata, sangat berbeda rasanya ketika bercengkrama di sosial media. Entah dia sedang berusaha menjaga image di hadapan seorang laki-laki yang penuh harap secara bertahap, atau aku yang secara sadar kurang memahami, bahwa kodrat wanita dari beberapa abad yang lalu mewarisi sifat pemalu, pendiam, dan agak sedikit cuek ketika pertama kali bertemu. Aku tak mau menjadi “latar” malam ini. Kupandangi wajah yang terlihat sok sibuk itu. Tiga menit menatap tanpa berkedip, sebuah rekor baru bagiku. Tiga menit berlalu membuatnya sadar bahwa dirinya telah diperhatikan. Dia yang dari tadi hanya menunduk dan mengamati dunia media, refleks menatap balik ke arahku sambil tersenyum dan berkata.

“Kenapa kamu memandangku seperti itu?” sambil menaruh kotak ajaib di atas meja.

Matanya seperti pancaran cahaya laser yang tepat mengenai mataku sebagai target utamanya. Aku terkunci dan tertangkap basah, membuat otak sebagai mesin pencari alasan bertabrakan dalam memilah data dan kata yang tepat untuk dijadikan sebagai jawaban dari pertanyaannya. Menurutku otak itu seperti galaksi yang didalamnya terdapat ribuan informasi berupa bintang, meteor, dan benda-benda langit lainnya. Semuanya bergerak beraturan sesuai dengan porosnya masing-masing. Nah, begitupun dengan otak manusia yang manakala semua informasi yang kita serap melalui panca indra sudah tidak beraturan sesuai porosnya, maka terjadilah anomali pikiran (abnormal). Efeknya, bulir keringat mencuat dari kulit kepala, otak meleleh seperti lilin atau blank. Gejala ini disebut sebagai syndrome salah tingkah level dua. Pertanyaan itu kujawab dengan nada sarkastik.

“Apa pertanyaanmu itu penting untuk dijawab ?” dengan perasaan takut jika tanduknya mendadak mencuat keluar dari kepala dan pergi meninggalkan ruangan ini.

“Ya perlulah” jawabnya dengan nada jengkel.
“Aku mempunyai dua alasan untuk menatapmu, alasan yang pertama adalah karna wajahmu mampu memperbudak mataku hingga aku tak bisa berkedip selama tiga menit lamanya”.

Pipi tirus itu mendadak berubah menjadi taman bunga mawar merah. Dia malu sambil mengepakkan sayap putihnya. Dia malaikat dan bukan wanita bertanduk. Secara kebetulan kami bersamaan menyeruput segelas kopi yang ada di hadapan kami. Kami berdua tersenyum dan saling memandang. Alam telah menangkap pikiranku, secara tidak langsung mengirim sinyal ke wanita yang ada di hadapanku. Dengan gerak refleks kami bergerak secara mutual. Setelah peristiwa kebetulan itu, kami berdua menjadi lebih talkatif dan berbicara panjang lebar sepanjang malam. Ada banyak topik pembicaraan malam itu. Saking banyaknya, pembungkus pembicaraan kami berserakan di seluruh ruangan cafe. Aku merasa bebas, dekat tanpa sekat membuatku lebih bersemangat. Mulai dari topik internal hingga eksternal. Rasanya sangat berbeda ketika berada di dunia media. Kedekatan dan keakraban lebih terasa. Kopiku basi malam ini. Butiran putih yang bersinar seperti kristal telah memurnikan dirinya dalam segelas air panas. Akibatnya hidupku menjadi terlampau manis, meredupkan hitam dan pahitnya kopi. Bahagia telah mengubah segelas kopi menjadi segelas gula pasir, membuatku tak habis pikir dengan apa yang terjadi padaku malam ini. Aku tak ingin beranjak dari tempat ini. Senyum, canda, dan tawanya yang alami telah mengalihkan duniaku. Aku suka cara dia menatap. Aku suka saat dia melamun dengan tatapan kosong. Aku suka tahi lalat yang melekat pada lehernya. Aku suka saat dia tertawa. Kotak seluler miliknya berdering, dan memecah suasana disela-sela pembicaraan. Dia menempelkan telunjuk ke bibirnya. Conversation is over! Aku dibuatnya bungkam hingga nyaris tenggelam dalam percakapan. Mulutku disumpal dengan satu jari telunjuk sebagai penutup mulut. Siapa sang elektorat (pemilik suara) di balik kotak itu? Gumamku.

Pembicaraannya terdengar mesra dan manja. Membuatku ingin muntah. Parahnya lagi ketika dia menyematkan kata S****g. Membuat gendang telingaku seperti disobek seperti kantong kresek. Isi kepalaku mendidih seperti larva gunung berapi. Pikiranku membuncah (kacau). Hanya ada satu kata yang ada di kepalaku F***. Secara tidak sengaja aku menyenggol dan menjatuhkan segelas kopi milikku. Aku menjadi spektakel (tontonan). Semua mata tertuju padaku. Pengunjung lain melihat ke arahku dengan mata sinis. Tak terkecuali pemilik Cafe yang berjalan ke arahku dan langsung membersihkan serpihan gelas kaca. Aku meminta maaf pada pemilik Cafe dan merasa sangat malu. Kopi yang terlampau manis itu hancur berkeping keping. Kopi telah menampakkan wajah dan identitas yang sesungguhnya. Dia hitam dan terlampau pahit hingga membentuk parit. Aku kemudian beranjak pergi meninggalkan dia. Dia berlari ke arahku menuju parkiran dengan sejuta omelan dan pertanyaan berharap untuk mendapatkan jawaban dan alasan. Tapi percuma aku sudah tuli, selama ini aku buta. Buta pada dia yang bernama Dyah, dan buta pada dunia media dengan sejuta selubung omong kosong dunia.

Tidak terasa senja telah menghilang dari pandanganku. Semua menjadi gelap dan senyap. Senja memang indah, tapi keindahannya hanya bisa dinikmati sesaat saja. Seperti wanita yang bernama Dyah. Keindahan yang dia berikan hanya sesaat dan itu menusuk. Dia jingga dunia media.

Comments

comments