Opini : Tergusur Ramu Ambivalensi

Ilustrasi | Republika.co.id
Ilustrasi | Republika.co.id
Ilustrasi | Republika.co.id

Oleh : Sahi Al Qadri

Ketimpangan-ketimpangan yang silih berganti dikampus menjadi sebuah penegasan bahwa tak satupun manusia bisa dianggap sebagai “mahluk sempurna setengah Dewa”.

Idealisme dari mahasiswa terpenjara oleh keAKUan oknum sang penguasa kampus, yang tak menginginkan mahasiswa kritis terhadap kepemimpinannya.

Berbagai cara pun dilakukan, salah satunya mengancam mahasiswa akan dipersulit untuk menempuh gelar sarjana, ancaman ini membuat mahasiswa terpenjara dalam keresahan mendalam.

Lantas, apa guna dari mahasiwa, yang digadang-gadang sebagai mahluk kritis. Tidak kah kita ingat tragedi mei 1998, bukankah mahasiswa sebagai pemeran utama dari hijrahnya indonesia menuju reformasi.

“Jika diam tak lagi bermakna, maka berteriaklah, jika berteriak tak lagi bermakna maka memberontaklah”. Kutipan ini membenarkan, semua yang salah harus diluruskan bagaimanapun caranya.

Timbul persoalan baru, sistem yang seyogianya mendidik malah menindih, itulah yang nampak pada perguruan tinggi, semua mahasiswa di haruskan kuliah maksimal empat sampai lima tahun, lebih dari itu maka pembayaran SPP akan d lipat gandakan dari  semula.

Hal ini di benarkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 49 Tahun 2014 tentang standar Nasional pendidikan tinggi yang lahir di rezim SBY.

Batasan masa studi disebutkan dalam pasal 17 ayat 3 poin D yang berbunyi “4 (empat) sampai 5 (lima) tahun untuk program diploma empat dan program sarjana”.

Secara tidak langsung, sistem ini memaksa mahasiswa untuk ngebut dalam perkuliahan, padahal penyajian secara menyeluruh sebuah ilmu pengetahuan tak hanya sekadar duduk manis dalam bangku perkuliahan.

Apakah dengan berkuliah selama empat tahun akan menjamin kehidupan mahasiswa itu akan menjadi lebih baik, saya kira tidak, mengingat bahwa tidak semua mahasiswa berada dalam jurusan yang disenangi.

Berlembaga salah satunya, lahir sebagai wadah bagi mahasiswa dalam mengembangkan ataupun menemukan wawasan yang baru dan berbeda dalam lingkup ilmu pengetahuan.

Terlepas dari internal maupun eksternalnya sebuah lembaga, tak menjadi persoalan ketika kita berbicara mengenai tuntutan ilmu yang perlu untuk di gali, sedalam atau sejauh apapun itu.

Peraturan yang ada, seolah tidak menginginkan mahasiswa untuk mengembangkan dan menemukan pengetahuan baru, sebab jika mahasiswa bergabung dalam sebuah lembaga, maka kemungkinan mahasiswa akan sarjana minimal Lima tahun.

Proses pengaktualisasian diri akan terhambat ketika di hubungkan dengan perkuliahan minimal lima tahun. peraturan ini dengan sendirinya, waktu dan aktivitas mahasiswa akan disibukkan dengan akademis saja.

Efektivitas dari seorang mahasiswa akan tertata rapi ketika keinginan dengan kesenangan bersinergi dalam satu titik. Itulah salah satu penyebab mahasiswa tertimpa jiwa intelektualitas yang begitu idealis, kepercayaan diri yang tinggi, kematangan secara akademik maupun non akademik, dan mental yang kuat. kesemuanya itu akan tersaji dalam sebuah kelembagaan.

Meskipun itu, kita tidak dapat generalisir semua fakultas ataupun jurusan yang ada. mengingat bahwa setiap jurusan punya tingkat kesulitan dan beban belajar yang tidak sepenuhnya sama.

Standardisasi kelulusan ini secara jelas hanya menekankan output bagi setiap individu mahasiswa, bukan proses. Itu berarti prinsip mengenai pendidikan hanya menekankan untuk cepat lulus setelah itu bekerja.

Sekarang begini, ketika perguruan tinggi hanya mencetak para pekerja handal, menjadi staf ataupun buruh, maka yang di untungkan tentunya pemodal. Tidak kah kita berharap bahwa setiap individu seharusnya mempunyai skill untuk kemudian berpotensi menjadi leader ataupun konseptor.

Berbicara rentang waktu selama tujuh tahun, ada benarnya ketika disandingkan dengan beban biaya yang dikeluarkan. Namun demikian, kita perlu memandang tidak hanya dari sudut materialistis, coba kita pikirkan dampak bagi individu mahasiswanya.

Namun demikian, tidak sedikit pula mahasiswa yang  disibukkan dengan kesenangan semata. Mahasiwa yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Jikalau semua generasi mahasiswa seperti itu, apa yang bisa diharapkan. Kita memerlukan pelaku sejarah, manusia yang menjadi aktor dari sebuah perubahan positiv. bukan penikmat sejarah, yang hanya sekadar menjadi konsumen dari karya orang lain.

Daripada hanya sekadar bersenang-senang di tempat hiburan setiap waktu, yang bertentangan dengan harapan Ir Soekarno, lebih baiknya dialihkan dengan kegiatan kelembagaan yang tentunya lebih bermanfaat. hiburan itu perlu, tapi tidak setiap waktu.

Penyajian ramuan yang dikeluarkan, akan menjadi sasaran tembak bagi mahasiswa yang merasa lebih nikmat berlembaga dibandingkan dengan memburu IPK. Mengenai kualitas ataupun integritas dari kedua golongan mahasiswa, antara organisatoris dan akademisi, biarlah waktu pembuktiannya.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbyah dan Keguruan Angkatan 2013

Comments

comments