Cerpen “Cerita Langit” Oleh Faisal Mustafa

ujungceritahati.wordpress.com
Jagad Putra Langit, nama yang tercantum di kartu tanda penduduknya. Langit, begitu dia di panggil. Ia duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Makassar. Berambut cepak, dengan wajah oval di balut kumis tipis yang menawan.

Saat itu dia baru saja selesai membereskan kamarnya yang lumayan besar. Saking besarnya, memungkinkan  bisa memuat tiga keluarga. Jika saja keluarga itu masing-masing hanya punya dua anak, sesuailah dengan program pemerintah. Ia lantas mengambil satu buku catatan harian yang sudah tua, isinya hanya ada beberapa catatan pohon faktor yang belum selesai di kerjakan selebihnya hanya catatan biodata teman SDnya.

Dahulu anak SD biasanya menuliskan biodata temannya yang diisi dengan makanan favorit, minuman, film, pelajaran favorit, dan hal-hal favorit lainya. Salah satunya Adin, teman yang ia kenal sejak di Taman Kanak-kanak (TK). Anak tentara yang penakut dengan kegelapan, taruh saja dia di kamar mandi lalu matikan lampunya, dia pasti menjerit seperti orang kesurupan .

Langit tinggal di salah satu permukiman padat penduduk yang setiap tahun ada saja pejabat pemerintah yang ingin menggusur kawasan tersebut. Rumah Langit berada di Jl. Pandang Raya No 12, rumah sudut sebelah kanan samping tiang listrik. Bergaya arsitektur klasik dengan model semi permanen. Halamannya cukup luas, bisa digunakan untuk bermain basket.

Langit lahir dalam keluarga yang makmur, damai, dan sentosa. Ayahnya keturunan arab, ibunya keturunan sunda. Langit sendiri terdampar di Ujung Pandang. Dulu kota  Makassar bernama Ujung Pandang sebelum negara api menyerang hahaha, karena ayahnya seorang Komandan Militer Angkatan Udara yang harus berpindah-pindah tempat dikarenakan tugas negara yang diemban.

Setelah selesai ia memanaskan mesin Vespa px exclusive miliknya yang ia beli dari hasil judi dingdong. Yah, langit memang pejudi yang beruntung, ia tak perlu sesajian aneh ataupun mandi kembang tengah malam seperti lagu dangdut yang merdu itu. Dengan jaket Jeans lusuh yang bisa di bilang hanya ada satu di bumi dan itu adalah jaket yang sudah menemani hidupnya selama 4 tahun. Hadiah ulang tahun dari Kakeknya yang juga seorang Tentara.
Kemudian dia memacu Vespa bercat hitam itu membuat polusi di kota Daeng yang akhir-akhir jadi trending topik di media oleh ulah geng motor. Langit menuju Benteng Rotterdam, karena sudah ada janji dengan adin si gendut penakut.

“Oii ndut,” teriak langit. “Akhirnya datang juga dewa judi kita,” balas Adin .

“Ada apa? mau taruhan presiden berpakaian apa hari ini?” sindir Langit.

Kemarin Adin bertaruh hal bodoh mengenai pakaian presiden hari ini. “Dasar pesut ancol!! segala pakaian presiden di urusi, ingus noh lap dulu,”  kesah Langit .
Benteng Roterdam sudah jadi tempat akrab kaum muda-mudi kota ini. Dahulu tempat ini dijadikan sebagai tempat anak-anak sepeda  menunjukkan kebolehannya. Sekarang oleh pemerintah kota, lokasi ini dirombak dan ditata ulang. Istilahnya di percantik seakan seperti Mpok Nori yang diubah jadi lebih muda 35 tahun.

Sore itu segerombolan pengamen mendatangi mereka. Tiba-tiba saja dia menghantamkan gitar diwajah Adin. “Ada apa ini? Ada masalah apa?” tanya Langit dengan kepalan tangan yang siap menyerang balik. “Kemarin kau yang berboncengan dengan Linda!” sahut pria tinggi dengan posisi paling depan saat itu.

“ Ada apa ini? siapa Linda? Dan apa hubungannya dengan Adin? ucapnya dalam hati.

Langit mengangkat Adin yang sudah tersungkur berkat hantaman gitar dari pria yang menyoalkan Linda dan hubungannya dengan Adin. Adin segera di angkat tapi sangat berat. Mana mungkin 80 kg bisa diangkat oleh tubuh seberat 60 kg kecuali ada jin botol dalam tubuhnya.

Saat itu Rumah Sakit terdekat hanya Stella Maris yang berhadapan langsung dengan Pantai Losari. Wajah Adin berlumuran darah, Langit dibantu beberapa orang yang kebetulan ada di sekitar lokasi. Adin pingsan sementara pengamen yang menghantamkan gitar itu lari. “Dasar pengecut, siapa Linda? Ahh sudahlah nanti saja itu,” gumam Langit dalam hati.

Tak butuh waktu lama kami sampai di rumah sakit. Adin masih belum sadar, dokter menyuruhku untuk tidak ikut masuk di ruang IGD. Langit bergegas ke bagian administrasi rumah sakit, biaya rumah sakit Langit yang tanggung. Langit memang punya solidaritas yang tinggi, maklum didikan militer tertanam dalam dirinya.
Kemudian dia baru sadar handphonenya raib. Hari itulah Langit si pejudi beruntung kena sial. Beruntung dompetnya yang ia simpan di saku jaket lusuhnya aman.

“Maaf anda keluarganya?” ucap dokter yang tiba-tiba sudah ada di belakang Langit.

“Bukan saya temannya dok,” jawab langit setelah urusannya dengan pihak administrasi selesai.

“Teman anda kehilangan banyak darah, sedangkan persedian golongan darah O kami tak mencukupi,” ucap dokter dengan wajah sesal.

Tiba-tiba wajah Langit tak secerah langit senja Losari. “Iya dok terima kasih, saya sedang mencoba menghubungi keluarganya,” jawab Langit dengan muka yang mulai depresi.

Bagaimana tidak, Adin hanya seorang diri di kota ini, Ayahnya sedang bertugas di hutan Kalimantan. Sedang Ibunya sudah lama bercerai dengan Ayahnya, dan kabarnya dia sudah menikah lagi. Langit tertunduk lesu di kursi tunggu pada sudut ruang IGD rumah sakit. Saat itu ada suara hentakan sepatu seperti orang berlari mendekat ke arah Langit. Tak disangka seorang wanita berhak tinggi dengan gaun merah menyala seperti orang yang baru pulang ibadah di gereja berada didepannya. “Cantiknya!” Langit tercengang.

“Kamu siapa?” tanya Langit.

“Aku Linda, Adin mana? tadi kami janjian bertemu di Benteng Roterdam, tapi kata orang-orang dia dibawa kesini,” kata wanita berkacamata itu dengan wajah panik.

“Oh kamu yang namanya Linda! tadi kami tiba-tiba di serang sekelompok pengamen lalu dia menghantamkan gitarnya ke wajah Adin, dia di ruang IGD. Dokter melarang untuk menemuinya,” Jelas Langit.

“Adin kehilangan banyak darah, dia membutuhkan golongan darah O secepatnya,” tambahnya.

“Aku golongan darah O, biar aku saja yang mendonorkan darahku padanya,” ucap Linda spontan.

Langit bergegas menuju dokter dan memberi tahu bahwa Linda mau mendonorkan darahnya. Ketika itu perasaan Langit mulai lega. Beberapa polisi datang dan di belakangnya ada pengamen tadi. Tak lama berselang Linda keluar,dan tiba-tiba “duarr” Linda menampar pipi Randi, nama pengamen sok jagoan itu.

“Penjarakan saja dia pak!!” teriak Linda.

Randi hanya menundukkan kepala, meratapi kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Seminggu berselang Adin mulai membaik, Linda dan Adin adalah saudara sepupu, dia telah menceritakan semuanya kepada Langit. Sedangkan Randi si pengamen menebus kesalahannya di Rumah Tahanan Gunung Sari, biar dia bisa jera dan bisa menahan emosinya.

*Penulis adalah salah satu mahasiswa semester empat jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*