Cerpen “The Picture My Last With You”

Sumber: cerita-sedih-kisah-inspiratif.blogspot.com

Pintu kamar itu terbuka pelan mengusik aktivitas seseorang yang sedang fokus dengan benda kotak berwarna silver yang ada di hadapannya. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa yang masuk. Orang itu berjalan masuk seraya duduk di bangku pojok kamar itu sambil memandang lekat-lekat foto yang ada didepannya.

Tangannya terulur menyentuh foto itu, bibir indah itu membentuk bulan sabit kala tersenyum, sedang matanya tak henti melihat dua orang yang berpose dengan tampannya. Orang di sebelahnya tersenyum sambil membentuk huruf “V” pada jari tangannya dan yang satunya lagi tersenyum dengan lebarnya.

“Sudah lama kita tidak berfoto lagi,”bisiknya sambil tersenyum.

Perkataan sang adik berhasil mengalihkan fokus sang kakak yang masih berkutat dengan laptopnya. Ia mematikan dan menyimpan laptop lalu berjalan mendekati sang adik.

“Ia sudah sangat lama. Kira-kira satu tahun terakhir kita mengambil gambar ini,” ujarnya masih dengan bingkai foto ditangan.

“Kapan kita akan foto lagi? Aku ingin berfoto lagi denganmu kak, mungkin itu bisa saja jadi foto terakhir kita,” ujar sang adik.

“Apa maksudmu? Kita masih bisa berfoto hari ini, besok, lusa, bahkan setiap hari jika kau mau,” jawabnya dengan nada tegas.

“Benarkah? Kalau begitu bisakah kita berfoto, aku janji setelah ini tidak akan lagi meminta kakak untuk berfoto denganku,” kata sang adik dengan mata yang berbinar.

Sang kakak memandangi adiknya lekat-lekat, berfikir sejenak mengapa sikap adiknya menjadi aneh. Namun, fikiran itu ditepisnya dan mengangguk menyetujui keinginan sang adik.

“Baiklah kita foto sekarang,” seraya mengambil handphonenya.

Sang adik mengarahkan kamera dan berpose. Lengannya ia letakkan dipundak sang adik agar lebih dekat dengannya. Sedangkan sang adik terihat simple denga senyuman khasnya, dan jemari telunjuk dan tengahnya terulur membentuk huruf V.

sang adik tertawa lepas melihat hasil fotonya.

“Kak, setelah ini cetak fotonya lalu pasang satu di kamarku,” pintanya dengan nada manja. “ia akan kakak cetakkan dan memasangnya di dinding ruang tengah agar orang-
orang yang berkunjung dapat melihat bahwa kita sangat tampan, besok kita akan berfoto” ia terkekeh dengan ucapannya sendiri.

Sang adik mangangguk. Ia hanya tersenyum menanggapi perkataan sang kakak.

“Kurasa tidak ada foto lagi kak,” bisiknya dalam hati.

“Kak, bolehkan malam ini kita tidur bersama? Aku sungguh ingin tidur denganmu,” pintanya lagi.

Selain foto bersama, sang adik ingin tidur dengannya malam ini.

“Tidak biasanya ia bersikap seperti ini mungkin ia kelelahan,” pikir sang kak

“Kita akan tidur bersama malam ini.”

Malam itu sang adik tidur memunggungi kakaknya, tubuhnya terbalut selimut hingga menutupi lehernya dan tidak bergerak lagi.

“Mungkin ia sangat lelah,” pikir sang kakak seraya matanya turut terpejam. Sang kakak tidak menyadari sesuatu apapun tentang hal yang tak pernah terduga.

***

Hari demi hari ia lalui lalui seorang diri. Kini tak ada lagi sang adik disampingnya. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi rengekan, tak ada lagi permintaan aneh sang adik kala ia sibuk. Matanya memandang bingkai foto besar yang terpasang di dinding ruang tengah. Fotonya bersama sang adik yang di ambilnya pada malam itu.
Bibirnya bergetar, air mata tak bisa tertahankan mengalir deras dari pelupuk mata.

Ia berjalan ke arah ruangan yang bersebelahan dengan tangga, perlahan ia membuka knop pintu ruangan itu. Ya, itu adalah kamar sang adik. Matanya melihat sekeliling, seketika tertuju pada satu bingkai foto. Itu foto dirinya dengan sang adik satu tahun terakhir, ia berjalan mendekat ke arah nakas lalu menyimpan foto yang sedari tadi ada di genggamannya.

“Ini yang kau inginkan bukan? ku harap kau bahagia disana, aku minta maaf karena tidak bisa lagi bersamamu dan aku menyesal karena tidak banyak meluangkan waktu untukmu,” bisiknya seraya melangkah keluar kamar.

Penulis: Nurul Indah Rahmadani
Editor: Afrilian C Putri

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*