Dituding Lakukan Kekerasan, Kajur Manajemen: Saya Kira Mahasiswa Biasa

Dewan Pakar UKM LIMA Ismail Hamid saat menyampaikan orasi ilmiah di depan Gedung Rektorat UIN Alauddin. Selasa (27/09/2016)

Washilah–“Saya kira dia mahasiswa biasa,” ujar Ketua Jurusan Manajemen Rika Dwi Ayu Permatasari yang ditemui di ruangannya, (26/07) pernyataan ini disampaikan perihal tudingan kasus kekerasan yang banyak menyudutkannya.

Mahasiswa yang terhimpun dalam Solidaritas Mahasiswa Anti Kekerasan (SMAK) bersama anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Washilah UIN Alauddin, menggelar aksi menuntut oknum Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang dinilai melakukan tindak kekerasan terhadap reporter Washilah Andriani, Senin kemarin.

Kala itu, Rika Ayu Dwi yang merupakan Ketua Jurusan Manajemen FEBI tak terima direkam melalui ponsel saat tengah membubarkan mahasiswa baru yang berkumpul, Andriani yang menolak memberikan ponsel pun mengaku didorong berkali-kali oleh Dosen yang kerap dipanggil Rika ini.

Dinilai tak mencerminkan sikap seorang pendidik serta melanggar Undang-undang pers, aksi yang dimulai dari Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) berlanjut ke Gedung FEBI ini menuntut permohonan maaf langsung oleh pihak terkait.

“Kami menuntut agar dosen yang bersangkutan meminta maaf kemudian permintaan maafnya dimuat di media,” tutur Ketua Umum UKM LIMA Asrullah, Selasa (27/09).

Di sisi lain, Koordinatur Mimbar juga menyatakan bahwa kasus tersebut sudah selayaknya ditindaklanjuti dengan pengaduan kepada Komisi Disiplin (Komdis), serta meminta Rika turun dari jabatannya sebagai Ketua Jurusan Manajemen.

Merasa tak memiliki wewenang untuk menurunkan jabatan, Dekan FEBI Prof Ambo Asse pun merestui perihal pengajuan yang akan dilayangkan kepada Komdis, dimana aksi berlanjut di Gedung Rektorat dengan menemui Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Dra Nuraeni Gani.

Dalam konsolidasinya, Eni kerap ia disapa, menyatakan akan melalui jalur mediasi sebagai tindaklanjut kasus kekerasan tersebut.

Di samping itu, Rika juga mengaku jika pihaknya memang tak terima direkam saat itu. “Memang kamu terima kalau misalnya orangtuamu direkam waktu marah-marah?,” tanyanya balik kepada Reporter Washilah sore itu.

Penulis: Fadhilah Azis

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*