Cerpen “DEE”

Ilustrasi: net

Dee, apa kabarmu malam ini setelah menerobos hujan seusai makan malam diluar sana? apakah baju yang kau kenakan basah akan kenangan-kenangan yang dibawa hujan? jika iya, aku harap kau tidak kedinginan oleh luka yang menyatu dalam hujan dan tersandung cerita purba yang becek yang mampu membuatmu terjatuh dan terluka.

Dee, malam ini aku ingin bercerita kepadamu tentang jeritan tak bernada seorang bocah. Ketika melihat kepala ayah dan ibunya dipenggal di tengah hutan, tentang usus yang terburai dan jantung yang dimakan mentah-mentah. Tentang kuping yang dipisahkan dari tempatnya, tentang batok kepala seorang aparat yang pecah, otaknya terhambur ke jalan. Tentang darah yang keluar dari paha seorang pemuda setelah sebuah peluru yang entah datang dari mana berhasil bersarang di pahanya. Tentang kepala-kepala yang terpisah dari tubuhnya akibat sang empunya tubuh dicap pemberontak dan mengganggu keamanan.

Ah Dee, semua kejadian ini terjadi disini di negeri kita. Kadang aku tak percaya jika melihat keindahan dan ketenangan negeri ini. Tapi ini adalah kenyataan Dee, kenyataan yang telah tertulis dalam sejarah yang entah telah di tambahkan atau dikurangi oleh pihak tertentu. sejak aku mengetahui kelamnya sejarah negeri ini, kadang aku ketakutan dan tak ingin meninggalkan kamarku untuk sekadar berjalan-jalan menikmati gemulainya ombak.

Aku ketakutan, untuk sekadar bertanya kepada pohon samping rumahku tentang kejadian itu. Aku pun takut, sebab yang aku tahu banyak manusia yang setelah dibunuh lalu dikuburkan begitu saja. Diatas kuburan itu ditanami pohon untuk menghilangkan jejak pembunuhnya, aku takut bertanya Dee. Sebab dibawah pohon itu tak menutup kemungkinan ada mayat yang dikubur bertahun-tahun lalu. Mayat-mayat yang entah siapa, tapi yang aku tahu mereka adalah orang yang bersalah yang mengganggu keamanan.

Apakah benar mereka adalah orang-orang yang besalah Dee? Seandainya angin purba yang membawa sejarah itu dapat bicara didepan kita, aku ingin menanyakan kepadanya. Apakah orang-orang yang dikubur dibawah pohon itu benar-benar bersalah atau tidak? Sebab hanya angin purba itulah yang dapat menyingkap tirai pembatas antara kesalahan dan kebenaran sejarah ini.

Dee, sebenarnya kematian itu seperti apa. Apakah kematian itu hanya sekedar mainan anak-anak yang banyak dijajakan dipasar? dapat dibeli dan diberikan kepada siapa saja, sehingga begitu mudahnya mereka memberikan kematian kepada orang yang meraka suka. Begitu mudahnya mereka mengambil kehidupan seseorang. Tanpa mereka sadari, mereka telah membunuh sosok seorang pemimpin yang bisa lahir dari rahim perempuan yang mereka bunuh. Mereka telah membunuh sosok seorang pemimpin yang bisa tercipta dari lelaki yang mereka bunuh.

Apakah dengan membunuh kita dapat menjadi pahlawan atau dijuluki pahlawan? Aku tahu Dee, hidup ini selalu didasari dua hal menang atau kalah. Membunuh atau di bunuh, benar atau salah, aku tahu hidup ini adalah pertempuran dalam pertempuran. Kita bebas memilih senjata apa saja yang akan kita gunakan. Gada, tombak, parang, panah, dan golok.

Tapi apakah kita harus saling membunuh? Apakah tak ada jalan lain selain membunuh? katakan padaku dee, jangan hanya diam aku tak membutuhkan diammu. Aku membutuhkan jawabanmu, jangan seperti suara hujan belakangan ini yang hanya bisa aku dengar tapi tak bisa melihatnya, jangan seperti air mata tanpa tangisan yang selalu kurasakan, Dee…

Penulis: Elvira
Editor: Afrilian C Putri

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*