Ini Tanggapan Akademisi UIN Terkait Sombayya ri Gowa

Sumber: Int

 

Washilah– Akademisi kampus UIN Alauddin Makassar Syarifudin Jurdi S Sos M Si saat ditemui Reporter Washilah mengatakan pendapatnya perihal Bentrok sengit di istana Balla Lompoa antara pasukan kerajaan Gowa dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Istana dipicu memontum ritual pencucian benda pusaka kerajaan atau Accera Kalompoang yang secara turun temurun digelar setiap tahun usai lebaran Idul Adha yang diambil alih oleh Perda Lembaga Adat Daerah (LAD).

Polemik Bupati yang melantik dirinya sebagai Raja, membuat Bupati Gowa Adnan Ichsan Yasin Limpo  menegaskan bahwa terbitnya Perda LAD karena tahta Kerajaan Gowa sudah tidak ada, namun digantikan Ketua LAD dalam hal ini adalah Bupati yang menjabat dan menjalankan seluruh fungsi adat dan budaya Gowa.

“Dalam kisruh seperti ini, Negara harus hadir melindungi lembaga-lemabaga adat, peranan LAD dalam pengembangan budaya daerah sangat efektif, namun pasal Perda Gowa yang perlu ditinjau ulang,” tegas Syarifudin Jurdi S Sos M Si yang juga ketua jurusan (Kajur) ilmu politik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF).

“Tujuan Perda LAD dibentuk guna menjaga dan melestarikan adat. Sangat disayayangkan Perda LAD yang memancing prahara dikalangan Masyakat Gowa,” lanjut Syarifuddin Jurdi terkait polemik Bupati yang memandat diri sebagai Sombayya (Raja) ri Gowa.

Meski pengangkatan raja gowa tidak sepenuhnya dituturkan dari garis besar keturunan tapi dipilih langsung oleh masyarakat.

“Bupati idealnya bertugas memberi kesejahteraan dan pelayanan untuk masyarakat, tidak mengurusi hal seperti ini dalam perebutan tahta kerajaan, sebab ini berpotensi mengakibatkan kekerasan komunal antara warga sendiri,” himbau Syarifuddin yang prihatin dengan masyarakat Gowa.

“Sebenarnya Pak Adnan punya tugas yang lebih penting dan lebih utama ketimbang menajadi raja, tingkat kesejajaran masyarat dalam aspek kesehatan dan pendidikan harusnya jauh lebih diutaman,” ujar Syarifudin

Syarifuddin Jurdi berpandangan bahwa tentu ada alasan terselubung dibalik ambisi Adnan Ichsan Yasin Limpo entah untuk memperkuat kedudukan sebagai politisasi atau ada motif tertentu, namun jika memang ini terkait dengan karir politik Adnan Ichsan Yasin Limpo baiknya membangun citra dengan menanamkan kenaikan.

Perda LAD ini jangan disalah gunakan, sebab LAD perannya sangat bisa dimanfaatkan untuk membangun sektor pariwisata Gowa yang mampu menyokong perekonomian daerah.

10 tahun silam Andi Maddusila keturunan raja Gowa ke 37 sudah menjadi rival politik Ichsan Yasin Limpo, yakni ayah dari Adnan Ichsan Yasin Limpo, yang menjadikan hubungan dua keluarga semakin memanas, namun ini tak ada hubungannya dengan keluarga kerajaan dan keluarga Ichsan Yasin Limpo.

Ini peristirahatan di Balla Lompoa, yang tak ada hubungannya dengan pemerintah politik, jelas Syarifuddin Jurdi menutup komentarnya.

Penulis: Epi Aresih

Editor: Afrilian C Putri

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*