KKNI Siapkan Alumni ke Dunia Kerja

Ilustrasi | news.merahputih.com

Washilah – Tiap tahun, UIN Alauddin Makassar mencetak lebih dari 2000 wisudawan. Dengan membawa toga dan map, para alumni berlomba-lomba mendapat momen terbaik di hari kelulusan, pun dengan gelar akademik sebagai simbol kebanggaan.

Menduduki jenjang perguruan tinggi selama ini dianggap sebagai jembatan penghubung menuju dunia kerja. Hal ini jelas, menuntut setiap universitas untuk mawas diri dalam mempersiapkan alumninya. Tak terkecuali bagi kampus hijau yang berdiri sebagai satu dari tiga universitas negeri di Makassar.

Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Mardan M Ag memberi penjelasan terkait perubahan standar kurikulum yang akan diterapkan saat ditemui di ruangannya. “Akan ada perubahan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI),” ujarnya (22/04).

Di bawah naungan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) penerapan kurikulum tersebut ditujukan untuk menyandingkan, menyelaraskan, dan mengintegrasikan antara produk pendidikan yang dikembangkan di UIN Alauddin, dengan hasil pelatihan dan lapangan kerja dari seluruh instansi.

KKNI menjadi jembatan antar sektor pendidikan dan pelatihan pembentuk Sumber Daya Manusia (SDM) nasional berkualitas dan bersertifikat melalui skema pendidikan formal, non formal, in formal dan pelatihan kerja atau pengalaman kerja.

Sesuai dengan peraturan presiden tahun 2012 no 8 terkait KKNI maka ijazah yang dikeluarkan bersama dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) berisi sub skill prestasi yang pernah dicapai selama kuliah. “Jadi ketika akan bekerja, instansi akan melihat daftar pengalaman kerja, atau pelatihan-pelatihan yang pernah diikuti,” tambahnya.

Meski aturan tersebut sudah diberlakukan oleh Kemenristekdikti pada 2013 lalu, namun UIN Alauddin rupanya baru akan menerapkan sistem tersebut pada tahun ajaran baru September mendatang.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan (AKK) Dra Nureni Gani MM bahwa Peraturan Menteri Agama (PMA) memang baru dikeluarkan. “Sejak tahun 2013 draft-nya dibuat oleh Kementrian Agama (Kemenag) tapi awal Januari baru masuk,” ujarnya.

Terkait penyusunan, menurut Prof Mardan telah dilakukan dengan melibatkan seluruh Wakil Dekan I serta jajaran ketua jurusan pada delapan fakultas untuk duduk bersama. Adapun mata kuliah yang nantinya akan disusun berdasarkan lapangan kerja dan tidak lagi melahirkan mata kuliah yang tidak berkaitan dengan jurusan tersebut.

KKNI saat ini memang masih gencar disosialisasikan ke berbagai perguruan tinggi termasuk UIN Alauddin, serta diharapkan menjadi senjata ampuh untuk mencetak lulusan-lulusan yang berkompeten dan mampu bersaing.

Kendati demikian, sebelum itu dua universitas negeri di Makassar yakni Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Negeri Makassar (UNM) rupanya telah lebih dulu mencanangkan program persiapan alumni ke dunia kerja.

Lewat program Sarjana Mengajar Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) UNM membentuk tenaga pendidik untuk terjun langsung ke wilayah-wilayah tertentu selama satu tahun, barulah kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Hal ini ditanggapi langsung oleh Kepala Bagian Akademik (Kabag) UNM Muhammad Nur. “Rata-rata mereka yang ikut disana akan memilih menetap dan terangkat sebagai PNS setelah satu tahun bekerja,” katanya.

Hal ini menjadi perlu, mengingat UNM adalah universitas berbasis pendidikan yang wajib untuk mempersiapkan para alumninya sebagai tenaga pendidik.

Berbeda namun sejalan, Unhas rupanya juga memiliki langkah jitu dalam mempersiapkan alumninya. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Unhas Dahlan Abubakar menjelaskan, jika pihak kampus mencanangkan program Job Placement Centre (JPC).

Program tersebut merupakan bentuk kerjasama dengan berbagai perusahaan luar untuk kemudian merekrut para alumni dan berkontribusi.

“Mahasiswa yang keluar sudah tersistem, perusahaan yang masuk dan bekerjasama dengan kami otomatis membuka lowongan kerja dan mahasiswa bisa memilih,” ujar pria yang saat ditemui mengenakan kemeja putih itu.

Dahlan juga tak menampik jika ada mahasiswa yang kemudian memilih untuk jalan sendiri atau dengan kata lain mencari pekerjaan sendiri tanpa memilih satu dari perusahaan yang telah disediakan.

Tak hanya JPC, Unhas juga memberikan keterampilan tambahan yang kemudian masuk ke dalam SKS dalam bentuk ekstrakulikuler bagi mahasiswa baru. Pemilihan keterampilan tersebut mengacu kepada minat mahasiswa yang berbeda dengan jurusan yang diambilnya.

Penulis: Fadhilah Azis

Comments

comments