“Kabar Untuk Ibu” Puisi oleh Saefullah

Kabar Untuk Ibu

Ibuu, betapa capek dan lelahnya engkau menggendongku.
Sembilan bulan aku dalam kandungan bersamamu.

Ketika dilahirkan, aku mendengar ditelinga kanan dan telinga kiriku gema suara adhzan serta iqamah.

Kasih sayangmu menyertai kehadiranku sehingga dirimu tak mengenal waktu capek, kau selalu ada disampingku ibu.

Engkau tak mengenal apa dan siap, semua yang mengganggu kenyamanan hidupku selalu kau jaga.

Dan tidak kurangnya dua puluh empat bulan membuai aku dan dua puluh empat bulan engkau menyapiku.

Oh…ibu. Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, ibu mengantarkanku duduk dibangku SD-SMP-SMA sampai perguruan tinggi.

Ibu berharap semoga aku mendapat bekal ilmu pengetahuan, sesuai bisikan ditelinga kanan dan telinga kiriku semasa aku dilahirkan.

Ibu, sekarang aku sudah dewasa dan duduk dibangku kuliah bersama pengorbananmu, namun aku belum bisa membahagiakanmu.

Kehidupanku ditata dengan segala macam aturan liberal, poya-poya, hura-hura tanpa memikirkan bisikan yang pernah didengungkan oleh ibu di telingaku dimasa kecilku.

Ibuuu… Kini baru aku sadari setelah usia menuntut  masa depanku yang suram, dan engkau mencari semua harapan yang kau titipkan ketika aku masih kecil dulu ibu.

Seiring waktu berjalan, engkau melepas kepergianku dahulu, untuk kuliah di satu perguruan tinggi, meninggalkan rumah di kampung dengan harapan menuai prestasi kesuksesan yang didambakan ibu.

Namun, kepergianku yang hingga saat ini kian membisu tak mampu menjawab waktu yg engkau berikan padaku dahulu ibu.

Betapa nistanya aku menyia-nyiakan waktu yang telah engkau berikan untuk hadir di meja kuliah, selang dua semester ini ibu.

Aku hanya mampu membawa tangis dan secerca sedih, kesal membuang-buang waktu yang kau berikan padaku dahulu Ibu.

Maafkan aku, Hingga saat ini aku belum mampu memberikan yang terbaik buat Ibu.

Jujur ibu.., untuk kali ini aku sangat berat meminta maaf pada ibu, karena Aku tau, Ibu tak mungkin lagi memaafkan aku, sebab kata maafku sudah banyak menodai perasaan ibu.

Saefullah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*