Curanmor Mewabah, Berikut Himbauan Satuan Pengamanan Kampus

Sumber: Int
Sumber: Int

Washilah-Akhir-akhir ini Pencurian Motor (Curanmor) kerap menjadi momok mengkhawatirkan untuk seluruh civitas akademika UIN Alauddin Makassar. Pasalnya, beberapa waktu lalu kehilangan motor telah terjadi dibeberapa fakultas salah satunya Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Sehingga, Satuan Pengaman (SATPAM) angkat bicara perihal curanmor tersebut. Melalui postingan di akun Facebooknya pada Jumat 17 Juni 2016, Koordinator Keamanan Syarifuddin menghimbau akan adanya pemberlakuan sistem buka tutup gerbang masuk dan keluar.

Selain itu, Syarifuddin juga menghimbau kepada seluruh Civitas Akademika UIN Alauddin harus melengkapi surat kendaraan. Minimal Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang bisa menyakinkan petugas. Satpam juga akan memberlakukan jam masuk kampus dari pukul 06.00-18.00.

Lebih lanjut Syarifuddin mengatakan, aktivitas kampus dinyatakan kosong dari jam 18.00 keatas. Tidak ada alasan Mahasiswa UKM  atau BEM se-UIN Alauddin buat kegiatan malam kecuali ada desposisi Rektorat memberi izin tembusan ke pengamanan.

“Guna mencegah atau mengurangi tindakan kriminal seperti halnya dengan Curanmor yang pernah terjadi di UIN Alauddin baru-baru ini. Hilangnya dua buah motor Mahasiswa Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan beberapa hari yang lalu,” jelasnya. Sabtu (18/06/2016).

Syarifuddin menjelaskan semua ini adalah akibat tuntutan masyarakat kampus ingin merasa aman termasuk tuntutan pimpinan yang selalu mengatakan satpam tidak bekerja.

“Program ini dilaksanakan demi mengantisipasi keluhan-keluhan Bapak dan Ibu serta mahasiswa terhadap Curanmor yang terjadi didalam kampus,” tutur Syarifuddin di salah satu kolom komentar facebooknya.

Hal ini sesuai dengan yang diucapkan oleh Kepala Perpustakaan Umum UIN Alauddin Quraisy Mathar, bahwa akses masuk itu tidak terbatas.

“Misalnya, kita tidak bisa identifikasi yang masuk itu Civitas Akademik dan mahasiswa. Selain itu, sekarang sudah sangat sulit mengenali satu demi satu wajah orang dengan puluhan ribu itu,” ujar Quraisy Mathar saat ditemui di ruangannya.

Penulis: Nurjannah

Editor: Afrilian C Putri

1 Komentar

  1. Pembatasan jam kampus secara perlahan juga akan mematikan ruang2 gerak kreasi Mahasiswa. Kasus curanmor di UINAM bukan kali ini saja terjadi, beberapa kasus sebelum nya ketika ada kehilangan motor, keesokan hari nya hingga beberapa hari pasti ada pemeriksaan STNK dipintu keluar kampus, dan hanya berlangsung beberapa hari saja. Solusi penertiban jam kampus sy rasa tidak relevan diterapkan dikampus, meskipun memang di UINAM jam malam itu tidak berlaku.
    Kenapa beberapa kasus curanmor yg ada di UINAM tidak pernah teratasi ??
    Semoga kasus ini bukan bagian dari “DESIGN” mematikan ruang2 kritis mahasiswa.
    Kalo kita mau mencontoh salah satu kampus besar di Makassar, yg tetap melakukan jam malam, dengan banyak nya jumlah mahasiswa dan dengan kondisi kampus yang dikelilingi rumah warga, akan tetapi solusi persoalan curanmor tidak dengan membatasi jam kampus.
    Terima kasih, semoga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*