Budaya Parcel, Mahasiswa Setuju Dosen Menolak

Ilustrasi | Situz-go.blogspot.com
Washilah —Sejumlah mahasiswa yang duduk di semester akhir pasti mengalami kondisi menegangkan dalam menghadapi ujian skripsi, tesis ataupun disertasi. Sikap was-was juga bukan hanya tentang pertanyaan yang akan di sampaikan penguji.
Banyak juga diantara mahasiswa yang memikirkan dan mempersiapkan hal-hal yang nonteknis semisal sajian makanan yang harus disediakan saat ujian nanti dan biasanya berbentuk parcel.
Kerap kali terlihat sejumlah mahasiswa dengan setelan hitam putih, bolak balik dari satu ruangan ke ruangan lain sambil menenteng tas yang berisi berbagai macam makanan atau biasa disebut parcel.
“Sebenarnya tidak ada kewajiban bagi mahasiswa untuk membawa parcel ketika ujian. Ini hanya inisiatif dari saya pribadi, ada beberapa alasan kenapa saya melakukan itu pertama, karena budaya parcel ini turun menurun dari angkatan sebelumnya dan kedua sebagai bentuk ucapan terima kasih saja kepada penguji dan pembimbing,” ujar salah seorang mahasiswa ujian yang tidak ingin disebutkan identitasnya.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Dr Abd Rasyid Masri SAg pun menjelaskan jika pada dasarnya parcel merupakan inisiatif yang datang dari mahasiswa itu sendiri.
“Terkait parcel sebenarnya tidak ada penekanan dan paksaan. Parcel mungkin sebagai inisiatif mahasiswa untuk membantu meringankan beban sikologis penguji atau pembimbingnya, karena budaya parcel sudah ada sejak dulu. Tetapi, intinya tidak ada paksaan kepada mahasiswa untuk membawa parcel,” ungkapnya.
Menanggapi hal serupa, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Muhammad Amri mengatakan bahwa parcel merupakan tradisi yang sudah ada dari tahun ke tahun dan dianggap sebagai ucapan terima kasih.
Namun itu semua tidak ada paksaan, mereka dengan ihklas dan tulus memberikannya, dan untuk FTK sendiri, saya dan pimpinan lainnya akan duduk bersama dan membahas hal ini seperti apa keputusan kedepannya,” ucapnya lagi ketika ditemui di ruangannya.
Salah seorang dosen Fakultas Tarbyah dan Keguruan (FTK) Lily Thamzil Thahir bahkan mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap parsel yang diberikan pada saat ujian.
”Saya tidak setuju dengan adanya parcel saat ujian. Ujian murni jangan dicampur baurkan dengan hal-hal yang nonteknis. Diminta ataupun tidak, jangan ada yang seperti itu,” ungkapnya.
“Sebagai PNS atau dosen ada aturan tidak boleh menerima maupun memberi apapun dari anak didiknya. Tetapi jika ada aturanya, aturan yang benar adanya, lanjutkan. Kalau tidak ada aturannya, buatkan tapi jika itu positif. Akan tetapi semisalnya memberatkan dan merugikan, hentikan,” lanjutnya dengan suara lantang.
Lebih lanjut, Lily Thamzil juga menyarankan agar mahasiswa yang ingin membawa parcel setelah mendapat gelar S1 atau telah mendapatkan pekerjaan, dan bukan pada saat ujian jika memang ingin mengucapkan terima kasih.
Penulis: Nur Indah
Editor: Fadhilah Azis

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*