IPPS Raih Juara Meski Minim Biaya

Peserta IPPS berfoto bersama sesaat setelah penutupan lomba National Moot Court Competition (NMCC) Mahkamah Konsistusi Piala Laica Marzuki di Universitas Hasanuddin beberapa waktu yang lalu

Washilah—Ikatan Penggiat Peradilan Semu (IPPS) adalah salah satu lembaga kemahasiswaan di Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). IPPS hadir untuk mengisi kekosongan mahasiswa yang jenuh dengan kajian-kajian sosial dan berbagai rutinitas lainnya.

Alhasil, setiap kali mengikuti kajian tentang hukum bersama mahasiswa dari universitas lain, IPPS selalu terbelakang. Dimana pokok tersebut tidak pernah dibahas sebelumnya, bukan hanya sekedar teori tapi juga praktik.

Setelah mengikuti seminar yang diadakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi), barulah dibentuk IPPS pada 30 Desember 2010. Sejak saat itu, IPPS banyak mengikuti berbagai perlombaan yang tak hanya mengangkat nama lembaga tetapi juga jurusan Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar.

Hingga pada tahun 2011, IPPS aktif mengikuti National Moot Court Competition (NMCC) di berbagai universitas ternama. Perjuangannya pun tak mudah, sebut saja ketiadaan ruang latihan yang mengharuskannya menyewa tempat di luar kampus.

“Waktu itu pelatih dibayar Rp. 50.000 per hari selama tiga bulan. Alhamdulillah, kami berhasil meraih predikat hakim terbaik, jaksa penuntut umum terbaik, panitera terbaik dan berkas terbaik,” ujar Ketua Umum IPPS Indra Adriansyah, saat bercerita tentang pelatih asal Unhas yang membimbingnya mengikuti lomba di Universitas Brawijaya.

Selama lima tahun sejak 2010, IPPS masih sekadar diakui oleh pihak fakultas dan belum dilegalkan secara resmi. Barulah pada 2015 oleh almarhum Prof Ali Parman yang saat itu menjabat sebagai Dekan FSH, IPPS kemudian disahkan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK).

“Sejak berdiri di FSH, status kami masih sebatas diakui. Belum ada SK yang melegalkan. Setelah pergantian pengurus dan saya ketuanya, barulah kami memperoleh SK yang melegalkan kami di fakultas,” tambah mahasiswa jurusan Ilmu Hukum itu.

Tak hanya perosalan tempat, diakui Indra salah satu masalah terbesar bagi mereka adalah persoalan dana. Pihaknya bahkan sudah berupaya meyakinkan birokrasi dengan sejumlah prestasi yang telah diraih namun, hanya support dan ucapan terima kasih yang diberikan.

“Kami selalu mengalami masalah dengan dana, sebab yang dibutuhkan tidak sedikit. Apalagi dengan lomba yang di luar daerah. Beberapa kali kami datang ke fakultas, hasilnya tidak ada. Kami juga pernah ke rektorat, Alhamdulillah dikasih dari Ibu Aisyah Kara sebesar Rp.200.000. Di beberapa lomba kami memutuskan untuk patungan bayar ini dan itu. Kalau perlu yang berangkat hanya yang ada uangnya, bahkan sempat pinjam di senior-senior senilai Rp.7.000.000,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Dekan FSH Prof Darussalam Syamsudin mengatakan jika reward bagi mereka yang berprestasi khususnya IPPS memang tidak secara langsung melainkan dalam bentuk beasiswa.

“IPPS memberikan keterampilan dan profesionalisme pada mahasiswa khusunya dalam kegiatan peradilan, makanya kita support. Reward yang kami beri memang selalu dipertimbangkan, setidaknya kita selalu pesan jangan sampai kegiatan menghalangi studi,” tuturnya.

Untuk kegiatan yang akan datang, IPPS tengah mempersiapkan delegasi untuk mewakili UIN dalam NMCC di Universitas Trisakti dan Piala Ketua Mahkamah Konstitusi di Universitas Tarumanegara pada Oktober mendatang. Diapun berharap agar keikutsertaan IPPS kali ini menjadi ajang pembuktian prestasi tak hanya di tingkat regional Sulawesi tapi juga nasional untuk menjadi yang terbaik.

Tak hanya sekedar support dalam bentuk ucapan tentunya, tapi juga support dana sebagai bukti apresiasi pihak kampus terhadap prestasi mahasiswanya. Saat ini, IPPS tergabung dalam Himpunan Komunitas Peradilan Semu Indonesia (HKPSI) bersama 48 Universitas di Indonesia dan menjadi koordinator untuk wilayah timur.

Prestasi yang pernah diraih:

  • Hakim, Jaksa Penuntut Umum, Kuasa Hukum & Panitera Terbaik Piala Mahkamah Agung, Universitas Brawijaya (2011)
  • NMCC Piala Tjokorda Raka Dherana, Universitas Udayana Bali
  • NMCC Piala Mahkamah Agung, Universitas Hasanuddin (2012)
  • Runner Up Hakim & Kuasa Hukum terbaik MNCC Piala Rektor, Universitas Hasanuddin
  • Runner Up Hakim, Panitera, Kuasa Hukum terbaik MK Piala Laica Marzuki, Universitas Hasanuddin (2015)
  • Harapan I Berkas kompetisi terbaik terbaik NMCC Abdul Kahas Muzakki VI, Universitas Islam Indonesia Jogjakarta (2015)
  • Juara I NMCC MK Piala Laica Marzuki (2016)

Penulis: Desy Monoarfa

Editor: Fadhilah Azis

1 Komentar

  1. Organisasi mahasiswa itu tidak boleh memberatkan instansi maupun masyarakat. Harus kreatif dong jadi mahasiswa, jangan menete terus dari birokrat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*