Fiksi Peradaban

*Oleh: Sahi Alqadri

Miris mendengar serta melihat pelbagai kejadian yang menimpa salah satu  kampus PTN di Sulawesi Selatan. Ada beberapa Persoalan yang menarik untuk dibicarakan, salah satu diantaranya mahasiswa/i yang tak mampu kuliah perdana, mencicipi betapa nikmatnya dunia pendidikan yang terbingkai indah dalam lingkup Universitas.

Ribuan warna tersaji, tersebar tanpa batas menanti sepenuh hati, pelajar yang hendak beranjak menjadi raja diantara para siswa. Yah dia adalah Mahasiswa, kesempurnaan pelajar rasanya akan terungkap tuntas tak berbekas ketika bergelut dengan kampus, mengingat ke Maha-an yang di emban akan menjadi sebuah ikatan seorang siswa untuk kemudian menjadi  pertanggungjawaban yang akan disalahkan jika dilalaikan.

Persoalannya hanyalah sekadar peraturan yang hendak dijadikan patokan agar tidak dipermainkan.  Aturan yang di tetapkan  tidak boleh diganggu gugat itu dibenarkan, namun sepertinya, Tuhan sayang dengan manusia yang penuh rasa kasihan.

Beranjak dari kalimat tersebut, kurang dan lebihnya mereka mengatas namakan konsistensi, namun hal itu sungguh kontras dengan manusiawi. Ada puluhan dari mereka, ketika dinyatakan lulus tentunya telah berhadapan dengan pelbagai percobaan serta ribuan pengorbanan, mereka dengan gagah berani penuh percaya diri mencium tangan orang-orang terkasihnya dengan harapan, kembali bersama ilmu yang mumpuni. meninggalkan kampung halaman hanya untuk merancang masa depannya agar hidupnya tidak percuma.

Mereka hanyalah orang baru, saya kira bintang lapangan atau manusia kesohor pun awalnya butuh tuntunan dari yang berpengalaman. Betapa tidak, mereka belum memahami struktur ataupun tata cara yang ada namanya juga pemula selalunya ada yang salah.

Namun apalah daya, niat yang tulus guna untuk mengindahkan kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa” hanyalah tinggal niat. Toh mereka juga tak diindahkan, tak di pertimbangkan. Maka pantaslah mereka menuntut ilmu sampai ke Negeri Cina. Toh di Makassar  saja tidak di terima.

Kasus yang hampir mirip, lagi-lagi soal pengelolaan. Penetapan UKT-BKT sampai lima kategori ternyata salah bidik, satu di antara mereka ada yang mengungkapkan kekecewaannya melalui akun sosial medianya sebab ditempatkan pada kategori yang tidak semestinya. Keluarga yang penghasilannya pas-pasan, bahkan untuk makan pun sampai harus panas-panasan, berada pada kategori tertinggi, rasionalisasinya dimana ?

Penerapan kebijakan ini, tentu menjadi bumerang bagi mereka yang tak tau apa-apa mendapatkan hal yang tak sesuai logika, kezaliman ini sungguh adalah warna baru yang mereka dapatkan dalam dunia pendidikan, ada apa dengan sistem? Tidakkah ada pembicaraan ulang atas dasar kasihan.

Buruknya pengelolaan ini tentu akan menjadi virus penghambat ketika kita ingin berbicara mengenai peradaban, akan ada penghalang dari dalam, meski nampak namun tak mampu disentak, apatah lagi virusnya tak nampak, makin sulit tentunya.

Kepada calon mahasiswa atau sudah sah sebagai mahasiswa yang telanjur dikecewakan, jangan kecewa, jangan putus asa, akan ada kesempatan kedua, akan ada hikmah dari ketimpangan yang kalian terima.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

 

Comments

comments