Jarang Terbuka, Mahasiswa FSH Keluhkan Kegunaan Laboratorium Yustisi

Laboratorium Yustisi yang tampak tertutup, dengan tulisan tata tertib yang tertempel didepan pintu masuk Laboratorium. Laboratorium Yustisi sendiri berada di Fakultas Syariah dan Hukum.
Washilah–Berbicara mengenai Laboratorium Yustisi yang berada di Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), memang masih banyak mahasiswa FSH yang belum mengetahui tentang Laboratorium tersebut.

Saiful Mustafa salah seorang mahasiswa semester empat jurusan Ilmu Hukum mengatakan, Laboratorium Yustisi itu jarang terbuka dan jika terbuka hanya digunakan buat agenda semisal latihan persiapan kompetisi.

“Berikanlah program khusus agar kita sebagai mahasiswa bisa merasakan juga,” ujarnya. (14/05/2016)

Menanggapi hal itu, Sekretaris Jurusan Ilmu Hukum Rahman Syamsuddin menjelaskan tentang kegunaan dari Laboratorium Yustisi.

“Jadi Laboratorium Yustisi ini hanya digunakan untuk seminar proposal. Penggunakan laboratorium ini sangat dijaga, oleh sebab itu bila ingin memakainya kita diwajibkan untuk bersurat perihal peminjaman laboratorium yang ditujukan kepada Dekan FSH,” jelasnya.

Lebih lanjut Rahman menuturkan, tahun ini ia tidak lagi menjabat sebagai pemegang Laboratorium Yustisi, dan dialihkan kepada Safriani yang juga dosen dari Jurusan Ilmu Hukum. Adapun mahasiswa yang bisa menggunakan Laboratorium itu hanya mahasiswa semester enam, tujuh dan delapan.

“Karna pada semester itulah mereka mendapatkan mata kuliah yang mengharuskan ada praktek sidang nya,” ujarnya.

Selain itu Rahman juga menjelaskan perihal Laboratorium Yustisi bukanlah ruang kelas yang bisa digunakan untuk setiap semester yang ada di FSH.

“Berbeda dengan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang hampir setiap mata kuliahnya mengharuskan menggunakan laboratorium,” ujarnya.

Rahman juga mengatakan bahwa yang memakai Laboratorium Yustisi itu akan dibimbing oleh dosen yang ditunjuk langsung oleh Dekan untuk membimbing mereka selama menggunakan laboratorium. Hal ini dikarenakan banyak fasilitas didalam laboratorium yang harus dijaga keberadaannya.

Penulis: Rena Rahayu/Nurjannah
Editor: Afrilian C Putri