Muhammad Fadil: Menghafal Al-Qur’an Tidak Sulit

Muh Fadil Asri
Washilah–Muhammad Fadil Asri, remaja kelahiran Tinambuan, kota kecil yang berada di Provinsi Papua 18 November 1995 silam ini adalah satu dari beberapa penghafal 30 Juz yang berkuliah di UIN Alauddin Makassar saat ini. Anak dari pasangan H Isyad dan Hj Saidah ini punya pengalamannya menarik saat ia mulai menghafal Al-Qur’an.
Fadil begitulah remaja ini akrab disapa mulai menghafal sejak kelas dua Aliyah tepatnya di Bulan Desember 2010 dan mampu menyelesaikan 30 juz pada tanggal 12 Desember 2012 Hingga akhirnya diwisuda sebagai seorang Hafidz 30 Juz di Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mangkoso, kabupaten Barru. 
Kepada Washilah Fadhil mengaku tidak pernah tertarik menghafal Al-Qur’an karena menjadi seorang hafidz ia anggap tidaklah mudah. Namun, siapa sangka, berawal dari telephon kedua orang tuanya yang menyarankannya bergabung di Grup Hafidz Al-Qur’an di sekolahnya dulu. 
“Jadi, orang tua itu menelfon menyuruh bergabung, beliau bilang dicoba saja kalau tidak bisa tidak perlu di teruskan, tapi dari balik telephon itu orang tua saya menangis. Artinya beliau sangat mengharapkan saya benar-benar bisa menjadi seorang penghafal” kenang fadil siang itu.  Senin (03/11)
Dengan modal Shalat Tahajjud, Fadil akhirnya bergabung di grup hafidz dan mulai fokus dengan hafalannya. Terbukti dengan kesungguhan serta keuletannya Ia mampu menghafal Surah Ali-Imran hanya dengan kurun waktu dua hari. 
Ia juga bercerita bahwa dirinya dapat menghafal hanya lewat mimpi tanpa ada proses menghafal sebelumnya. “Waktu itu hafalan saya memang di surah Ar-Rahman namun rencana baru akan memulai muroja’ah setelah shalat tahajjud namun malam itu saya sempat bermimpi didatangi seorang syekh berjubah putih dan menyuruh saya bangun dan berwudhu, kemudian shalat tiga rakaat, singkat cerita saya pun terbangun dan mencobanya,” ungkap Fadil.
Usai mencobanya, Fadhil meminta salah seorang teman untuk menyimak hafalannya. “saya benar-benar tidak percaya bisa mnghafalnya dan itu hal terdahsyat yang pernah saya alami ketika menghafal dulu,” cerita Fadil menggebuh-gebuh.
Ditengah kesibukannya, mahasiswa jurusan Ilmu Hukum ini selalu menyediakan waktu menyimak hafalan agar tidak lupa. 
“Karena sebenarnya meghafal itu tidaklah sulit hanya mempertahankan yang susah dan itu memang diucapkan juga oleh sahabat Rasul, jadi sedini mungkin saya harus menjaga apalagi saya sudah berada di ruang lingkup yang berbeda ditambah dengan tugas-tugas kampus jadi sepintar-pintarnyalah membagi waktu dan tetap mengupayakan menyimak setiap habis shalat,” ucap Anggota Forum Mahasiswa DDI Mangkoso (Fosmadim) tersebut. 
Diakhir perbincangannya Fadil juga menitipkan pesan untuk seluruh mahasiswa UIN Alauddin agar kiranya belajar mengaji bagi yang belum bisa. Menurutnya, sangat disayangkan Universitas yang berbasis Islam, tidak ada alasan untuk tidak bisa megaji. 
“Saya hanya berharap universitas dapat memberikan media dan penanganan khusus dalam hal Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) kapada seluruh mahasiswa UIN dan kalau perlu diinapkan seperti Caracther Building Treaner (CBT)”, tambah Anak pertma dari tiga bersaudara itu.
Tidak sampa disitu, Fadil kembali manambahkan bahwa selama seseorang tidak mencintai Al-Qur’an maka akan sulit baginya dicintai pula oleh Al-Qur’an. “Selama ada Kemauan pasti ada jalan. Man jadda wajada!! Layugayyiru bii kaumin hatta Yugayyiruma bii anfusihim.” Tutupnya siang itu.
Laporan | Rahmawati Idrus

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*